Rabu, 10 Oktober 2012

MATERI KULIAH ULUMUL QUR'AN (Bag. 1)


MATERI KULIAH ULUMUL QUR’AN
(Suatu Pengantar)
DR. H. Hasan Basri, MA

A.       Ulumul Qur’an dan Sejarahnya
1.      Pengertian Ulumul Qur’an
a.      Makna al-Qur’an
القرآن هو الكلام المعجز المنزل على النبي محمد بن عبد الله المكتوب فى المصاحف المنقول بالتواتر المتعبد بتلاوته.
Al-Qur’an ialah firman Allah yang mengandung mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad bin Abdullah, tertulis dalam mushhaf-mushhaf, diriwayatkan secara mutawatir, dan membacanya menjadi ibadah.
b.      Makna Ulumul Qur’an
علوم القرآن: الإبحاث التى تتعلق بهذا الكتاب المجيد من حيث النزول والجمع والترتيب والتدوين ومعرفة أسباب النزول والمكى والمدنى ومعرفة الناسخ والمنسوخ والمحكم والمتشابه وغير ذلك من الإبحاث التى تتعلق بالقرآن الكريم.
Ulumul Qur’an ialah ilmu-ilmu yang membahas hal-hal yang berkaitan dengan al-Qur’an dari segi turunnya, pengumpulannya, sistematikanya, dan pembukuannya; mengetahui sebab-sebab turunnya, ayat-ayat yang diturunkan di Makkah dan Madinah, mengetahui Nasikh dan Mansukh, ayat-ayat Muhkam dan Mutasyabih, dan pembahasan lain dari al-Qur’an al-Karim.
  1. Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Ulumul Qur’an
a.      Masa Nabi Muhammad SAW
Pada masa Nabi Muhammad, Ulumul Qur’an belum berkembang sebagaimana masa-masa berikutnya. Setiap menerima wahyu dari Allah, Nabi Muhammad langsung menyampaikannya kepada para sahabatntya; dan mereka menghafal, memahami serta mengamalkan pesan-pesan al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Sebab itulah maka pada masa itu para sahabat tidak mengalami kesulitan dalam memahami hal-hal yang berkenaan dengan al-Qur’an. Selain itu, Nabi Muhammad melarang para sahabat untuk mencatat atau menulis selain ayat-ayat al-Qur’an. Ini bertujuan agar wahyu (ayat al-Qur’an) tidak bercampur dengan ucapan-ucapan pribadi Nabi Muhammad.
Pada masa Nabi Muhammad dapat dikatakan bahwa Ulumul Qur’an belum muncul dan para sahabat pun belum memerlukannya karena alasan-alasan sebagai berikut:
1)      Para sahabat mempunyai daya hafalan yang kuat.
2)      Para sahabat pada umumnya memiliki kecerdasan yang tinggi dan daya tangkap yang cepat.
3)      Para sahabat mempunyai kemampuan bahasa Arab dan balaghah (sastra).
4)      Kebanyakan sahabat terdiri dari orang-orang yang ummiy (tidak pandai menulis dan membaca) sehingga mereka lebih mengandalkan hafalan.
5)      Pada masa Nabi Muhammad belum ada alat tulis yang memadai.
6)      Para sahabat lebih terbiasa menyampaikan pesan melalui lisan (tradisi lisan)  daripada tulisan.
7)      Kalau ada persoalan yang belum jelas, para sahabat dapat menanyakannya langsung kepada Nabi Muhammad.
Perlu dicatat bahwa pada masa Nabi Muhammad, ada dua hal yang membuat al-Qur’an terjaga:
1)      Hafalan yang tersimpan rapi dan terjaga dalam dada para sahabat Nabi Muhammad.
2)      Teks al-Qur’an sudah ditulis seluruhnya oleh pencatat wahyu, antara lain Zaid bin Tsabit; tetapi belum tersusun secara teratur. Catatan wahyu itu masih berserakan dalam lembaran-lembaran yang terdiri dari kulit, tulang, pelepah kurma, kayu, batu tipis.
Tokoh-tokoh Penulis Wahyu pada Masa Nabi Muhammad adalah:
1)      Abu Bakar ash-Shiddiq
2)      ‘Umar bin Khaththab
3)      ‘Utsman bin ‘Affan
4)      ‘Ali bin Abi Thalib
5)      Ubai bin Ka’ab
6)      Zaid bin Tsabit
7)      Abdullah bin Mas’ud
8)      Abu Musa al-Asy’ari
9)      Khalid bin Walid
10)  Aban bin Sa’id
11)  Mu’awiyah bin Abi Shufyan
12)  Zubair bin ‘Awwam
13)  Handhalah bin al-Rabi’ al-Asadi
14)  Mu’aiqid bin Abi Fathimah
15)  ‘Abdullah bin Arqam
16)  Tsabit bin Qais
17)  Thalhah bin ‘Ubaidillah
18)  Sa’ad bin Abi Waqash
19)  Amir bin Fudhairah
20)  Hudzaifah bin al-Yaman
21)  Mughirah bin Syu’bah
22)  Amru bin ‘Ash
  • Orang yang pertama kali menulis wahyu di Makkah adalah: ‘Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarh.
  • Orang yang pertama kali menulis wahyu di Madinah adalah: Ubay bin Ka’ab dan Zaid bin Tsabit.
  • Di antara mereka yang paling banyak menulis wahyu adalah: Zaid bin Tsabit dan ‘Ali bin Abi Thalib.
  • Sebagian sahabat Nabi Muhammad telah mengumpulkan al-Qur’an untuk dirinya masing-masing sebagai pedoman. Di antara mereka yang mempunyai naskah tertulis dari al-Qur’an adalah:
1)      ‘Ali bin Abi Thalib
2)      Mu’adz bin Jabal
3)      Ubai bin Ka’ab
4)      Zaid bin Tsabit
5)      ‘Abdullah bin Mas’ud
·      Di antara mereka, yang paling mengetahui tentang urutan al-Qur’an serta Nasikh dan Mansukh-nya adalah: Zaid bin Tsabit.
·      Tertib susunan surat dan ayat dalam Mushhaf al-Qur’an sudah dilakukan sejak Nabi Muhammad berdasarkan TAUQIFI (petunjuk wahyu). Nabi Muhammad menyuruh sahabat untuk menulis ayat-ayat al-Qur’an dan meletakkannya sesuai dengan perintah wahyu.
ضعوا هذا فى السورة يذكر فيها كذا وكذا (رواه الترمذى)
Artinya: Letakkanlah ayat ini pada surat ini yang di dalamnya disebut begini dan begini (Hadits riwayat al-Turmudzi).
·      Untuk menjaga hafalan dan bacaan, Jibril datang menemui Nabi Muhammad sekali dalam setahun; pertemuan ini disebut TALAQQI.
·      Menjelang kewafatan Nabi Muhammad, Jibril datang dua kali menemui nabi untuk melakukan menguji hafalan dan bacaannya.
b.      Masa al-Khulafa’ al-Rasyidun 
Pasca kewafatan Nabi Muhammad, misi Islam diteruskan oleh para sahabatnya di bawah kepemimpinan Khalifah yang Empat, yaitu Abu Bakar al-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib, yang lazim disebut dengan istilah Khulaf’urrasyidin.
Pada masa Khalifah Abi Bakar al-Shiddiq dan Umar bin Khattab, Ulumul Qur’an belumlah lahir meskipun agama Islam telah berkembang sampai ke luar Jazirah Arabia. Kemudian, pada masa Khalifah utsman bin Affan, Islam semakin berkembangan ke negara-negara lain di luar Arab. Karena meluasnya perkembangan Islam, penganut agama Islam semakin bertambah dan semakin bervariasi pula pengetahuan mereka tentang al-Qur’an. Maka, terjadilah perbedaan-perbedaan bacaan al-Qur’an yang mengkhawatirkan para sahabat, pada masa itu, akan terjadi penyimpangan pemahaman dan ketidakseragaman dalam membaca al-Qur’an di kalangan umat Islam.
Untuk mengatasi perbedaan tersebut, Khalifah Utsman bin Affan memerintahkan para pakar al-Qur’an di kalangan sahabat penghafal al-Qur’an (huffazh) untuk menulis dan menyatukan dalam satu mushhaf ayat-ayat al-Qur’an yang pernah dikumpulkan pada masa Khalifah Abu Bakar dan msuhhaf itu diberi nama Mushhaf Utsmani. Dari mushhaf ini kemudian disalin beberapa naskah dalam bentuk  mushhaf yang dikirim ke wilayah-wilayah Islam di luar Madinah, seperti Makkah, Kufah, Bashrah, dan Syam.
Mushhaf yang ditulis pada masa Khalifah Utsman bin Affan disebut al-Mushhaf ‘Ala Rasm al-‘Utsmani. Dengan demikian, pada masa Khalifah Utsman bin Affan sudah lahir ilmu Rasmil Qur’an atau ilmu Rasmil Utsmani.
Pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib timbul pula perbedaan dan penyimpangan penggunaan bahasa Arab sebagai bahasa al-Qur’an. Untuk mencegah terjadinya penyimpangan dalam memahami ayat-ayat al-Qur’an, Ali bin Abi Thalib memerintahkan Abu Aswad al-Duwali untuk membuat sebagian kaidah bahasa Arab dan aturan-aturan bacaannya. Upaya ini kemudian melahirkan ilmu Nahwu dan ilmu I’rabil Qur’an.
Setelah itu, Ulumul Qur’an dikembangkan oleh generasi berikutnya antara lain:
1)      Mujahid (w. 103 H)
2)      Atha’ bin Abu Rabah (w. 114 H)
3)      Ikrimah (w. 105 H)
4)      Qatadah bin Di’amah (w. 118 H)
5)      al-Hasan al-Bashri (w. 110 H)
6)      Sa’id ibn Jubair (w. 136 H)
7)      Zaid bin Aslam (w. 136 H)
Mereka dianggap sebagai peletak dasar ilmu-ilmu yang diberi nama: ‘Ilm al-Tafsir, ‘Ilm Asbab al-Nuzul, ‘Ilm al-Nasikh wa al-Mansukh, dan ‘Ilm Gharib al-Qur’an.

2 komentar: