Minggu, 14 November 2010

KAJIAN SURAT AL-KAHFI 13-26

KAJIAN SURAH AL-KAHFI AYAT 13 – 26

Oleh: Dr. H. Hasan Basri al-Mardawy, MA



            Rangkaian ayat-ayat 13-26 mengisahkan tentang sekelompok pemuda yang berupaya menyelamatkan iman mereka dari ancaman penguasa zalim. Rencana mereka untuk melarikan diri dari kejaran penguasa zalim mendapat keridhaan Allah sehingga mereka dapat keluar dari kota dengan selamat. Mereka beserta seekor anjing berangkat menuju gunung dengan penuh rahasia. Sesampai di gunung, mereka beristirahat di dalam sebuah gua. Karena kelelahan dalam perjalanan, akhirnya mereka tertidur di dalam gua, sampai pada saatnya Allah membangunkan mereka.

Latar Belakang Turunnya Surah al-Kahfi

            Masyarakat Arab Makkah masih meragukan kebenaran kerasulan Nabi Muhammad SAW dan tidak begitu yakin terhadap al-Qur’an. Untuk membuktikan kebenaran ini, mereka menemui tiga tokoh agamaYahudi Najran  untuk meminta pertimbangan siapa yang akan diutus untuk menguji kebenaran kerasulan Muhammad. Para tokoh itu mengusulkan agar diutus saja kaum Musyrik Makkah untuk menanyakan empat pertanyaan kepada Muhammad; jika dia dapat menjawabnya secara spontan, tanpa menunggu wahyu, berarti dia berbohong. Ketiga pertanyaan itu adalah:

  1. Tentang kisah sekelompok pemuda yang berlindung dan tertidur di dalam gua. Berapa jumlah mereka dan siapa yang menemani mereka?
  2. Tentang kisah Nabi Musa AS.  Kepada siapakah Nabi Musa AS diperintahkan belajar?
  3. Tentang kisah seorang penjelajah ke Timur dan ke Barat. Bagaimana riwayat perjalanannya dan apa yang diperbuatnya?
  4. Tentang peristiwa Kiamat. Kapan terjadi hari Kiamat itu?

Keempat pertanyaan tersebut, tentu saja, tidak dapat dijawab nabi secara spontan karena selain belum ada informasi baik secara lisan maupun tulisan mengenai hal tersebut, juga informasi tersebut tidak pernah disinggung dalam kitab-kitab sebelumnya. Nabi menunggu wahyu beberapa lama untuk dapat menjawab keempat pertanyaan tersebut. Kemudian, Allah menurunkan wahyu yang termuat dalam surah al-Khafi (juz ke-15; surah ke-18). Secara terperinci, jawaban dari setiap pertanyaan itu akan diuraikan dalam kajian berikutnya. Kajian ini memfokuskan pada jawaban dari pertanyaan pertama, yaitu tentang kisah Ashabul Kahfi.

Ashabul Kahfi: Profil Pemuda Beriman [Ayat 13-16]

            Ashabul Kahfi artinya penghuni gua. Menurut sebagian pakar sejarah, mereka adalah sekelompok pemuda (fityah) yang berjumlah tujuh orang dan seekor anjing sebagai teman atau penunjuk jalan menuju gua. Al-Qur’an tidak menyebutkan nama-nama mereka; namun dalam lembaran sejarah dicantumkan nama-nama mereka sebagai berikut:

  1. Maksalmina
  2. Tamlekha
  3. Martukis
  4. Nawalis
  5. Sanius
  6. Batnayus
  7. Kasyfutat

Sedangkan anjing mereka, ada yang menyebutkan, bernama Raqim. Namun, sebagian yang lain mengatakan bahwa Raqim itu adalah nama bukit di mana terletak gua yang mereka huni.
            Ayat 13 menginformasikan bahwa Allahlah yang menceritakan kisah Ashabul Kahfi kepada Nabi Muhammad SAW. Ini berarti bahwa nabi tidak membuat atau mengarang cerita tersebut. Cerita mengenai Ashabul Kahfi benar-benar wahyu Allah, dan dengan demikian, membuktikan bahwa al-Qur’an adalah wahyu Allah; bukan dongeng atau perkataan Nabi Muhammad SAW. Ayat ini menegaskan bahwa mereka adalah para pemuda yang mendapat hidayah Allah sehingga karena mereka terus berupaya mempertahankan iman, Allah menambah hidayah-Nya kepada mereka. Maka, mereka dapat dikatakan sebagai pemuda mukmin sejati.
            Mengenai gua seperti yang disebutkan dalam ayat 10, baru ditemukan pada tahun 1963 oleh Rafiq Wafa Ad-Dajani, seorang arkeolog Yordania. Setelah membandingkan beberapa gua yang hampir serupa, seperti yang terdapat di Epsus, Damaskus, dan Iskandinavia,  akhirnya Ad-Dajani menyimpulkan bahwa gua yang paling mirip seperti yang digambarkan al-Qur’an adalah yang terletak sekitar 8 kilometer dari kota Amman, ibukota Yordania. Gua tersebut berada di atas dataran tinggi menuju arah Tenggara; sedangkan kedua sisinya berada di sebelah Timur dan Barat dan terbuka sedemikian rupa sehingga cahaya matahari menembus ke dalamnya. Di dalam gua terdapat ruangan kecil yang luasnya 3 x 2,5 meter. Ditemukan juga di dalam gua itu tujuh atau delapan kuburan. Pada dindingnya terdapat tulisan Yunani Kuno dan terdapat juga gambar seekor anjing dan beberapa ornamen lainnya. Di atas gua terdapat sebuah tempat ibadah gaya arsitektur Bizantium dan mata uang yang digunakan pada masa itu. Berdasarkan peninggalan ini dapat diketahui bahwa tempat tersebut dibangun sekitar tahun 418-427 Masehi, pada masa pemerintahan Justinius I.
            Para sejarawan Muslim dan Kristen sepakat bahwa pada tahun 98-117 M penguasa menindas pengikut Nabi Isa; dan pada tahun 112 M dibuat peraturan bahwa setiap orang yang menolak menyembah dewa-dewa dijatuhi hukuman sebagai pengkhianat dan bahkan dibunuh. Penguasa yang memerintah pada masa itu bernama Dikyanus. Kemudian, pada tahun 408-451 negeri itu dipimpin oleh penguasa bijaksana yang bernama Theodusius. Berdasarkan informasi historis ini, maka dapat dikompromikan dengan informasi Qur’ani, yaitu sekelompok pemuda itu menghindari diri dari penguasa zalim pada tahun 112 M, dan mereka tertidur selama 300 atau 309 tahun kemudian terbangun pada tahun 412  atau 421 M (lihat ayat 25 surah al-Kahfi).
            Selanjutnya, ayat 14 dan 15 menjelaskan bahwa Allahlah yang meneguhkan hati mereka sehingga mereka condong kepada keimanan. Mereka tetap menganut prinsip tauhid (keesaan Allah); dan atas prinsip inilah tegaknya agama-agama samawi (agama berdasarkan wahyu, seperti Yahudi, Nasrani, dan Islam). Iman mereka tidak goyah meskipun banyak tantangan kehidupan yang mereka hadapi. Inilah nilai yang paling penting untuk kita teladani bahwa dalam kondisi apapun kita tetap mempertahankan iman kita. Sebab itulah Nabi Muhammad SAW bersama para sahabatnya melakukan hijrah dari Makkah ke Madinah pada tahun 622 M. Maka, hijrah dari kezaliman dan kekaauan menunju kepada keadilan dan kedamaian merupakan salah satu cara untuk menyelamatkan agama dan iman kita. 
            Ayat 16 menegaskan kembali tentang keesaan Allah. Tidak ada satu makhluk pun yang mampu mendatangkan manfaat dam mudarat kecuali dengan izin Allah. Berdasarkan petunjuk ini maka tidak ada yang perlu kita takuti di dunia ini. Kalau kita sudah benar-benar beriman kepada Allah dan hanya kepada-Nya kita bertawakkal, maka Allah akan menjadi pelindung kita. Begitulah kehidupan para nabi yang menggantungkan diri mereka kepada kekuasaan Allah. Tidak ada yang kuasa untuk menyelamatkan manusia kecuali Allah.

Bukti Kekuasaan Allah: Sebuah Renungan [Ayat 17-22]

            Ayat 17 menerangkan bahwa Allah berkuasa mengawasi hamba-Nya yang sedang tidur. Allah yang menjaga dan memelihara mereka dalam gua, dan Dia pula yang mengatur posisi tudur mereka. Kemudian, dalam ayat 18, Allah menyebutkan bahwa Dia membalikkan badan mereka ke kanan dan ke kiri serta menghilangkan perasaan takut dari dalam diri mereka. Demikian pula dalam ayat 19, Allah membangunkan mereka sehingga mereka merasa heran dan saling bertanya di antara mereka tentang berapa lama mereka sudah berada di dalam gua. Sebagian mereka mengatakan baru satu hari atau setengah hari saja. Mereka baru mengetahui masa keberadaan mereka di dalam gua setelah salah seorang dari mereka turun ke kota untuk berbelanja dengan menggunakan mata uang 300 tahun yang lalu. Kalaulah mereka terbangun lebih awal, ketika penguasa zalim masih berjaya, pastilah mereka akan dibinasakan. Namun, Allah mengatur semua itu sebagai pelajaran bagi manusia bahwa Allah maha berkuasa untuk melakukan apa saja yang Dia inginkan. Sedangkan dewa-dewa yang mereka sembah tidak memiliki kekuatan apa-apa.
Kemudian, dalam ayat 20 Allah menyatakan bahwa jika manusia pada masa itu dapat mengetahui tempa persembunyian para pemuda tersebut, maka pasti mereka akan dipaksakan untuk kembali ke agama para dewa. Selanjutnya, ayat 21 Allah menegaskan, Dialah yang mengatut pertemuan manusia dengan para pemuda itu. Ini dimaksudkan agar manusia sadar bahwa hari Kiamat pasti terjadi. Allah mampu membangkitkan manusia yang sudah mati, bahkan sudah menjadi tulang belulang.  Seterusnya, ayat 22 menegaskan bahwa kisah tentang Ashabul Kahfi, termasuk jumlah mereka yang sebenarnya adalah termasuk persoalan ghaib dan rahasia Allah.

Hukum Mengucapkan Kalimah Insya Allah [Ayat 23-24]

            Insya Allah artinya jika Allah menghendaki atau mengizinkan. Ini merupakan kalimah yang dapat mengantarkan manusia kepada kekuatan iman. Ketika manusia akan melakukan sesuatu, maka ia tidak dapat memastikan apakah ia akan sukses atau gagal. Oleh karena itu orang beriman  dianjurkan mengucapkan kalimah insya Allah. Adapun latar belakang turunnya ayat 23-24 ini adalah karena Nabi Muhammad SAW menjanjikan kepada orang yang mengajukan empat pertanyaan tersebut bahwa beliau akan menjawabnya besok, tanpa menyebut kalimah insya Allah. Sebagai pelajaran bagi nabi, Allah tidak menurunkan wahyu-Nya sebagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut dalam waktu beberapa lama. Karena permohonan dari nabi, akhirnya Allah menegur rasul-Nya dengan menurunkan dua ayat ini.

300 atau 309 Tahun di Dalam Gua [Ayat 25-26]
            Ayat 25 menerangkan bahwa Ashabul Kahfi berada di dalam gua selama 300 atau 309 tahun. Kedua-duanya benar tergantung cara menghitungnya. Kalau dihitung berdasarkan kalender hijriyah, maka mereka berada di dalam gua selama 300 tahun. Tetapi jika dihitung menurut kalender miladiyah (masehi), maka mereka tidur di dalam gua selama 309 tahun. Karena, tahun hijriyah (Qamariyah) setiap bulannya terdiri dari 29 atau 30 hari; sedangkan tahun masehi (Syamsiyah) setiap bulan terdiri dari 28, 29, 30, atau 31 hari. Maka, dalam satu tahun jumlah hari menurut tahun hijiriyah 354 hari; sedangkan tahun masehi 360 atau 365 hari. Dalam hal ini, tahun Qamariyah dan Syamsiyah selisih 9 tahun. Karena itu, al-Qur’an menyebutkan 300 ditambah 9 tahun.
            Ayat 26 menjelaskan tentang masa tinggalnya mereka di dalam gua termasuk ilmu Allah dan peristiwa ghaib. Hanya Allah yang mengetahui segala peristiwa masa lalu, sekarang, dan akan datang. Dan di tangan-Nya pula akhir segala kehidupan ini. Tidak ada seorang pun yang mampu mempercepat atau memperlambat kematiannya. Sebab itulah maka Allah menegaskan bahwa tidak ada sekutu bagi-Nya dalam menetapkan segala keputusan-Nya, baik mengenai eksistensi alam ini maupun kehancurannya. Wallahu a’lam!












1 komentar:

  1. mungkin di sini perlu pencerahan
    =======
    Kalau dihitung berdasarkan kalender hijriyah, maka mereka berada di dalam gua selama 300 tahun. Tetapi jika dihitung menurut kalender miladiyah (masehi), maka mereka tidur di dalam gua selama 309 tahun.
    =========
    bukankah tahun Hijriyah itu lebih sedikit bilangan harinya (354) & tahun masehi lebih banyak bilangan harinya. kesimpulannya tahun yg > bilangan harinya, bilangan tahunnya akan berkurang disbandingkan dengan tahun yg < bilangan harinya -- tahun Masehi = 300 & tahun Hijriyah = 309 tahun..

    BalasHapus