Minggu, 14 November 2010

PESANTREN GRATIS


Senin, 25 September 2006
SEMARANG
Line

PASANAN

Pesantren Soko Tunggal Santrinya Tak Dipungut Biaya

DILIHAT dari sisi usia, Pesantren Soko Tunggal boleh dikata muda. Pesantren yang beralamat di Jalan Sendangguwo Raya No 36-43 itu baru berdiri pada 1997. Tapi jangan tanya soal nama, karena tak kalah dengan pesantren-pesantren lama di Semarang lainnya.
Kemunculan, pesantren itu tak lepas dari sepak terjang pendiri sekaligus pengasuhnya KH Nuril Arifin atau akrab disapa Gus Nuril. Pada saat kedudukan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tengah digoyang parlemen, kiai muda berambut ikal panjang itu segera pasang badan. Dia memaklumkan diri sebagai panglima Pasukan Berani Mati (PBM) dan menjadikan Pesantren Soko Tunggal sebagai basis pertahanan.
Pesantren Soko Tunggal, kata Kisno Tantowi, seorang pengurus, berawal dari tekad Gus Nuril saat didera penyakit kanker ganas. Dalam kepasrahan, dia melakukan perjalanan spiritual, mengunjungi makam-makam ulama besar serta kiai-kiai kharismatik yang ada di Jawa. Perjalanan itu menerbitkan semacam nazar.
''Suatu ketika, Gus Nuril bertemu dengan seorang bernama Mbah Abdul Majid bin Suyuti. Dia diminta melakukan salat kasful mahjub atau salat untuk membuka hati selama 40 hari. Dari situlah Gus Nuril mendapat amanat untuk mendirikan pesantren,'' ungkap Kisno.
Tanah Wakaf
Kebetulan, seorang bernama H Ali mewakafkan tanah miliknya seluas 3.000 m2. Gayung bersambut. Gus Nuril lantas membangun sebuah masjid bertiang satu (soko tunggal) di atasnya. Perlahan-lahan bertambah dengan asrama santri, dan bahkan kini sebuah kampus akademi kebidanan. ''Awalnya, ini adalah pesantren riyadloh, tapi sejak 1998, mulai menerima santri mukim (santri tetap)''.
Saat ini, pesantren itu memiliki 60-an orang santri, putra dan putri. Mereka setiap hari menerima pelajaran tahfidzil quran dan belajar kitab-kitab salaf. Di antaranya Tafsir Jalalain, Kitab Jurumiyyah dan Imrithi (nahwu sharaf), Fathkhul Qarib, Fat'ul Muin, dan Sulam Taufiq (fiqih). Dalam mendidik santri, Gus Nuril dibantu oleh Kiai Masnun Rosyid Alhafidz dan Kiai Abdullah Adib.
Selain santri mukim, Soko Tunggal juga banyak menerima puluhan santri kalong (santri yang belajar pada waktu tertentu). Ketertarikan para santri ngaji di pesantren itu, salah satunya karena tidak sepeser pun dipungut biaya. (Rukardi-62)


Senin, 19 Desember 2005
NASIONAL


Ponpes Multiagama Soko Tunggal

Meningkatkan Kerukunan Antaragama


PRASASTI SOKO TUNGGAL: Gus Dur dan tokoh-tokoh agama berfoto bersama di depan Prasasti Soko Tunggal yang telah mereka tandatangani. Penandatanganan itu menandai berdirinya pesantren multiagama di Kelurahan Purwosari, Mijen. (30j) - SM/Saptono JS


SEMARANG - Bertolak dari misi menjaga kesatuan bangsa dan kerukunan hidup antarumat beragama, Forum Keadilan dan Hak Asasi Umat Beragama (Forkhagama) mendirikan pesantren multiagama Bhinneka Tunggal Ika.
Bertempat di Pondok Pesantren Soko Tunggal Jl Sendangguwo Raya, Sabtu petang kemarin, pemancangan Prasasti Deklarasi Soko Tunggal ditandatangani Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Tokoh-tokoh agama yang turut menandatangani prasasti berasal dari agama Islam, Hindu, Budha, Kristen, Katolik, dan Khonghucu.
Selain Gus Dur, hadir mantan Pangdam IV Diponegoro Jendral TNI Tyasno Sudharto yang mewakili umat Islam serta perwakilan dari China dan Korea.
Menurut Gus Dur, pesantren tersebut diharapkan bisa memberikan kebaikan bagi masa depan bangsa. "Yang terpenting, menjaga kerukunan antaragama itu tugas semua agama tanpa pandang bulu. Jangan lagi membeda-bedakan agama, ras maupun kesukuan agar negara bisa maju," paparnya.
Gus Dur yang diangkat sebagai Bapak Tionghoa Indonesia itu berharap semua pihak bisa membantu menyukseskan pembangunan pesantren, agar tercipta kerukunan dan antarumat beragama tidak saling melakukan intervensi.
Persatuan
Menurut Ketua Forkhagama KH Nuril Arifin atau yang biasa disebut Gus Nuril, pesantren didirikan dengan tujuan menciptakan persatuan di Indonesia. Pesantren multiagama itu akan dibangun di atas tanah seluas 9.000 m2 di Kelurahan Purwosari, Mijen yang merupakan tanah wakaf Gus Nuril.
Rencananya, di kompleks itu akan didirikan rumah zikir, mandala-mandala, dan tempat berdoa sesuai dengan agama masing-masing.
Di tengah pesantren yang berada tak jauh dari tempat wisata Sodong itu, akan dibangun sebuah hall yang akan digunakan untuk pertemuan antarumat beragama.
Dia berharap, pembangunan masing-masing tempat ibadah bisa diselesaikan bersama-sama. "Kami berharap, agama yang memiliki dana besar bisa membantu pembangunan tempat ibadah yang lain sehingga tidak terjadi ketimpangan,"ungkapnya.
Dengan pembangunan tersebut, Gus Nuril berharap tercipta kebersamaan antarumat tanpa intervensi dari masing-masing agama yang ada di Indonesia.
Gus Nuril mengatakan, pembangunan pesantren sangat penting untuk menghindarkan diri dari skenario Amerika Serikat yang berusaha memecah belah Indonesia menjadi 27 negara. Salah satu cara yang dipakai Amerika adalah mengadu domba antarumat beragama.
"Selama ini yang terjadi, orang-orang Tionghoa selalu menjadi korban. Pesantren ini akan menjadi monumen internasional karena merupakan satu-satunya di dunia. Dengan demikian, kita bisa menunjukkan kerukunan antarumat pada sesama maupun dunia," tandasnya.
Selama ini, friksi-friksi antaragama muncul karena tidak ada kesepahaman di antara umat beragama itu sendiri. Dalam waktu dekat, tokoh-tokoh Forkhagama akan mengunjungi China, Korea, dan Jepang atas permintaan umat beragama dari negara-negara tersebut. Menurut Gus Nuril, hal itu menunjukkan bahwa dunia mempunyai kepedulian besar terhadap kerukunan umat di Indonesia. (sjs-11m)






UMAT BUDDHA JADIKAN IDULFITRI SEBAGAI MOMENTUM PERDAMAIAN
PDF
Print

30-10-2006
Semarang, 25/10 (Pinmas) - Bagi umat Buddha, suasana Idulfitri 1427 Hijriah merupakan momentum untuk menggalang keharmonisan, persatuan, dan perdamaian. "Untuk itu, kami datang bersilaturahmi dengan saudara serta sahabat

yang beragama Islam," kata Pandita D. Henry Basuki seusai melaksanakan silaturahmi bersama pemuka lintas agama di Pondok Pesantren (Ponpes) Soko Tunggal, Semarang, Rabu. Acara tersebut dihadiri pemuka agama yang tergabung dalam Forum Keadilan dan Hak Asasi Umat Beragama (Forkhagama).
Selain Pandita D. Henry Basuki, B.A. dan Ninik Lesmanati dari agama Buddha, terlihat Pendeta Z.S. Djoko Purnomo, S.Th., Pendeta Gunarto, Dra. Lena Pudjiastuti (Kristen), Prof. Dr. A. Widanti, S.H. (Katolik), Dr. I Wayan Sukarya D., dan Dra. Sri Rahayu Dewa (Hindu).

Lebih lanjut Pandita Henry Basuki mengatakan, tujuan silaturahmi ini benar-benar membawa keakraban antarpemeluk agama yang berbeda dalam merayakan hari rayanya masing-masing. "Bila karena terbatasnya waktu dan kesempatan menjadikan kita jarang bertemu, silaturahmi ini merupakan aktivitas yang meluangkan waktu untuk bertemu demi saling menghormati saudara berbeda agama yang merayakan hari rayanya," katanya. Sementara itu, pengasuh Ponpes Soko Tunggal, K.H. Dr. Nurul Arifin, MBA yang juga Ketua Forkhagama mengatakan, dirinya rindu akan kebersamaan.

"Kunjungan Natal bagi pemeluk agama Nasrani, kunjungan Nyepi untuk pemeluk agam Hindu, kunjungan Waisak untuk pemeluk agama Buddha, dan sebagainya perlu dibudayakan di tengah masyarakat," katanya. Ia mengemukakan, dengan adanya sikap saling menghargai, maka semua pihak dapat duduk dalam suatu "majelis" untuk menyelesaikan masalah yang timbul.

Nurul Arifin berharap Forkhagama dapat menjembatani saling pengertian antarpemeluk agama yang ada di Indonesia, sehingga tercipta kerukunan, baik intern dalam umat beragama itu sendiri maupun kerukunan antarumat beragama. "Bila ada masalah, Forkhagama siap untuk menyelesaikannya," katanya. Dengan demikian, lanjut dia, diharapkan meningkatnya institusi yang menggabungkan diri dalam Forkhagama, sehingga perdamaian dalam Negara Kesatuan RI benar-benar terwujud untuk menanggulangi kemungkinan penyusupan dari pihak "luar" yang bertujuan memecah belah bangsa.


Gus Dur Resmikan Ponpes Taman Hati Abdurahman Wahid


Jakarta, gusdur.net
Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) meresmikan berdirinya Pondok Pesantren Taman Hati Abdurrahman Wahid di Rawamangun, Jakarta, Kamis (2/11/2006).
Pesantren yang pendiriannya dirintis sejak setahun silam, merupakan cabang Pondok Pesantren An Nuriyah Soko Tunggal I yang ada di Semarang Jawa Tengah. Keduanya di bawah asuhan KH Nuril Arifin (Gus Nuril).
“Nama Abdurrahman Wahid itu yang ngasih Gus Dur sendiri. Menurut Gus Nuril, di pesantren yang baru dilaunching ini, sedikitnya telah ada 213 santri yatim dan 65 non yatim. “al-Hamdulillah, yang yatim kita biayai. Untuk sekolah, mereka masih sekolah di luar pesantren,” ujarnya.
Dikatakan Gus Nuril, melalui pesantren yang berdiri di atas tanah seluas 2500 meter ini, dirinya ingin mengembangkan Islam ala Indonesia sesuai yang dikembangkan Gus Dur selama ini. “Semua orang dari agama apapun bisa belajar di pesantren ini,” imbuhnya.
Di sela acara peresmian itu, Gus Dur kembali menegaskan tragedi Poso yang dikait-kaitkan dengan konflik antar agama bermula dari perebutan tanah seluas 250 hektar antara beberapa pejabat.
“Setahu saya, di Poso ada kasus rebutan tanah seluas 250 hektar yang dijadikan kebun cokelat. Yang rebutan itu pejabat di Jakarta dengan pejabat di daerah. Saya nggak tahu, kenapa kok bisa berkembang menjadi kasus SARA,” kata Ketua Dewan Syura DPP PKB itu.
Gus Dur berharap, pemerintah berani tegas dan lekas menyelesaikan masalah ini. “Hanya dengan ketegasan dan keberanian, kasus ini bisa diselesaikan. Tangkap seluruh pelaku pembunuhan dan pengrusakan,” pintanya. “Sayangnya, polisi kok tidak berani bersikap tegas,” imbuhnya.


Gus Dur Resmikan Ponpes Taman Hati Abdurahman Wahid


Jakarta, gusdur.net
Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) meresmikan berdirinya Pondok Pesantren Taman Hati Abdurrahman Wahid di Rawamangun, Jakarta, Kamis (2/11/2006).
Pesantren yang pendiriannya dirintis sejak setahun silam, merupakan cabang Pondok Pesantren An Nuriyah Soko Tunggal I yang ada di Semarang Jawa Tengah. Keduanya di bawah asuhan KH Nuril Arifin (Gus Nuril).
“Nama Abdurrahman Wahid itu yang ngasih Gus Dur sendiri. Menurut Gus Nuril, di pesantren yang baru dilaunching ini, sedikitnya telah ada 213 santri yatim dan 65 non yatim. “al-Hamdulillah, yang yatim kita biayai. Untuk sekolah, mereka masih sekolah di luar pesantren,” ujarnya.
Dikatakan Gus Nuril, melalui pesantren yang berdiri di atas tanah seluas 2500 meter ini, dirinya ingin mengembangkan Islam ala Indonesia sesuai yang dikembangkan Gus Dur selama ini. “Semua orang dari agama apapun bisa belajar di pesantren ini,” imbuhnya.
Di sela acara peresmian itu, Gus Dur kembali menegaskan tragedi Poso yang dikait-kaitkan dengan konflik antar agama bermula dari perebutan tanah seluas 250 hektar antara beberapa pejabat.
“Setahu saya, di Poso ada kasus rebutan tanah seluas 250 hektar yang dijadikan kebun cokelat. Yang rebutan itu pejabat di Jakarta dengan pejabat di daerah. Saya nggak tahu, kenapa kok bisa berkembang menjadi kasus SARA,” kata Ketua Dewan Syura DPP PKB itu.
Gus Dur berharap, pemerintah berani tegas dan lekas menyelesaikan masalah ini. “Hanya dengan ketegasan dan keberanian, kasus ini bisa diselesaikan. Tangkap seluruh pelaku pembunuhan dan pengrusakan,” pintanya. “Sayangnya, polisi kok tidak berani bersikap tegas,” imbuhnya.



PBNU Berangkatkan Lagi 25 Guru Pesantren ke Inggris
Senin, 27 Agustus 2007 20:22
Jakarta, NU Online
Sebagai bagian dari peningkatan SDM di pesantren, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kembali mengirimkan 25 guru pesantren untuk belajar manajemen pendidikan di Leeds University Inggris.

Ketua PBNU Urusan Luar Negeri HM Rozy Munir menjelaskan bahwa rombongan yang berangkat pada Februari 2008 ini merupakan grup terakhir dari total 100 orang yang berangkat sejak tahun 2005 lalu. Program ini merupakan hasil kerjasama antara PBNU, Kedutaan Inggris di Indonesia dan British Council Indonesia.
Selanjutnya setelah program ini selesai, kerjasama dengan pemerintah Inggris tetap dilakukan, namun lebih pada upaya peningkatan kemampuan para guru bahasa Inggris yang ada di pesantren.
Seperti grup-grup sebelumnya, mereka akan berada di Inggris selama 1 bulan, dan selanjutnya mereka akan mensosialisasikan pengetahuan yang mereka miliki di sekolah dan pesantren disekitarnya.
“Kita harapkan kunjungan ke Inggris ini semakin melengkapi SDM NU baik yang datang dari Timur Tengah dan Eropa sehingga bisa terjadi perpaduan guna membangun NU. Mereka kita harapkan bisa menjadi pemimpin NU dimasa depan,” tambahnya.
Rombongan kali ini juga mewakili pesantren dari seluruh Indonesia, mulai dari Nias, Batam, Mamuju sampai ke Ambon. 17 orang laki-laki dan 8 orang perempuan dengan usia antara 25-35 tahun.
Berdasarkan hasil seleksi yang dilakukan oleh PBNU dengan British Council, berikut nama-nama yang lolos untuk berangkat ke Inggris.
1. Agus Salim dari PP Darul Falah Batam Kepulauan Riau
2.
Duratun nafisah dari PP Kauman Karang Turi Lasem Rembang Jateng
3. Murdina Dewi Anggraeni dari PP Darussalam Kalimantan Selatan
4. Sayfrida dari PP Putri Umi Kulsum Nias Sumatra Utara
5. Heri Heryanto Azumi dari PB PMII Jakarta
6. Achmad Izzuddin dari PP Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo
7. Makdum Ibrahim dari PP At Adhiyah Kendari
8. Candra Bonny dari PP Al Madinah Batu Merah Ambon
9. Qotrunnada dari PP At Thahiriyah Jakarta
10. Siti Khofifah dari YPI Al Barkah Jakarta
11. Idy Muzayyad dari PP IPNU Jakarta
12. Aufal Maron dari PPTQ Miftahul Huda dari Kaliwungu Kendal Jateng
13. Aisyah dari PP Syaikhona Kholil Sepinggan Balikpapan
14. Gunawan Mansur dari PP Al Khairat Ternate
15. Sumarni dari PP Al Amin, Darud Da’wah wal Irsyad Mamuju Sulbar
16. Salamah Agung dari PP Babakan Ciwaringin Cirebon
17. Riska Aprian dari PP Assyafiiyah Jakarta
18. M. Nova mahendra dari PP Soko Tunggal Semarang Jateng
19. Asep Saefullah dari PP Ummul Quro Bogor
20. Abdul kadir Jeilani dari PP Al Quran Raudhatul Huffadz Tabanan Bali
21. Ika Nurmalia Dewai dari Yayasan Al Muttaqien Pancasila Sakti Karanganom Klaten Jateng
22. Didik Suardi dari PP Unggul Al Bayan Sukabumi
23. Dandan Mudawalfalah dari PP Al Ittifaq Alamandah Rancabali Bandung
24. Kairullah dari PP Darul Amin Sampit Kalimantan Tengah
25. Nurudin dari PP Al Kautsar Tembokrejo Muncar Banyuwangi.
(mkf)

« Kembali ke arsip Warta
Selasa, 20 Mei 2003
Arsip
Gus Nuril: "Saya Siap Kenalkan PK di Ponpes-ponpes Nahdliyin"
Keadilan Online, KH Nuril Arifin, mantan Panglima Pasukan Berani Mati (PBM) di era Gus Dur menyatakan siap untuk mengenalkan Partai Keadilan (PK) di lingkungan Ponpes Nadhliyin. PK dinilai merupakan partai yang benar-benar mengemban perjuangan Islam secara kaffah.
"Insya Allah saya siap membawa PK ke pesantren-pesantren. Agar PK tak hanya besar di lingkungan kampus saja, tapi juga pada warga Nadhliyin," Gus Nuril, panggilan akrabnya, saat mengundang Dr Hidayat Nur Wahid beserta rombongan DPW PK Sejahtera Jateng ke Ponpesnya, "Soko Tunggal" di Semarang, Kamis (15/5).
Hidayat yang didampingi antara lain oleh Ketua DPW PK Jateng, Muhammad Haris SS dan Ketua DPW PK Sejahtera Jateng, Joko Widodo diundang berkunjung ke Ponpes tersebut seusai menghadiri deklarasi PK Sejahtera Jateng.
Gus Nuril mengaku kecewa dengan partai-partai yang berlabel Islam saat ini. Partai-partai tersebut dinilainya tidak mampu memperjuangkan aspirasi umat. Hal ini berbeda dengan apa yang ditampilkan oleh PK. "Saya melihat partai yang dipimpin oleh Mas Dayat ini membawa kesejukan. Massanya santun, intelek dan kalau demo tertib sekali," tandasnya.
Mengharukan
Suasana silaturahmi sendiri berlangsung sedikit mengharukan. Gus Nuril yang baru pertama kali bertatap langsung dengan Dr Hidayat, langsung merangkul pria asal Klaten tersebut. Matanya terlihat berkaca-kaca dan selama beberapa saat tak bersuara. Berkali-kali tanganya mengusap ke mukanya yang sudah mulai berair.
Keduanya duduk bersimpuh berdampingan di dalam mesjid ponpes tersebut. Kemudian setelah situasi agak tenang, barulah Gus Nuril membuka pembicaraan. Pimpinan ponpes Soko Tunggal tersebut sangat senang Dr Hidayat bisa memenuhi undangannya.
Gus Nuril mengaku berkali-kali dirinya dihubungi dan dikunjungi para tokoh-tokoh penting dari Jakarta. Baik tokoh-tokoh sipil maupun militer, namun dirinya tidak bisa berharap banyak kepada mereka untuk memperbaiki kondisi bangsa ini. Dr Hidayat dinilainya sebagai tokoh dan guru bangsa yang bisa membawa Indonesia menuju perubahan.
"Untuk terjadinya revolusi di Indonesia memerlukan 24 syarat. Semuanya sudah terpenuhi, kecuali satu hal. Yakni adanya tokoh yang kuat. Dan tokoh itu sekarang sudah ada di sini," tandasnya sambil melirik ke arah Dr Hidayat. Gus Nuril mengharapkan Presiden PK tersebut dapat menjadi lokomotif kemajuan bangsa.
Di penghujung acara, Gus Nuril memimpin doa agar perjuangan Dr Hidayat dan PK dalam dakwah selalu dilindungi oleh Allah. Dalam doa yang penuh kekhusyuan itu, pecahlah tangis Gus Nuril dan para rombongan yang hadir saat itu. Suasana diliputi oleh keharuan yang mendalam.
Sebelum rombongan meninggalkan Ponpes, Gus Nuril sempat memberikan kenang-kenangan kepara Dr hidayat. Yakni salah satu cincin akik kesayangan yang sedang dipakainya.
Dukungan Meluas
Dalam rangkaian acara deklarasi ini, DPW PK Jateng memang melakukan agenda pendekatan dengan tokoh-tokoh masyarakat. Humas DPW PK, Tourmalina TN, menjelaskan setidaknya ada empat agenda kegiatan serupa. Yakni acara "Temu 100 Tokoh Se-Jateng", silaturahmi ke Ketua Dewan Syura Nasional Jama'ah Thariqah Rifaiyah, KH Ali Munawir di Kendal, ke Gus Nuril dan ke Majelis Tafsir AlQur'an (MTA) Solo.
"Alhamdulillah, upaya pendekatan tersebut mendapatkan respon positip. Dalam acara temu 100 tokoh misalnya, hadirin yang datang begitu antusias mendengarkan paparan dari Dr Hidayat untuk mengembangkan PK di Jateng. Bahkan banyak yang meminta agar Dr Hidayat agar mengunjungi kota dimana mereka tinggal," kata perempuan lulusan Public Relations Undip ini.
Sementara dari hasil kunjungan silaturahmi juga membawa hasil yang menggembirakan. Tourmalina menuturkan, pada kunjungan ke jama'ah Thariqat Rifa'iyah, KH Ali Munawir menyambut baik dakwah yang diemban PK. Dan mempersilahkan PK untuk bersilaturahmi langsung ke para pimpinan Rifaiyah di seluruh Indonesia untuk tindak lanjutnya.
"Setidaknya jama'ah ini mempunyai 11 juta massa fanatik di seluruh Indonesia. Basis utamanya ada di Jawa Tengah," jelasnya. [Agung, SB, Komjar DPW PK Jateng]
BURSA CALON GUBERNUR JAWA TENGAH ; Kalangan Kiai Pondok Dukung Pangdam 24/11/2007 10:27:16 
SEMARANG (KR) - Sikap terbuka Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Agus Soeyitno yang menyatakan siap dicalonkan sebagai Gubernur Jateng, mengundang respons kalangan kiai pondok di Jawa Tengah. Menurut pengasuh Ponpes Annuriyah Soko Tunggal Semarang, Gus Nuril, saat ini kalangan kiai pondok sudah banyak membahas tentang dukungannya untuk jenderal berbintang dua tersebut.
Menjawab pertanyaan KR di Ponpesnya Jl Sendangguwo Raya 36 Semarang, Gus Nuril mengatakan, para kiai pondok pesantren menaruh respek dan memberi tangan terbuka untuk Pangdam IV/Diponegoro. Sosok Mayjen TNI Agus Soeyitno dinilai tepat untuk memimpin Jawa Tengah 2008-2013. ”Pak Agus dinilai memiliki kriteria yang dipatok para kiai pondok pesantren di Jateng,” tandasnya. Beberapa kriteria itu misalnya komitmen terhadap NKRI dan memiliki jiwa pemersatu umat.
Di bawah kepemimpinan tentara, maka akan semakin mengokohkan sejarah  perjuangan para pendahulu yang telah mendirikan bangsa ini, yakni bersatunya ulama dan tentara.
Menurut Gus Nuril, dukungan yang kuat dari kalangan kiai pondok pesantren itu juga dipicu oleh sikap Gus Dur yang sudah memberi sinyal dukungan terhadap Agus Soeyitno. Bahkan Gur Dur juga telah menitipkan pesan kepada Gus Nuril tentang sikap dukungannya. Hal tersebut juga dipertegas oleh dukungan mantan KSAD Jenderal TNI Tyasno Sudarto yang disampaikan ke Gus Nuril lewat SMS.
Peta dukungan terhadap Pangdam IV Diponegoro makin mengerucut, menurut Gus Nuril, karena posisi Agus Soeyitno sangat menguntungkan untuk memimpin Jawa Tengah. ”Hal ini karena dia bukan orang partai, sehingga bila dia menang dan terpilih tidak akan muncul kecemburuan di kalangan pimpinan partai. Bagi para pengusaha majunya sosok TNI ini juga diharapkan akan mampu memberi iklim sejuk dan kondusif di wilayah Jateng,” ungkapnya.
Secara terpisah Pakar Politik Undip Nur Hidayat Sardini menyayangkan sikap Gubernur Jateng Ali Mufiz yang cenderung tidak maju dalam Pilgub Jateng. Sebab figur Ali Mufiz selama ini, sebagai salah satu tokoh yang bisa diandalkan dalam memimpin Jateng lima tahun ke depan. ”Jadi sayang kalau beliau tidak maju. karena kesempatan masyarakat untuk mendapatkan alternatif calon gubernur yang terbaik, menjadi berkurang. Beliau selama ini banyak memberikan pemikiran dan kiprahnya bisa dimanfaatkan untuk Jateng,” katanya.
Nur Hidayat Sardini menyesalkan sikap tersebut, sebab tidak majunya Ali Mufiz, yang rugi bukan Ali Mufiznya masyarakat luas, karena kesempatan untuk mendapatkan alternatif terbaik calon gubernur menjadi semakin kecil.
”Saya tetap melihat Pak Ali Mufiz termasuk putra terbaik Jateng. Dia dikenal moderat, agamawan, cendekiawan kampus yang cocok untuk era di kepemimpinan mendatang. Apalagi pernah mendampingi Pak Mardiyanto yang dinilai banyak orang berhasil dalam memimpin Jateng,” tegasnya.    
(Isi/Cha/Bdi)-c

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar