Selasa, 01 Maret 2016

TEORI VYGOTSKY



TEORI SOSIOKULTURAL VYGOTSKY
Pandangan yang mampu mengakomodasi sociocultural-revolution dalam teori belajar dan pembelajaran dikemukakan oleh Lev Vigotsky. Ia mengatakan bahwa jalan pikiran seseorang harus dimengerti dari latar sosial-budaya dan sejarahnya. Artinya, untuk memahami pikiran seseorang bukan dengan cara menelusuri apa yang ada dibalik otaknya dan pada kedalaman jiwanya, melainkan dari asal-usul tindakan sadarnya, dari interaksi sosial yang dilatari sejarah hidupnya (Moll & Greenberg, 1990). Peningkatan fungsi-fungsi mental seseorang berasal dari kehidupan sosial atau kelompoknya, dan bukan dari individu itu sendiri. Interaksi sosial demikian antara lain berkaitan erat dengan aktifitas-aktifitas dan bahasa yang dipergunakan. Kunci utama untuk memahami proses-proses sosial dan psikologis manusia adalah tanda-tanda atau lambang yang berfungsi sebagai mediator (Wertsch, 1990). Tanda-tanda atau lambang tersebut merupakan produk dari lingkungan sosial-kultural di mana seseorang berada.
Mekanisme teori yang digunakannya untuk menspesifikasi hubungan antara pendekatan sosio-kultural dan pemfungsian mental didasarkan pada tema mediasi semiotik, yang artinya adalah tanda-tanda atau lambang-lambang beserta makna yang terkandung di dalamnya berfungsi sebagai penengah antara rasionalitas dalam pendekatan sosiokultural dan manusia sebagai tempat berlangsungnya proses mental (Moll, 1994).
Atas dasar pemikiran Vygotsky, Moll dan Greenberg (dalam Moll, 1994) melakukan studi etnografi dan menemukan adanya jaringan-jaringan erat, luas, dan kompleks di dalam dan di antara keluarga-keluarga. Jaringan-jaringan tersebut berkembang atas dasar confianza yang membentuk kondisi sosial sebagai tempat penyebaran dan pertukaran pengetahuan, ketrampilan, dan nilai-nilai sosial budaya. Anak-anak memperoleh berbagai pengetahuan dan ketrampilan melalui interaksi sosial sehari-hari. Mereka terlibat secara aktif dalam interaksi sosial dalam keluarga untuk memperoleh dan juga menyebarkan pengetahuan-pengetahuan yang telah dimiliki. Ada suatu kerja sama di antara anggota keluarga dalam interaksi tersebut.
Menurut Vygotsky, Perolehan pengetahuan dan perkembangan kognitif seseorang sesuai dengan teori sociogenesis. Dimensi kesadaran sosial bersifat primer, sedangkan dimensi idividualnya bersifat bersifat derivatif atau merupakan turunan dan bersifat sekunder (Palincsar, Wertsch & Tulviste, dalam supratiknya, 2002). Artinya, pengetahuan dan perkembangan kognitif individu berasal dari sumber-sumber sosial diluar dirinya. Hal ini tidak berarti bahwa individu bersifat pasif dalam berkembangan kognitifnya, tetapi Vygotsky juga menekankan pentingnya peran aktif seseorang dalam mengkonstruksi pengetahuannya. Maka teori Vygotsky sebenarnya lebih tepat disebut dengan pendekatan kokonstruktivisme. Maksudnya, perkembangan kognitif seseorang disamping ditentukan oleh individu sendiri secara aktif, juga oleh lingkungan yang aktif pula.
Konsep-konsep penting teori sosiogenesis Vygotsky tentang perkembangan kognitif yang sesuai dengan revolusi-sosiokultural dalam teori belajar dan pembelajaran adalah hukum genetik tentang perkembangan (genetic law of defelopment), zona perkembangan proksimal (zone of proximal development), dan mediasi.
Hukum genetik tentang perkembangan (genetic law of development)
Menurut Vygotsky, setiap kemampuan seseorang akan tumbuh dan berkembang melewati dua tataran, yaitu tataran sosial tempat orang-orang membentuk lingkungan sosialnya (dapat dikategorikan sebagai interpsikologis atau intermental), dan tataran psikologis di dalam diri orang yang bersangkutan (dapat dikategorikan sebagai intrapsikologis atau intramental). Pandangan teori ini menempatkan intermental atau lingkungan sosial sebagai faktor primer dan konstitutif terhadap pembentukan pengetahuan serta perkembangan kognitif seseorang dikatakannya bahwa fungsi-fungsi mental yang lebih tinggi dalam diri seseorang akan muncul dan berasal dari kehidupan sosialnya. Sementara itu fungsi intramental dipandang sebagai derivasi atau keturunan yang tumbuh atau terbentuk melalui penguasaan dan internalisasi terhadap proses-proses sosial tersebut.
Pada mulanya anak berpartisipasi dalam kegiatan sosial tertentu tanpa memahami maknanya. Pemaknaan atau kontruksi pengetahuan baru muncul atau terjadi melalui proses internalisasi. Namun internalisasi yang dimaksud oleh Vygotsky bersifat transformatif, yaitu mampu memunculkan perubahan dan perkembangan yang tidak sekedar berupa transfer atau pengalihan. Maka belajar dan perkembangan merupakan satu kesatuan dan saling menentukan.
Zona perkembangan proksimal (zone of proximal development)
Vygotsky juga mengemukakan konsepnya tentang zona perkembangan proksimal (zone of proximal development). Menurutnya, perkembangan kemampuan seseorang dapat dibedakan ke dalam dua tingkat, yaitu tingkat perkembangan aktual dan tingkat perkembangan potensial. Tingkat perkembangan aktual tampak dari kemampuan seseorang untuk menyelesaikan tugas-tugas atau memecahkan berbagai masalah secara mandiri. Ini disebut sebagai kemampuan intramental. Sedangkan tingkat perkembangan potensial tampak dari kemampuan seseorang untuk menyelesaikan tugas-tugas dan memecahkan masalah ketika dibawah bimbingan orang dewasa atau ketika berkolaborasi dengan teman sebaya yang lebih kompeten. Ini disebut sebagai kemampuan intermental. Jarak antara keduanya, yaitu tingkat perkembangan aktual dan tingkat perkembangan potensial ini disebut zona perkembangan proksimal.
Zona perkembangan proksimal diartikan sebagai fungsi-fungsi atau kemampuan-kemampuan yang belum matang yang masih berada dalam proses pematangan. Ibaratnya sebagai embrio, kuncup atau bunga,yang belum menjadi buah. Tunas-tunas perkembangan ini akan menjadi matang melalui interaksinya dengan orang dewasa atau kolaborasi dengan teman sebaya yang lebih kompeten. Untuk menafsirkan konsep zona perkembangan proksimal ini dengan menggunakan scaffoding interpretation, yaitu memandang zona perkembangan proksimal sebagai perancah, sejenis wilayah penyangga atau batu loncatan untuk mencapai taraf perkembangan yang semakin tinggi.
Gagasan Vygotsky tentang perkembangan proksimal ini mendasari perkembangan teori belajar dan pembelajaran untuk meningkatkan kualitas dan mengoptimalkan perkembangan kognitif anak. Beberapa konsep kunci yang perlu dicatat adalah bahwa perkembangan dan belajar bersifat interdependen atau saling terkait, perkembangan kemampuan seseorang bersifat context dependent atau tidak dapat dipisahkan dari konteks sosial, dan sebagai bantuk fundamentaldalam belajar adalah partisipasi dalam kegiatan sosial.
Berpijak pada konsep zona perkembangan proksimal, maka sebelum terjadi internalisasi dalam diri anak, atau sebelum kemampuan intramental terbentuk, anak perlu dibantu dalam proses belajarnya. Orang dewasa dan atau teman sebaya yang lebih kompeten perlu membantu dengan berbagai cara seperti memberikan contoh, memberikan feedback, menarik kesimpulan, dan sebagainya dalam rangka perkembangan kemampuannya.
Mediasi
Menurut Vygotsky, kunci utama untuk memahami proses-proses sosial dan psikologis adalah tanda-tanda atau lambang-lambang tersebut merupakan produk dari lingkungan sosio-kultural di mana seseorang berada. Semua perbuatan atau proses psikologis yang khas manusiawi dimediasikan dengan psychologis tools atau alat-alat psikologis berupa bahasa, tanda dan lambang, atau semiotika.
Dalam kegiatan pembelajaran, anak dibimbing oleh orang dewasa atau teman sebaya yang lebih kompeten untuk memahami alat-alat semiotik ini. Anak mengalami proses internalisasi yang selanjutnya alat-alat ini berfungsi sebagai mediator bagi proses-proses psikologis lebih lanjut dalam diri anak. Mekanisme hubungan antara pendekatan sosiokultural dan fungsi-fungsi mental didasari oleh tema mediasi semiotik, artinya tanda-tanda atau lambang-lambang beserta makna yang terkandung di dalamnya berfungsi sebagai penghubung antara rasionalitas sosio-kultural (intermental) dengan individu sebagai tempat berlangsungnya proses mental (intramental)(Wertsch dalam Budiningsih, 2005). Ada beberapa elemen yang memperluas pendapat Vygotsky. Elemen-elemen tersebut terdiri dari ucapan, bunyi suara, tipe percakapan sosial dan dialog, dimana secara kontekstual elemen-elemen tersebut berada dalam batasan sejarah, kelembagaan, budaya dan faktor-faktor individu.
Ada dua jenis mediasi, yaitu mediasi metakognitif dan mediasi kognitif (Supratignya, 2002). Pengertian mediasi metakognitif adalah penggunaan alat-alat semiotik yang bertujuan untuk melakukan self-regulation yang meliputi: self planning, self planning, self checking, dan self evaluating. Mediasi metakognitif ini berkembang dalam komunikasi antar pribadi. Selama menjalani kegiatan bersama orang dewasa atau teman sebaya yang lebih kompeten biasa menggunakan alat-alat semiotik tertentu untuk membantu mengatur tingkah laku anak. Selanjutnya anak akan menginternalisasikan alat semiotik ini untuk dijadikan sebagai alat regulasi diri.
Mediasi kognitif adalah penggunaan alat-alat kognitif untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan pengetahuan tertentu atau subject-domain problem. Mediasi kognitif bisa berkaitan dengan konsep spontan dan konsep ilmiah yang berhasil diinternalisasikan anak akan berfungsi sebagai mediator dalam pemecahan masalah. Konsep-konsep ilmiah ini dapat berbentuk pengetahuan deklaratif (declarative knowlegde) berupa metode atau strategi untuk memecahkan masalah. Menurut Vygotsky untuk membantu anak memadukan antara konsep-konsep dan prosedur melalui demonstrasi dan praktek.
Berdasarkan teori Vygotsky akan diperoleh beberapa keuntungan:
1. Anak memperoleh kesempatan yang luas untuk mengembangkan zona perkembangan proximalnya atau potensinya melalui belajar dan berkembang;
2. Pembelajaran perlu lebih dikaitkan dengan tingkat perkembangan potensialnya daripada tingkat perkembangan aktualnya;
3. Pembelajaran lebih diarahkan pada penggunaan strategi untuk mengembangkan kemampuan intermentalnya daripada kemampuan intramental;
4. Anak diberi kesempatan yang luas untuk mengintegrasikan pengetahuan deklaratif yang telah dipelajarinya dengan pengetahuan prosedural yang dapat dilakukan untuk tugas-tugas atau pemecahan masalah;
5. Proses belajar dan pembelajaran tidak bersifat transferal tetapi lebih merupakan kokonstruksi, yaitu proses mengkonstruksi pengetahuan atau makana baru secara bersama-sama antara semua pihak yang terlibat di dalamnya.

Senin, 08 Februari 2016

SOAL UJIAN UAS: TAFSIR-1 [TAKE HOME EXAM]



FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN AR-RANIRY BANDA ACEH

SOAL UJIAN AKHIR SEMESTER (UAS) GANJIL TAHUN 2015/2016

MATA KULIAH                   : TAFSIR - I
DOSEN                                   : DR. H. HASAN BASRI, MA
JUMLAH MAHASISWA    : 30 ORANG
HARI/TANGGAL                : KAMIS/ 11 FEBRURI 2016



A.    Petunjuk Mengerjakan Soal

  1. Tulislah nama dan nomor induk (NIM) Anda di kertas jawaban masing-masing.
  2. Bacalah butir-butir soal terlebih dahulu secara cermat sebelum Anda mengerjakannya.
  3. Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan singkat dan jelas.
  4. Utamakan kemampuan Anda sendiri tanpa terpengaruh oleh bisikan teman-teman lain dan hindari copy and paste. Jika ada jawaban yang sama sebagai hasil copy-paste tidak akan diberi nilai atau dinyatakan gagal.
5.      Jawaban diketik (computer) dengan font yang digunakan, Times New Roman ukuran 12 dan diketik 1,5 spasi; teks Arab (ayat) font 16.
  1. Jawaban diserahkan paling lambat hari SABTU tanggal 13 FEBRUARI 2016 pukul 00.00 WIB; dikirim ke email: hasbaria.qudwah@gmail.com.
  2. Jika ada soal atau pertanyaan yang kurang jelas, dapat ditanyakan langsung kepada dosen yang bersangkutan. Selamat menempuh ujian!

B.     Pertanyaan-Pertanyaan:

1.        Al-Qur’an merupakan sumber ilmu pengetahuan (resource of science) karena di dalamnya secara substansial mengandung berbagai disiplin ilmu dan sekaligus mengungkap fakta ilmiah (scientific facts). Sebutkan disiplin ilmu apa saja yang terkandung dalam ayat di bawah ini dan tulislah bagian ayat yang menerangkan tentang disiplin ilmu tersebut.

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ النَّاسَ وَمَآأَنزَلَ اللهُ مِنَ السَّمَآءِ مِن مَّآءٍ فَأَحْيَا بِهِ اْلأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ لأَيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ.

2.        Terjemahkan ayat-ayat di bawah ini ke dalam bahasa Indonesia dan jelaskan bentuk munasabah (korelasi) kedua kelompok ayat berikut ini; dan kuatkan argumen Anda dengan hadits Rasulullah SAW yang berkaitan dengan akhlak anak terhadap orangtua:

·       وَوَصَّيْنَا اْلإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَىَّ الْمَصِيرُ. وَإِن جَاهَدَاكَ عَلَى أَن تُشْرِكَ بِي مَالَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلاَ تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَىَّ ثُمَّ إِلَىَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ.

·       وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُوا إِلآ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلاَتَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيمًا. وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا.


3.        Al-Qur’an menjelaskan tentang proses penciptaan manusia secara rinci dan cermat. Jelaskan proses penciptaan manusia (fase-fase penciptaan manusia) menurut perspektif ayat-ayat di bawah ini; dan jelaskan pula tugas utama manusia di dunia ini:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا اْلإِنْسَانَ مِن سُلاَلَةٍ مِّن طِينٍ. ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَّكِينٍ. ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنشَأْنَاهُ خَلْقًا ءَاخَرَ فَتَبَارَكَ اللهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ. ثُمَّ إِنَّكُم بَعْدَ ذَلِكَ لَمَيِّتُونَ. ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تُبْعَثُونَ.

4.    Islam mengajarkan toleransi terhadap agama-agama lain. Namun, sikap toleransi itu harus sesuai dengan pesan al-Qur’an. Ayat-ayat di bawah ini menerangkan tentang titik temu agama-agama samawi sebagai proses kontinuitas risalah para rasul yang diutus oleh Allah dan pesan mengenai toleransi.
1)      Jelaskan secara tafsiriyah maksud bagian ayat yang bergaris di bawahnya.
2)      Bagaimana cara membentuk sikap toleransi terhadap agama-agama lain.
3)      Jelaskan bagaimana seharusnya sikap umat Islam terhadap perayaan Hari Natal atau Imlek yang dirayakan oleh pemeluk agama Kristen dan Khonghucu.

·       قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَآءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلاَّ نَعْبُدَ إِلاَّ اللهَ وَلاَ نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلاَ يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللهِ فَإِن تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ.

·       قُلْ أَتُحَآجُّونَنَا فِي اللهِ وَهُوَ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ وَلَنَآ أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُخْلِصُونَ.


5.      Tafsirkan ayat-ayat di bawah ini dengan mengikuti Manhaj al-Tafsir sebagai berikut:

1)      Ma’na al-Mufradat (khusus kata-kata yang bergaris di bawahnya).
2)      Tarjamah al-Ayat.
2) Asbab Nuzul al-Ayat.
3) Tafsir al-Ayat (secara utuh).
4) Munasabah Ayat dengan Ayat; dan Ayat dengan Hadits.
5) Hikmah al-Tasyri’ dan relevansinya dengan ilmu pengetahuan.

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لأَيَاتٍ لأُوْلِي اْلأَلْبَابِ. الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ رَبَّنَا مَاخَلَقْتَ هَذَا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.


اعتمد على نفسك....!














Sabtu, 08 Agustus 2015

SOAL UJIAN MIDTERM: ULUMUL QUR'AN - II



Take Home Exam:

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) AR-RANIRY BANDA ACEH
SOAL UJIAN TENGAH SEMESTER (UTS) TAHUN AKADEMIK 2014/2015
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

MATA KULIAH ULUMUL QUR’AN-II


 


Kode Mata Kuliah: PAI 2808
Mata Kuliah: Ulumul Qur’an - II
Fakultas: Tarbiyah
Jurusan/Prodi: Pendidikan Agama Islam [PAI]
Program: Strata Satu (S1)
Semester: Genap
Bobot: 2 SKS
_____________________________
Dosen: DR. H. Hasan Basri, MA
Asisten: Imran, M.Ag
_____________________________

A.    Petunjuk Mengerjakan Soal
1.      Tulislah Nama, Nomor Induk Mahasiswa (NIM) dan Unit Anda di kertas jawaban masing-masing.
2.      Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan jelas dan kerjakan soal yang dianggap paling mudah terlebih dahulu.
3.      Soal terdiri dari dua model: SOAL MODEL: A dan SOAL MODEL: B. Pilihlah satu model saja yang Anda sukai, yang masing-masing terdiri dari 5 (lima) soal utama.
4.      Utamakan kemampuan Anda sendiri tanpa terpengaruh oleh bisikan teman-teman lain (ingat: self-confidence is key of success) dan hindari Copy-Paste.
5.      Gunakan waktu dengan sebaik-baiknya dan baca soal dengan cermat.
6.      Jawaban diketik dengan menggunakan font Times New Roman ukuran 12, dan jarak 1,5 spasi.  
7.      Soal-soal yang sudah dijawab kemudian dapat dikirim langsung ke E-Mail: hasbaria.qudwah@gmail.com selambat-lambatnya tanggal 09 Agustus 2015 jam 00:00 WIB.
8.      Jika ada soal atau pertanyaan yang kurang jelas, dapat ditanyakan langsung kepada dosen yang bersangkutan. Selamat menunaikan tugas! Good luck ... !
B.    Soal-Soal:

MODEL: A
1.    Secara historis, Mushhaf al-Qur`an pertama kali dicetak dengan mesin cetak modern pada tahun 1694 M di Hamburg, Jerman. Kemudian, penerbitan Mushahf al-Qur`an dengan label Islam baru dimulai pada tahun 1787 M. Pada masa-masa berikutnya, pencetakan Mushhaf al-Qur`an mulai berkembang di negeri-negeri Muslim, termasuk Indonesia.
Soal:
a.         Jelaskan upaya pemerintah Indonesia dalam menjaga dan melestarikan kemurnian Mushhaf al-Qur`an?
b.         Bagaimana pendapat Anda tentang pembudayaan bacaan al-Qur`an dan pengamalan pesan-pesannya dalam kehidupan umat Islam zaman kini?
2.    Dalam kajian Ulumul Qur`an terdapat istilah Muhkam dan Mutasyabih. Mengenai ayat-ayat Muhkamat tidak ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama dalam pemahamannya; namun, dalam kaitan dengan ayat-ayat Mutasyabihat terdapat perbedaan pandangan di kalangan sebagian ulama.
Soal:
a.         Jelaskan perbedaan antara ayat-ayat Muhkamat dan ayat-ayat Mutasyabihat beserta contohnya masing-masing?
b.         Jelaskan pula perbedaan pendapat para ulama tentang ayat-ayat Mutasyabihat beserta alasan para ulama tersebut?
3.         Ilmu I’jazil Qur`an termasuk salah satu pokok pembahasan Ulumul Qur`an yang amat penting. Dalam perjalanannya, al-Qur’an ternyata banyak mendapat tantangan dari orang-orang yang mengingkarinya. Karena kemukjizatannya, al-Qur`an dapat mengalahkan seluruh penantangnya sehingga al-Qur`an dikenal sebagai al-Mu’jizah al-Khalidah (the Eternal Miracle).
Soal:
a.         Jelaskan apa yang dimaksud dengan I’jazil Qur`an baik secara lughawiyah maupun ishthilahiyah dan sebutkan kriteria sebuah mukjizat?
b.         Jelaskan I’jazil Qur`an dari segi-segi: 1) Segi balaghah (keindahan bahasa/sastra), 2) Segi tasyri’ (penetapan hukum), dan 3) Segi ilmiah atau ilmu modern (modern science)?
4. Jelaskan perbedaan antara Tafsir Tahlili dan Tafsir Maudhu’i beserta contohnya masing-masing.
5.      Di antara pokok-pokok kajian Ulumul Qur`an adalah Ilmu Amtsalil Qur`an. Dalam pembahasannya, Amtsalil Qur`an meliputi unsur-unsur: 1) Shighat/Huruf Tasybih; 2) al-Musyabbah; 3)  al-Musyabbah bih; dan 4) Wajhul Musyabbah.
Soal:
a.         Jelaskan apa yang dimaksud dengan Amtsalil Qur’an baik dari segi lughawiyah maupun ishthilahiyah dan sebutkan faedah mempelajari Amtsalil Qur’an?
b.         Sebutkan keempat unsur (atau sebagiannya) Amtsalil Qur`an dalam ayat-ayat di bawah ini (surat AL-BAQARAH ayat 261-262 dan surat AL-JUMU’AH ayat 5) dan tulislah bagian ayatnya yang menunjukkan unsur tersebut.

·       مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ. الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ لَا يُتْبِعُونَ مَا أَنْفَقُوا مَنًّا وَلَا أَذًى لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

·       مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ.

MODEL: B
1.        Menurut sejarah, Mushhaf al-Qur`an pertama kali dikumpulkan pada masa Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq atas usulan Umar bin Khaththab. Berdasarkan Mushhaf tersebut kemudian Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan melakukan kodifikasi Mushhaf al-Qur’an yang dikirim ke beberapa negara pada masa itu. Upaya kodifikasi Mushhaf al-Qur`an ini tentu saja mempunyai alasan dan tujuan tertentu sesuai dengan dinamika komunitas umat Islam yang terus berkembang dan meluas.
Soal:
a.         Jelaskan latar belakang dan faktor-faktor kodifikasi Mushhaf al-Qur`an pada masa Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan dan siapa nama sahabat yang mengusulkan upaya kodifikasi tersebut kepada Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan?
b.         Sebutkan dan jelaskan standard Mushhaf al-Qur`an yang dipakai berdasarkan Rasm ‘Utsmani dan sebutkan pula hikmah kodifikasi tersebut bagi umat Islam masa kini?
2.        Dalam kajian Ulumul Qur`an terdapat istilah Nasikh dan Mansukh. Mengenai ayat-ayat Nasikh dan Mansukh ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama dalam pemahamannya; ada yang sepakat dan ada pula yang tidak sepakat tentang Nasikh dan Mansukh tersebut.  
Soal:
a.         Jelaskan pengertian Nasikh dan Mansukh menurut konteks Uluml Qur’an dan sebutkan contohnya masing-masing dan apa perbedaan antara Nasakh dan Takhshish?
b.         Jelaskan perbedaan pendapat ulama tentang Nasakh dan dalil-dalil yang membolehkan Nasakh tersebut?
3.        Ilmu Munasabah termasuk salah satu pokok pembahasan Ulumul Qur`an yang amat penting. Dalam perjalanannya, al-Qur’an ternyata banyak mendapat tantangan dari orang-orang yang mengingkarinya terutama kalangan orientalis. Untuk menjawab tantangan tersebut, ulama Ulumul Qur`an menyusun Ilmu Munasabah sebagai penjelasan secara rasional tentang eksistensi al-Qur`an dalam konteks kajian ilmiah. Dengan Ilmu Munasabah, akhirnya, dapat membungkam skeptisme terhadap al-Qur’an.
Soal:
a.         Jelaskan apa yang dimaksud dengan Ilmu Munasabah baik secara lughawiyah maupun ishthilahiyah dan macam-macam Munasabah beserta contohnya?
b.         Sebutkan dan jelaskan urgensi Ilmu Munasabah bagi kaum akademisi dalam menyikapi berbagai tuduhan negatif dan skeptis terhadap al-Qur`an?
4.         Jelaskan perbedaan antara metode Tafsir bi al-Ma’tsur dan Tafsir bi al-Ra’yi beserta contohnya masing-masing.
5.        Di antara pokok-pokok kajian Ulumul Qur`an adalah Ilmu Aqsamil Qur`an. Dalam pembahasannya, Ilmu Aqsamil Qur`an meliputi unsur-unsur: 1) Huruf/Fi’il Qasam; 2) Muqsam Bih;  dan 3)  Muqsam ‘Alaih.
Soal:
a.         Jelaskan apa yang dimaksud dengan Aqsamil Qur’an baik dari segi lughawiyah maupun ishthilahiyah beserta contohnya?
b.         Sebutkan ketiga unsur (atau sebagiannya) Aqsamil Qur`an dalam ayat-ayat di bawah ini (surat AL-QIYAMAH ayat 1-5 dan surat AT-TIN ayat 1-8) dan tulislah bagian ayatnya yang menunjukkan unsur tersebut.
·       لَا أُقْسِمُ بِيَوْمِ الْقِيَامَةِ.  وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ.  أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَلَّنْ نَجْمَعَ عِظَامَهُ.  بَلَى قَادِرِينَ عَلَى أَنْ نُسَوِّيَ بَنَانَهُ. بَلْ يُرِيدُ الْإِنْسَانُ لِيَفْجُرَ أَمَامَهُ.
·       وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ. وَطُورِ سِينِينَ.  وَهَذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ. لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ.  ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ.  فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّينِ. أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ.

Wiseword:

“LIFE WILL BE MORE BEAUTIFUL WHEN WE LOVE  EACH OTHER SINCERELY.”
From Heart to Heart