Kamis, 13 Januari 2011

AKAL DAN WAHYU

HUBUNGAN AKAL DAN WAHYU
DR. H. Hasan Basri, MA


Pengertian Akal

Akal berasal dari bahasa Arab, al-‘aql yang berarti “paham” atau “mengerti” atau “mengetahui.” Padanan kata al-‘aql adalah al-hijr artinya “menahan”, al-nuha artinya “kebijaksanaan”, dan al-qalb artinya “pemahaman”. Jadi, akal dapat dipakai dalam arti “kecerdasan praktis” (practical intelligence) atau dalam psikologi disebut “kecakapan untuk menyelesaikan masalah (problem solving capacity). Dengan demikian, orang berakal adalah orang yang mempunyai kecakapan untuk menyelesaikan masalah dan melepaskan diri dari bahaya..

Akal adalah alat untuk bepikir dan memahami sesuatu. Dengan akal, manusia dapat menyelesaikan persoalan-pesoalan kehidupan. Dengan akal, manusia dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah, yang pantas dilakukan dan yang tidak pantas dikerjakan. Dan karena ada akal itu juga manusia dibebankan kewajiban-kewajiban dan diberi tugas untuk menjadi ‘abid dan seklaigus sebagai khalifah di muka bumi.

Selanjutnya, wahyu berarti bisikan, isyarat, intuisi, atau ilham. Wahyu juga secara literal berarti suara, api dan kecepatan. Wahyu merupakan kalam Allah yang disampaikan kepada para rasul, termasuk yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW baik secara langsung maupun tidak langsung. Wahyu yang dimaksudkan dalam kajian ini adalah al-Qur’an yang terdiri dari 30 juz, 114 surat, dan 6236 ayat, dalam bentuk mushhaf al-Qur’an, yang susunannya dimulai dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat al-Nas.

Kedudukan Akal dalam al-Qur’an

Kata-kata yang dipakai dalam al-Qur’an untuk menggambarkan kegiatan berpikit, bukan hanya al-‘aql (‘aqala) tetapi juga kata-kata lain yang mengandung arti yang sama atau hampir sama.

1. Nazhara: melihat secara abstrak dalam arti “berpikir” atau “merenungkan”. Dalam bahasa Indonesia, kata-kata sudah diadopsi menjadi “penalaran”. Lihat surat Qaf: 6-7; al-Thariq: 5-7; dan al-Ghasyiyah: 17-20.
2. Tadabbara: merenungkan secara mendalam ayat-ayat Allah. Isyarat ini terdapat dalam surat Shad: 29; dan Muhammad: 24.
3. Tafakkara: memikirkan hasil ciptaan Allah. Isyarat ini terdapat dalam surat al-Nahl: 68-69; dan al-Jatsiyah: 12-13.
4. Faqiha: mengerti, memahami, atau mengetahui. Ini terdapat dalam surat al-Isra’: 44; al-An’am: 97-98; dan al-Taubah: 122.
5. Tadzakkara: mengingat, memperoleh peringatan, mendapat pelajaran, memperhatikan dan mempelajari. Isyarat ini dalam al-Qur’an terdapat dalam lebih dari 40 ayat, antara lain: surat al-Zumar: 9; al-Dzariyat: 47-49; dan al-Zumar: 27.
6. Fahima: memahami atau mengerti. Ini diisyaratkan dalam surat al-Anbiya’: 87-89.
7. ‘Aqala: mengerti, mengetahui, memahami, berpikir terdapat dalam lebih dari 45 ayat, antara lain: surat al-Anfal: 22; al-Nahl: 11-12; Yusuf: 111; Ali Imran: 190; al-Nur: 44; dan Thaha: 128.

Dengan demikian jelaslah bahwa akal menempati posisi penting dalam al-Qur’an. Tidak sedikit ayat yang mendorong akal agar berpikir, memahami, merenungkan, mengambil pelajaran, dan meneliti fenomena alam (ayat-ayat kauniyah), selain mengkaji dan menghayati ayat-ayat Qur’aniyah. Karena pentingnya kedudukan akal, maka akal tidak bertentangan dengan wahyu. Wahyu mengakui kedudukan dan fungsi akal; sementara akal berfungsi untuk memahami wahyu agar dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Hubungan Akal dan Wahyu

Dalam ajaran Islam, akal mempunyai kedudukan tinggi dan banyak dipakai, tidak hanya dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan, melainkan juga dalam perkembangan ajaran agama Islam itu sendiri. Pemakaian akal dalam Islam diperintahkan dalam al-Qur’an, seperti kata-kata afala ta’qilun, afala tatafakkarun, afala tatazakkarun. Karena itulah dapat dikatakan bahwa Islam adalah agama “rasional” artinya agama yang menggunakan akal sehat dalam memahami ajaran-ajarannya; demikian juga orang yang diberi kewajiban untuk melaksanakan ajaran adalah orang yang berakal sehat. Sebab itulah Rasulullah mengisyaratkan “la dina liman la ‘aqla lah” (tidak ada kewajiban agama bagi orang yang tidak mempunyai akal).

Dalam pemikiran Islam, baik di bidang Filsafat maupun Ilmu Kalam (Teologi), dan Fiqh, akal tidak pernah membatalkan wahyu; bahkan akal wajib tunduk kepada teks wahyu (nash). Teks wahyu tetap dianggap mutlak benar. Akal dipakai hanya untuk memahami teks wahyu dan tidak menetang wahyu sama sekali. Akal hanya memberi intrpretasi terhadap teks wahyu sesuai dengan kecenderungan dan kesanggupan pemberi ninterpretasi.

Sepanjang sejarah pemikiran Islam, yang dipertentangkan sebenarnya bukanlah akal dan wahyu, baik oleh kaum Mu’tazilah maupun oleh para Filosof Islam. Yang dipertentangkan adalah penafsiran (interpretasi) tertentu dari teks wahyu dengan penafsiran lain dari teks wahyu juga, yang dianggap berlawanan secara tekstual (ta’arudh). Jadi, yang bertentangan sebenarnya adalah pendapat akal ulama tertentu dengan pendapat akal ulama lain tentang penafsiran atau istinbath hukum dari teks wahyu, yang kemudian melahirkan pemikiran, pendapat, atau ijtihad yang berbeda-beda mengenai suatu hukum atau masalah.

Perlu ditegaskan bahwa pemakaian akal yang diperintahkan al-Qur’an seperti yang terdapat dalam ayat-ayat kauniyah mendorong manusia untuk meneliti alam sekitarnya dan mengembangkan ilmu pengatahuan dan teknologi. Karena itu, dengan pemakaian akal secara maksimal itulah maka manusia dapat menjalankan fungsi dan perannya sebagai khalifah di muka bumi.

Secara singkat dapat dikatakan bahwa hubungan akal dan wahyu adalah bahwa akal diberikan oleh Allah kepada manusia untuk memahami wahyu. Wahyu adalah kebenaran mutlak; sedangkan kebenaran akal adalah relatif (nisbi). Oleh sebab itu akal harus tunduk kepada wahyu; dan wahyu merupakan kebenaran yang wajib diikuti serta diamalkan sesuai dengan tingkat pemahaman yang mampu ditangkap oleh akal manusia. Di samping itu, keberadaan akal sangat dihargai dalam Islam, sehingga Rasulullah menyatakan: “Barangsiapa menggunakan akalnya secara maksimal tau berijtihad untuk mengistinbathkan suatu hukum, dan ijtihadnya itu benar maka ia diberi dua pahala; dan jika ijitihadnya itu salah, maka diberi satu pahala.” Pernyataan Rasulullah ini menunjukkan bahwa betapa pentingnya akal dalam memahami wahyu; dan hasil pemahaman wahyu oleh akal mendapat penghargaan dari Allah meskipun salah. Bagaimana pun juga akal merupakan alat untuk memahami dan menganalisis teks-teks wahyu untuk dapat diaplikasikan dalam kehidupan umat Islam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar