MENELISIK SEJARAH TURUNNYA AL-QUR'AN
DR. H. Hasan
Basri, MA
Al-Qur’an bukan sekadar kitab suci, tetapi wahyu ilahi yang
memiliki sejarah panjang dan penuh makna dalam proses turunnya. Menelisik
sejarah turunnya al-Qur’an membantu kita memahami bagaimana Islam hadir secara
bertahap, membimbing umat manusia dengan hikmah dan kebijaksanaan.
1. Turun pada Bulan Ramadhan
Al-Qur’an pertama kali diturunkan pada bulan Ramadhan. Allah
berfirman:
“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan
al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia…” (QS. Al-Qur'an, al-Baqarah [2]: 185)
Ayat ini menegaskan kemuliaan Ramadhan sebagai momentum awal
turunnya wahyu. Para ulama menjelaskan bahwa al-Qur’an diturunkan secara
keseluruhan dari Lauḥ al-Maḥfūẓ ke langit dunia (Bayt al-‘Izzah), lalu
diturunkan secara bertahap kepada Nabi Muhammad ﷺ.
2. Wahyu Pertama di Gua Hira’
Peristiwa monumental turunnya wahyu pertama terjadi ketika Nabi
Muhammad ﷺ sedang bertahannuts di Gua Hira, di Jabal
Nur, Makkah. Malaikat Jibril datang membawa lima ayat pertama surah al-‘Alaq:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan…” (QS.
Al-Qur'an, al-‘Alaq [96]: 1–5)
Kisah ini diriwayatkan secara panjang dalam hadis sahih oleh Aisyah
dan tercantum dalam Sahih al-Bukhari, yang menjelaskan bagaimana Nabi merasa
gemetar dan kembali kepada Khadijah seraya berkata, “Zammiluni, zammiluni
(Selimuti aku).”
3. Turun Secara Bertahap (Tadarruj)
Al-Qur’an tidak turun sekaligus kepada Nabi Muhammad ﷺ, melainkan secara bertahap selama kurang
lebih 23 tahun: 13 tahun di Makkah dan 10 tahun di Madinah.
Allah berfirman:
“Dan al-Qur’an itu Kami turunkan secara berangsur-angsur agar
engkau membacakannya perlahan-lahan kepada manusia…” (QS.
Al-Qur'an, al-Isra’ [17]: 106)
Hikmah dari turunnya secara bertahap antara lain:
a.
Menguatkan hati Nabi dan para sahabat
b.
Menjawab persoalan yang muncul secara
kontekstual
c.
Mendidik umat secara gradual
4. Malam Lailatul Qadar
Al-Qur’an juga dikaitkan dengan malam penuh kemuliaan, Lailatul
Qadar:
“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam Lailatul Qadar.” (QS.
Al-Qur'an, al-Qadr [97]: 1)
Malam ini menjadi simbol bahwa wahyu hadir sebagai cahaya yang
menerangi kegelapan peradaban.
Penutup
Menelisik sejarah turunnya al-Qur’an bukan sekadar mengenang
peristiwa masa lalu, tetapi menyadari bahwa wahyu hadir secara kontekstual,
penuh hikmah, dan relevan sepanjang zaman. Ia turun di bulan Ramadhan, dimulai
dengan perintah membaca, dan hadir secara bertahap untuk membentuk peradaban.
Karena itu, memahami sejarah turunnya al-Qur’an akan menumbuhkan
rasa hormat, kedekatan, dan tanggung jawab kita untuk terus membaca, memahami,
dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.🕋
Tidak ada komentar:
Posting Komentar