Kamis, 25 Oktober 2012

PENDIDIKAN ANAK DALAM KELUARGA




MEMBENTUK KEPRIBADIAN ANAK SEJAK USIA DINI

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, diwaktu ia memberi pelajaran kepadanya, “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (Luqman [31]: 13)

Muqaddimah
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBHI) terbitan Departemen Pendidikan Nasional disebutkan, prinsip adalah kebenaran yang menjadi pokok dasar berpikir dan bertindak. Prinsip diri berarti karakter diri yang menjadi daya gerak seseorang guna mencapai keberhasilan dan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat kelak. Bagaimana seseorang berperasaan, berpikir, dan bertindak semua itu terkait dengan prinsip diri yang dimiliki.
Di zaman sekarang, prinsip diri belum menjadi perhatian utama orangtua maupun para pendidik di sekolah atau pesantren. Terbukti anak-anak sekarang meskipun sudah memasuki usia aqil baligh, ketika melaksanakan ibadah shalat masih bercanda dan main-main.
Shalat belum mampu mencegah mereka meninggalkan ucapan jorok, menipu, berbohong, tawuran antar pelajar dan meninggalkan perbuatan dosa lainnya. Hal ini berlanjut hingga sang anak tumbuh dewasa.
Padahal secara fikih, sejak orang menginjak usia baligh, setiap pelanggaran atas syariat akan berdampak buruk bagi pelakunya (berdosa) dan setiap perbuatan baik juga mendapat balasan pahala pula.
Persoalannya, bagaimana mendidik anak-anak agar memiliki prinsip diri yang tangguh. Nah, ada beberapa pelajaran yang bisa kita petik dalam surah Luqman di atas tentang cara menanamkan prinsip diri pada anak:

1. Menanamkan Tauhid
Prinsip diri paling utama yang harus ditanam pada seorang anak adalah menjadikan Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) sebagai satu-satunya yang paling diistimewakan dalam hidupnya. Allahlah satu-satunya tempat bergantung. Kemanapun ia berada, selalu bersama Allah Yang Maha Mengawasi. Inilah pelajaran pertama dalam syariat Islam, yang menyelamatkan siapa saja bagi yang mengamalkan. Tak cukup hanya dengan teori, tapi indikasinya terlihat dari prinsip hidup yang menampakkan seorang anak didik itu ber-Tuhankan Allah. Jika prinsip ini sudah mendarah-daging, niscaya ia selalu berkata benar dan memperjuangkan kebenaran.


2. Mendidik Anak Memiliki Jiwa Syukur
Agar anak memiliki jiwa bersyukur, perlu ada teladan. Sebab, pendidikan yang terbaik adalah contoh. Tak sekedar berucap “Alhamdulillah,” namun dengan mewujudkannya dalam tindakan nyata. Anak yang bersyukur merupakan anak yang sadar bahwa ia telah menerima suatu pemberian. Lalu ia membalasnya dengan aktif dan semangat belajar dan bekerja. Bahkan bersyukur adalah salah satu cara berdoa agar diberi tambahan nikmat.

3. Mengajarkan Kemampuan Kontrol Diri
Berhati-hati dalam hidup, tak boleh sembrono, tidak pula sembarang berbuat karena memang bukan anak sembarangan. Setiap perasaan, pikiran dan tindakan -baik maupun buruk- akan kembali kepada diri sendiri. Semuanya akan dimintai pertanggungjawaban. Tak ada yang luput dari pantauan catatan malaikat. Sikap ihsan seperti ini mampu melahirkan perasaan selalu bersama Allah SWT. Sehingga lahirlah pribadi jujur dan akhlak yang baik.
“(Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui” (Luqman [31]: 16).

4. Mendidik Shalat Berjamaah
Shalat bukanlah tujuan, tapi sebagai latihan agar selalu mengingat Allah SWT. Dengan banyak mengingat-Nya (zikir), anak memiliki jiwa besar dalam menghadapi masalah dalam hidup. Orangtua dan sekolah hendaklah menjadikan waktu shalat sebagai program kegiatan yang diutamakan. Bila shalat dilaksanakan dengan baik dan benar, akan tertanam dalam jiwa perasaan selalu butuh kepada Allah SWT. Menjadikan Allah SWT sebagai sumber ilmu, sumber kebaikan dan kesuksesan.
Perasaan butuh kepada Allah SWT dengan mengagungkan-Nya melalui shalat akan menggerakkan jiwa sang anak senang kepada kebaikan dan bertindak menghindari perbuatan tercela. Bahkan kemudian dengan dorongan imannya akan mencegah kemunkaran yang terjadi. Kesadaran anak mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran tentu membutuhkan kesabaran luar biasa. Oleh karena itu, shalat juga berfungsi sebagai sarana menanamkan kesabaran.

5. Mendidik Anak Bersikap Hidup Sederhana
“Wa iqshid” berasal dari kata “qashada” yang berarti menuju. Bentukan yang lain adalah “iqtashada-yaqtashidu”. Kata “iqtishad” sering diartikan sederhana atau ekonomi. Karena itu, orang yang secara ekonomi berkecukupan haruslah tetap dalam kesederhanaan. Selalu waspada terhadap rayuan materi, kedudukan maupun popularitas. Sikap membangga-banggakan diri, sombong, dan angkuh adalah sifat tidak terpuji. Bagaimanapun banyaknya harta, luasnya ilmu, sekolah atau jabatan yang tinggi, tapi kesederhanaan adalah prinsip diri.

Itulah generasi unggulan standar al-Qur’an. Generasi pilihan yang akan membangun peradaban Islam pada zamannya. Al-Qur’an memerintahkan kita mencontoh Luqman agar memberikan dasar-dasar atau intisari materi pelajaran yang seharusnya menjadi karakter dasar anak didik.                 
Karenanya, bagi orangtua yang ingin menyekolahkan anak-anaknya layak menjadikan standar al-Qur’an ini sebagai pedoman memilih sekolah. Apakah kelima materi pelajaran tersebut telah “hidup” pada diri para pendidik di sekolah yang akan dipilih? Sebab, merekalah orang kedua setelah orangtua yang sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter anak-anak kita. Memilih sekolah bukanlah dilihat pada mewah dan lengkapnya infrastuktur, bukan pula pada gebyar sekolah itu yang sering dilaksanakan. Bukan pula kunjungan pejabat ataupun nilai akreditasi sekolah yang diperoleh.
Untuk para orangtua hendaklah mendidik anak-anak di rumah dengan standard al-Qur’an. Sebab, kita semua menginginkan anak-anak menjadi pribadi saleh dan salehah serta berbakti kepada kedua orangtuanya. Namun, pendidikan yang utama dan terbaik adalah teladan. Teladan kesalehan seluruh anggota keluarga di rumah dan teladan dari guru-gurunya di sekolah maupun lingkungannya. Wallahu a’lam. Diadopsi dari SUARA HIDAYATULLAH/Abu Awwab,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar