Minggu, 14 November 2010

KAJIAN SURAT AL-KAHFI 1-12


KAJIAN SURAH AL-KAHFI: BENTENG PERTAHANAN IMAN

AYAT 1 – 12 [JUZ 15, SURAH KE-18]

Oleh: DR. H. Hasan Basri al-Mardawy, MAA



Pendahuluan

            Al-Kahfi, menurut bahasa, berarti Gua. Al-Kahfi kemudian dijadikan nama salah satu surah dalam al-Qur’an, yaitu surah ke-18, juz 18, terdiri dari 110 ayat. Kata al-Kahfi terdapat dalam ayat 9 surah ini, yang mengisahkan tentang para “Penghuni Gua”, atau dalam istilah al-Qur’an disebut Ashabul Kahfi. “Penghuni Gua” tersebut terdiri dari sejumlah pemuda dan seekor anjing. Mereka tertidur dalam gua itu selama 309 tahun. Karena keimanan mereka, Allah menjaga dan mengawasi mereka dalam tidur. Allah membimbing mereka ke jalan yang lurus, menambah hidayah-Nya dan memudahkan segala urusan mereka. Akhirnya, mereka pun selamat dari kekejaman raja yang zalim.

Pokok-pokok Isi Surat al-Kahfi


1.      Keimanan
Surah al-Kahfi mengandung dasar-dasar keimanan, yaitu:
1)           Memberi motivasi bagi orang-orang beriman agar meningkatkan iman.
2)           Membentengi iman dari segala polusi duniawi.
3)           Kekuasaan Allah untuk memberi daya hidup bagi manusia di luar jangkauan akal manusia.
4)           Dasar-dasar tauhid (keesaan Allah) dan keadilan Allah. 
5)           Menerangkan tentang keluasan ilmu Allah yang tiada batas.
6)           Kepastian datangnya hari Kiamat.
7)           Al-Qur’an sebagai kitab suci yang membimbing manusia ke jalan lurus.
8)           Rumah masa depan orang beriman adalah surga Firdaus.
9)           Beramal salih tanpa unsur syirik.
10)       Hidup adalah ujian.

2.      Kisah-kisah
Surah al-Kahfi mengungkapkan beberapa kisah atau cerita penting tentang kehidupan. Dari cerita-cerita yang diungkapkan al-Qur’an dapat diambil i’tibar, mau’izhah, atau pelajaran untuk menata kehidupan yang penuh iman, ilmu, dan amal salih.  Ada lima kisah yang disajikan dalam surah ini, yaitu:
1)           Kisah Ashabul Kahfi
2)           Kisah dua orang laki-laki [kafir dan mukmin]
3)           Kisah  Nabi Musa dan Nabi Khidhir
4)           Kisah Dzulqarnain
5)           Kisah Ya’juj dan Ma’juj

3.      Hukum-hukum
Surah ini mengandung hukum-hukum sebagai berikut:
1)     Hukum wakalah (perwakilan).
2)     Hukum membangun rumah ibadah di atas kuburan.
3)     Hukum membaca kalimat Insya Allah.
4)     Hukum melakukan kesalahan karena lupa.
5)     Hukum tentang kemaslahatan sosial.

4.      I’tibar/Mau’izhah
 Beberapa pelajaran penting dapat diambil dari surah ini:
1)     Meningkatkan iman kepada Allah.
2)     Mengikhlaskan niat dalam beribadah kepada Allah.
3)     Meningkatkan semangat belajar atau menuntut ilmu.
4)     Adab belajar dan hubungan murid dengan guru.
5)     Cara memimpin dan hubungan pemimpin dengan rakyat.
6)     Perjuangan untuk kesejahteraan rakyat dan negara.
7)     Surga Firdaus sebagai tempat bagi orang beriman.
8)     Belajar tentang kesabaran dan ketaatan.
9)     Amalan orang mukmin tidak sia-sia.
10) Ilmu Allah tidak pernah habis dikaji.

Pembahasan:  Ayat 1-12

1.      Al-Qur’an: Jalan Lurus [Ayat 1-6]

1)     Al-Qur’an sebagai Bimbingan hidup
Ayat 1 menjelaskan tentang proses diturunkan al-Qur’an. Allah menerangkan bahwa al-Qur’an diturunkan kepada hamba-Nya yang mulia, yaitu Nabi Muhammad SAW. Al-Qur’an mengandung kebenaran yang pasti; dan tidak ada sedikit pun kejanggalan dan kelemahan di dalamnya. Karena itu, al-Qur’an merupakan pedoman yang dapat membimbing manusia ke jalan yang lurus. Dengan demikian, al-Qur’an  adalah bimbingan hidup bagi orang beriman. Maskudnya adalah al-Qur’an menuntun manusia ke jalan Allah, jalan iman, hidayah, Islam, ilmu, dan amal.
  
2)     Al-Quran sebagai Peringatan
Ayat 2 menegaskan tentang fungsi al-Qur’an selain sebagai bimbingan hidup, al-Qur’an juga berfungsi sebagai peringatan yang tegas dan keras bahwa azab Allah pasti berlaku bagi orang-orang yang ingkar. Maksudnya, setiap keingkaran dan kezaliman pasti akan dijatuhi hukuman baik di dunia maupun di akhirat. Allah tidak akan membiarkan orang-orang zalim berkeliaran di muka bumi dengan melakukan kerusakan. Demikian juga ayat ini mengingatkan manusia bahwa kesombongan itu adalah suatu kezaliman; dan Allah tidak senang kepada orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.


3)     Al-Quran sebagai Khabar Gembira
Selain peringatan, ayat 2 juga menyatakan bahwa al-Qur’an adalah  pembawa berita gembira kepada orang-orang beriman. Maksudnya, al-Qur’an memberitahukan kepada manusia bahwa setiap orang yang melakukan amal salih akan diberi pahala oleh Allah. Kemudian, dalam ayat 3-6, disebutkan bahwa Allah akan menempatkan hamba-Nya yang beramal salih di dalam surga. Syarat amal salih yang dapat mengantarkan seseorang ke surga adalah amal salih yang tidak dicampur dengan unsur syirik. Oleh sebab itu, setiap orang beriman harus menjauhkan dirinya dari unsur syirik ini. Karena, setiap amal yang mengandung unsur syirik meskipun baik, akan ditolak oleh Allah; dan pelakunya adalah berdosa besar.

2.      Hidup sebagai Ujian [Ayat 7-8]
Allah menjadikan dunia sebagai perhiasan hidup dan sekaligus tantangan. Oleh sebab itu, setiap manusia pasti mempunyai naluri senang kepada kesengangan duniawi, keindahannya, dan kemewahan. Dalam konteks itulah, maka Allah menguji manusia siapa di antara mereka yang mampu mengendalikan dirinya dari pengaruh kesenangan dan kenikmatan duniawi. Manusia diuji sampai di mana keterpengaruhannya dengan kesenangan duniawi, jika ia mampu mengendalikan dirinya, dan tidak melupakan Allah dan ajaran-ajaran-Nya, maka itulah orang yang sukses dalam hidup ini. Di samping itu, meyakini bahwa segala sesuatu yang dimiliki manusia pasti akan sirna. Berkenaan dengan ini Allah menegaskan dalam surah al-Mulk ayat 1-2, “Maha Suci Allah yang di tangan-Nya segala kekuasaan; yang menciptakan kematian dan kehidupan agar Dia mengujimu siapa yang paling bagus amalnya di ataramu, dan Dia Maha Perkasa dan Maha Pengampun.”

3.      Ashabul Kahfi: Profil Pemuda Beriman [Ayat 9]
Ayat 9 menceritakan tentang kisah sekelompok pemuda yang menyelamatkan iman mereka dari kepungan raja yang zalim. Dalam sejarah dicatat bahwa pada masa lalu sekitar tahun 326 sebelum Masehi di suatu negeri yang bernama Absus, sekaran Yordania, terdapat seorang raja yang sangat kejam, penyembah berhala. Raja itu bernama Dikyanus (Decius). Ia memaksa semua orang untuk tunduk kepadanya dan menyembah berhala seperti yang ia sembah. Namun, sekelompok pemuda yang tetap mempertahankan iman mereka meskipun diancam bunuh oleh raja. Untuk menyelamatkan iman kemudian sekelompok pemuda lari ke gunung. Karena kelelahan, sesampai di gunung, mereka beristirahat di dalam sebuah gua di bukit Raqim. Dengan kekuasaan Allah, mereka tetap bertahan di dalam gua selama 309 tahun.

4.      Do’a Ashabul Kahfi di dalam Gua (Ayat 10]
Sekelompok pemuda yang dinamakan Ashabul Kahfi itu memohon kekuatan dari Allah berupa kasih sayang (rahmat) dan bimbingan (rasyad). Do’a mereka diabadikan dalam ayat 10, yaitu:

رَبَّنَآ ءَاتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رُشْدًا.

“Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan persiapkanlah kami menjadi pemuda yang cerdas sehingga kami dapat menyelesaikan segala tugas kami.”

Allah mengabulkan permohonan mereka dan mereka pun memperoleh kasih sayang dan bimbingan Allah dalam peristirahatan panjang mereka. Dengan kekuasaan Allah, mereka diberikan umur panjang sampai terjadi pergantian rejim atau kekuasaan dari raja yang zalim kepada raja yang taat kepada Allah. Pada masa raja yang taat itulah mereka dibangunkan kembali oleh Allah. Ketika mereka turun ke kota, mereka disambut baik oleh raja dan kemudian raja itu pun berjanji untuk membangun sebuah masjid sebagai prasasti di atas bukit raqim tersebut untuk mengenang kisah sekelompok pemuda itu.

5.      Bukti Kekuasaan Allah [Ayat 11-12]
Ayat 11-12 menjelaskan tentang kekuasaan Allah dalam menjaga dan mengawasi hamba-hamba-Nya. Selama dalam gua, para pemuda tersebut dikawal langsung oleh Allah. Allah memberikan daya hidup kepada mereka dan menutup telinga mereka agar tidur mereka tidak terganggu oleh suara bising dari luar. Dengan begitu, mereka pun dapat tidur nyenyak dan pulas. Dengan cara ini, Allah ingin menguji siapa di antara mereka yang paling tepat hitungannya tentang berapa lama mereka tertidur dalam gua itu. Mengenai waktu yang mereka habiskan dalam gua, mereka ternyata berbeda dalam hitungan. Ini berarti keterbatasan ilmu manusia untuk mengetahui secara pasti tentang pengalaman mereka selama dalam gua, khususnya tentang waktu yang telah mereka habiskan. Ada di antara mereka yang berpendapat, mereka berada di dalam gua hanya setengah hari saja; sementara yang lain mengatakan baru satu hari. Ini memberi pelajaran bagi manusia bahwa waktu berjalan demikian cepat; dan tidak ada yang pasti dalam perkiraan atau perhitungan manusia. Hanya ilmu Allah sajalah yang pasti. Ilmu manusia penuh dengan kemungkinan (probability) dan keraguan (doubtfulness). Wallahu a’lam! ■

1 komentar: