Senin, 16 Maret 2026

SHALAT: MI‘RAJ ORANG BERIMAN

 

SHALAT: MI‘RAJ ORANG BERIMAN

DR. H. Hasan Basri, MA

 

Shalat disebut sebagai mi‘raj (perjalanan spiritual) orang beriman karena melalui shalat, seorang hamba berkomunikasi dan mendekatkan diri secara langsung kepada Allah SWT.

 

1. Sarana Kedekatan dengan Allah

Dalam shalat, seorang mukmin berdiri, rukuk, dan sujud dengan penuh khusyuk sebagai bentuk kepasrahan total kepada Allah. Saat sujud, hamba berada pada posisi paling dekat dengan Rabb-nya.

 

2. Perjalanan Spiritual Jiwa

Sebagaimana Nabi Muhammad melakukan Isra’ dan Mi‘raj, shalat menjadi perjalanan ruhani yang mengangkat jiwa dari urusan dunia menuju ketenangan dan kesadaran akan kehadiran Allah.

 

3. Media Dialog dengan Allah

Shalat adalah bentuk dialog antara hamba dan Tuhannya. Bacaan shalat, terutama Al-Fatihah, merupakan komunikasi langsung yang penuh makna dan pengharapan.

 

4. Penjaga Akhlak dan Keimanan

Shalat yang benar dan khusyuk mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar serta memperkuat keimanan dalam kehidupan sehari-hari.

 

5. Sumber Ketenangan dan Kekuatan Hidup

Shalat memberikan ketenangan batin, menguatkan hati dalam menghadapi ujian, dan menjadi penopang spiritual bagi orang beriman.

 

6. Kesimpulan

Shalat bukan sekadar kewajiban ritual, tetapi merupakan mi‘raj orang beriman—sarana untuk naik secara spiritual, mendekat kepada Allah, dan memperbaiki kualitas iman serta amal. HB 🕋🌈

MEMAKNAI SHALAT MALAM

 

MEMAKNAI SHALAT MALAM: JALAN SUNYI MENUJU POSISI TERPUJI

DR. H. Hasan Basri, MA

 

Shalat malam (qiyām al-lail), termasuk di dalamnya tahajud, witir, dan tarawih, merupakan ibadah sunnah yang memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Ia disebut sebagai ibadah orang-orang saleh, karena dikerjakan saat kebanyakan manusia terlelap, dalam suasana sunyi yang menghadirkan keikhlasan dan kedekatan spiritual yang mendalam dengan Allah Swt.

 

1. Shalat Malam sebagai Perintah dan Anjuran Ilahi

Al-Qur’an secara tegas mengisyaratkan keutamaan shalat malam sebagai sarana penguatan ruhani dan moral seorang mukmin. Allah Swt berfirman:

“Dan pada sebagian malam hari, bertahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isrā’ [17]: 79)

Ayat ini menunjukkan bahwa shalat malam bukan sekadar ibadah tambahan, tetapi jalan menuju maqām maḥmūd—kedudukan terpuji di sisi Allah.

 

2. Ciri Orang Beriman dan Hamba Pilihan

Shalat malam juga digambarkan sebagai karakter utama hamba-hamba Allah yang sejati. Dalam Al-Qur’an disebutkan:

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya; mereka berdoa kepada Tuhan mereka dengan rasa takut dan harap.” (QS. As-Sajdah [32]: 16)

Ayat ini menegaskan bahwa shalat malam adalah ekspresi keseimbangan iman: antara rasa takut (khauf) dan harapan (raja’) kepada Allah Swt.

 

3. Teladan Rasulullah dalam Shalat Malam

Rasulullah adalah teladan utama dalam menghidupkan malam dengan shalat. Bahkan, beliau melakukannya secara konsisten hingga kakinya bengkak. Ketika ditanya alasan beliau bersungguh-sungguh dalam shalat malam, Rasulullah bersabda:

 

“Tidakkah aku menjadi hamba yang bersyukur?” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa shalat malam merupakan manifestasi syukur terdalam seorang hamba atas nikmat Allah.

Dalam hadis lain, Rasulullah bersabda:

“Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim)

 

4. Dimensi Spiritual dan Sosial Shalat Malam

Shalat malam bukan hanya berdampak pada ketenangan batin, tetapi juga membentuk kepribadian yang rendah hati, sabar, dan berakhlak mulia. Doa-doa yang dipanjatkan di sepertiga malam terakhir diyakini sebagai waktu paling mustajab, sebagaimana sabda Rasulullah :

“Tuhan kita turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, lalu berfirman: ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku kabulkan…’” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

 

5. Kesimpulan

Memaknai shalat malam berarti memahami bahwa ia adalah ruang dialog paling jujur antara hamba dan Tuhannya. Di saat sunyi, tanpa sorotan manusia, shalat malam melatih keikhlasan, memperkuat iman, dan meneguhkan arah hidup seorang mukmin. Meski hukumnya sunnah, nilai dan dampaknya sangat besar dalam membentuk kedalaman spiritual dan ketangguhan moral seorang Muslim.🕋HB

MARHABAN YA RAMADHAN 1447 H

 

MARHABAN YA RAMADHAN: BULAN MULIA PENUH PENGAMPUNAN

DR. H. Hasan Basri, MA

 

 

1. Makna “MarḥabānYā Ramaḍān”

Ungkapan Marḥabān Yā Ramaḍān berarti “Selamat datang wahai Ramadhan.” Ia bukan sekadar ucapan seremonial, melainkan ekspresi kegembiraan, kesiapan ruhani, dan tekad memperbaiki diri dalam menyambut bulan suci. Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an, bulan puasa, bulan ampunan, dan bulan pembebasan dari api neraka.

Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 183)

Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama Ramadhan adalah pembentukan taqwa—kesadaran ilahiah yang melahirkan kedisiplinan spiritual dan moral.

 

2. Ramadhan: Bulan Diturunkannya Al-Qur’an

Keistimewaan terbesar Ramadhan adalah turunnya Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup.

“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang benar dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah [2]: 185)

Karena itu, menyambut Ramadhan berarti memperbarui komitmen terhadap Al-Qur’an: membacanya, mentadabburinya, dan mengamalkannya.

 

3. Ramadhan: Bulan Rahmat dan Ampunan

Rasulullah memberikan kabar gembira tentang kemuliaan Ramadhan. Dalam hadis sahih riwayat Abu Hurairah, Nabi bersabda:

 

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadis lain dijelaskan:

“Apabila datang bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa Ramadhan adalah momentum ilahiah untuk memperbaiki diri, karena suasana spiritualnya sangat kondusif.

 

4. Keutamaan Lailatul Qadar

Salah satu kemuliaan Ramadhan adalah adanya malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu Lailatul Qadar.

Allah berfirman dalam Surah Al-Qadr:

“Lailatul Qadar lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr [97]: 3)

Malam ini menjadi puncak spiritual Ramadhan, di mana doa dan ibadah dilipatgandakan nilainya.

 

5. Manifestasi “Marḥabā Yā Ramaḍān” dalam Amal Nyata

Menyambut Ramadhan tidak cukup dengan ucapan, tetapi harus diwujudkan dalam:

a. Taubat dan pembersihan hati

“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur [24]: 31)

 

b. Memperbanyak sedekah

Rasulullah adalah orang yang paling dermawan, dan lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan (HR. Bukhari).

 

c. Qiyamul lail (shalat malam)

 

“Barangsiapa yang mendirikan (shalat malam) pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

d. Menjaga lisan dan akhlak

“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari)

 

6. Penutup: Ramadhan sebagai Madrasah Taqwa

Ramadhan adalah madrasah ruhani selama sebulan penuh. Ia melatih kesabaran, empati sosial, kedisiplinan, dan ketundukan kepada Allah. Ucapan Marḥabā Yā Ramaḍān sejatinya adalah deklarasi kesiapan untuk berubah menjadi pribadi yang lebih bertakwa.

Semoga Allah mempertemukan kita dengan Ramadhan, memberi kekuatan untuk mengisinya dengan amal terbaik, dan menerima seluruh ibadah kita.

Allah yang Maha Agung, Ya Allah, mulailah bulan Ramadhan ini dengan penuh keamanan dan keimanan, keselamatan dan kesejahteraan, penuh bimbingan ke jalan yang Engkau cintai dan ridhai, dan Engkaulah Rabb pencipta dan pemelihara seluruh makhluk.🕋🖌️

BERDIALOG DENGAN AL-QUR'AN DI BULAN RAMADHAN

 

BERDIALOG DENGAN AL-QUR'AN DI BULAN RAMADHAN

DR. H. Hasan Basri, MA

 

"Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur'an untuk peringatan, maka adakah

orang yang mau mengambil pelajaran?"

(QS. Al-Qamar 54: Ayat 17)

 

Bulan Ramadhan bukan sekadar momentum menahan lapar dan dahaga. Ia adalah bulan turunnya Al-Qur’an—bulan ketika langit dan bumi dipertautkan melalui wahyu. Allah berfirman:

“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang benar dan yang batil)” (QS. al-Baqarah [2]: 185).

Ayat ini menegaskan bahwa identitas utama Ramadhan adalah Al-Qur’an. Karena itu, Ramadhan seharusnya menjadi bulan berdialog dengan Al-Qur’an—bukan hanya membacanya, tetapi menghayati, merenungi, dan membiarkannya menjawab kegelisahan hidup kita.

 

Ramadhan dan Tradisi Tadarrus

Dalam sebuah hadis sahih disebutkan bahwa setiap malam di bulan Ramadhan, Malaikat Jibril datang menemui Nabi untuk mudarasah (saling membaca dan mengkaji) Al-Qur’an.

Hadis riwayat Sahih al-Bukhari menyebutkan:

“Jibril menemui Nabi setiap malam pada bulan Ramadhan, lalu mereka saling mempelajari Al-Qur’an.”

Tradisi mudarasah ini menunjukkan bahwa Ramadhan adalah musim interaksi intens dengan wahyu. Nabi yang telah dijamin kesuciannya pun tetap mengulang dan mendalami Al-Qur’an setiap Ramadhan. Maka, bagaimana dengan kita?

 

Dari Membaca Menuju Berdialog

Allah menantang manusia untuk tidak sekadar membaca, tetapi merenungi:

 

“Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur’an?” (QS. Muhammad [47]: 24).

Kata tadabbur berarti menelusuri makna hingga ke belakang dan ke dalam. Berdialog dengan Al-Qur’an berarti:

1. Membaca dengan kesadaran — menghadirkan hati, bukan sekadar suara.

2. Merenungi pesan — bertanya: apa yang Allah ingin sampaikan kepadaku hari ini?

3. Menghubungkan dengan realitas hidup — menjadikan ayat sebagai cermin diri.

4. Mengamalkan pesan — karena Al-Qur’an turun untuk dijalani, bukan hanya dilagukan.

 

Al-Qur’an sebagai Sahabat Spiritual

Rasulullah bersabda:

“Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi pembacanya.” (HR. Sahih Muslim)

Hadis ini memberi harapan besar. Interaksi kita hari ini dengan Al-Qur’an bukan hanya berdampak pada ketenangan batin, tetapi juga pada keselamatan akhirat.

Bahkan dalam hadis lain disebutkan bahwa orang yang mahir membaca Al-Qur’an akan bersama para malaikat yang mulia, dan yang terbata-bata tetap mendapat dua pahala (HR. Bukhari dan Muslim). Ini menunjukkan bahwa yang dinilai bukan kefasihan semata, tetapi kesungguhan hati.

 

Ramadhan: Momentum Transformasi

Ramadhan adalah bulan pembentukan karakter. Puasa melatih pengendalian diri, sedangkan Al-Qur’an memberi arah nilai. Ketika keduanya bersatu, lahirlah pribadi muttaqīn—sebagaimana tujuan puasa dalam QS. al-Baqarah [2]: 183.

Berdialog dengan Al-Qur’an di bulan Ramadhan berarti menjadikan wahyu sebagai penuntun perubahan:

1. Dari lalai menjadi sadar

2. Dari keras menjadi lembut

3. Dari putus asa menjadi penuh harapan

4. Dari egois menjadi empatik

 

Praktik Sederhana Berdialog dengan Al-Qur’an

Agar Ramadhan lebih bermakna, kita bisa memulai dengan langkah sederhana:

1. Menetapkan waktu khusus tadabbur setelah Subuh atau Tarawih

2. Membaca terjemah dan tafsir ringkas

3. Menulis satu pelajaran harian dari satu ayat

4. Mengamalkan minimal satu nilai setiap hari

Al-Qur’an bukanlah kitab yang jauh dari realitas; ia hadir untuk membimbing kehidupan sehari-hari. Setiap ayat adalah jawaban bagi jiwa yang mau bertanya.

 

Penutup

Ramadhan akan berlalu, tetapi dialog dengan Al-Qur’an seharusnya tidak berhenti. Jika Ramadhan adalah madrasah ruhani, maka Al-Qur’an adalah kurikulumnya.

Semoga kita tidak hanya menjadi pembaca Al-Qur’an, tetapi sahabatnya—yang akrab dengan pesannya, hidup dengan nilainya, dan kelak dikumpulkan bersama orang-orang yang dimuliakan karena wahyu.

Marhaban ya Ramadhan. Mari kita hidupkan malam dan siang kita dengan cahaya Al-Qur’an. 🌙🕋

MENELISIK SEJARAH TURUNNYA AL-QUR'AN

 

MENELISIK SEJARAH TURUNNYA AL-QUR'AN

DR. H. Hasan Basri, MA

 

Al-Qur’an bukan sekadar kitab suci, tetapi wahyu ilahi yang memiliki sejarah panjang dan penuh makna dalam proses turunnya. Menelisik sejarah turunnya al-Qur’an membantu kita memahami bagaimana Islam hadir secara bertahap, membimbing umat manusia dengan hikmah dan kebijaksanaan.

 

1. Turun pada Bulan Ramadhan

Al-Qur’an pertama kali diturunkan pada bulan Ramadhan. Allah berfirman:

“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia…” (QS. Al-Qur'an, al-Baqarah [2]: 185)

Ayat ini menegaskan kemuliaan Ramadhan sebagai momentum awal turunnya wahyu. Para ulama menjelaskan bahwa al-Qur’an diturunkan secara keseluruhan dari Lauḥ al-Maḥfūẓ ke langit dunia (Bayt al-‘Izzah), lalu diturunkan secara bertahap kepada Nabi Muhammad .

 

2. Wahyu Pertama di Gua Hira’

Peristiwa monumental turunnya wahyu pertama terjadi ketika Nabi Muhammad sedang bertahannuts di Gua Hira, di Jabal Nur, Makkah. Malaikat Jibril datang membawa lima ayat pertama surah al-‘Alaq:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan…” (QS. Al-Qur'an, al-‘Alaq [96]: 1–5)

Kisah ini diriwayatkan secara panjang dalam hadis sahih oleh Aisyah dan tercantum dalam Sahih al-Bukhari, yang menjelaskan bagaimana Nabi merasa gemetar dan kembali kepada Khadijah seraya berkata, “Zammiluni, zammiluni (Selimuti aku).”

 

3. Turun Secara Bertahap (Tadarruj)

Al-Qur’an tidak turun sekaligus kepada Nabi Muhammad , melainkan secara bertahap selama kurang lebih 23 tahun: 13 tahun di Makkah dan 10 tahun di Madinah.

 

Allah berfirman:

“Dan al-Qur’an itu Kami turunkan secara berangsur-angsur agar engkau membacakannya perlahan-lahan kepada manusia…” (QS. Al-Qur'an, al-Isra’ [17]: 106)

Hikmah dari turunnya secara bertahap antara lain:

a.    Menguatkan hati Nabi dan para sahabat

b.    Menjawab persoalan yang muncul secara kontekstual

c.     Mendidik umat secara gradual

 

4. Malam Lailatul Qadar

Al-Qur’an juga dikaitkan dengan malam penuh kemuliaan, Lailatul Qadar:

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam Lailatul Qadar.” (QS. Al-Qur'an, al-Qadr [97]: 1)

Malam ini menjadi simbol bahwa wahyu hadir sebagai cahaya yang menerangi kegelapan peradaban.

 

Penutup

Menelisik sejarah turunnya al-Qur’an bukan sekadar mengenang peristiwa masa lalu, tetapi menyadari bahwa wahyu hadir secara kontekstual, penuh hikmah, dan relevan sepanjang zaman. Ia turun di bulan Ramadhan, dimulai dengan perintah membaca, dan hadir secara bertahap untuk membentuk peradaban.

Karena itu, memahami sejarah turunnya al-Qur’an akan menumbuhkan rasa hormat, kedekatan, dan tanggung jawab kita untuk terus membaca, memahami, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.🕋

BERINTERAKSI DENGAN AL-QUR'AN

 

BERINTERAKSI DENGAN AL-QUR'AN

DR. H. Hasan Basri, MA

 

"Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur'an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman." (QS. Yunus 10: Ayat 57)

Al-Qur’an bagi umat Islam bukan sekadar kitab suci yang dibaca pada waktu-waktu tertentu. Ia adalah petunjuk hidup, sumber inspirasi, sekaligus cahaya yang membimbing manusia menuju jalan yang benar. Karena itu, hubungan seorang Muslim dengan Al-Qur’an tidak cukup hanya sebatas membaca, tetapi harus sampai pada tahap berinteraksi secara aktif dengan pesan-pesan yang terkandung di dalamnya.

Allah menegaskan fungsi Al-Qur’an sebagai petunjuk dalam Surah Al-Baqarah:

“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan di dalamnya; menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 2)

Ayat ini menegaskan bahwa Al-Qur’an bukan sekadar teks suci, melainkan panduan hidup yang harus dipahami dan diamalkan.

 

Membaca Al-Qur’an dengan Kesadaran

Langkah pertama dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an adalah membacanya dengan kesadaran dan penghormatan. Membaca Al-Qur’an merupakan ibadah yang menghadirkan ketenangan dan keberkahan bagi pembacanya.

Allah berfirman dalam Surah Al-Muzzammil:

“Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil (perlahan-lahan).” (QS. Al-Muzzammil: 4)

Membaca dengan tartil menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak dibaca secara tergesa-gesa, tetapi dengan penghayatan yang mendalam. Selain itu, Al-Qur’an juga memiliki kekuatan spiritual yang mampu menenangkan hati manusia. Hal ini ditegaskan dalam Surah Ar-Ra'd:

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Karena itu, membaca Al-Qur’an tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga menjadi sarana penyucian jiwa.

 

Memahami dan Mentadabburi

Interaksi yang lebih dalam dengan Al-Qur’an terjadi ketika seorang Muslim memahami dan merenungkan maknanya. Dalam tradisi Islam, hal ini dikenal dengan istilah tadabbur.

Allah mengingatkan pentingnya tadabbur dalam Surah Shad:

“Ini adalah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya.” (QS. Shad: 29)

Bahkan Al-Qur’an mengecam orang-orang yang membaca tanpa merenungkan maknanya. Dalam Surah Muhammad disebutkan:

“Apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur’an ataukah hati mereka telah terkunci?” (QS. Muhammad: 24)

Ayat ini mengingatkan bahwa memahami Al-Qur’an adalah bagian penting dari interaksi spiritual seorang Muslim dengan kitab sucinya.

 

Mengamalkan Nilai-Nilai Al-Qur’an

Tujuan utama diturunkannya Al-Qur’an adalah agar manusia menjalankan petunjuknya dalam kehidupan. Al-Qur’an tidak hanya mengajarkan hubungan dengan Allah, tetapi juga membimbing manusia dalam kehidupan sosial.

Allah menjelaskan fungsi Al-Qur’an dalam Surah An-Nahl:

“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an untuk menjelaskan segala sesuatu serta menjadi petunjuk, rahmat, dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. An-Nahl: 89)

Selain itu, Al-Qur’an juga disebut sebagai cahaya yang membimbing manusia keluar dari kegelapan menuju kebenaran. Hal ini ditegaskan dalam Surah Al-Ma'idah:

“Sungguh telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang jelas.” (QS. Al-Ma’idah: 15)

Dengan demikian, interaksi dengan Al-Qur’an harus menghasilkan perubahan dalam perilaku dan cara berpikir manusia.

 

Menjadikan Al-Qur’an Pedoman Hidup

Al-Qur’an juga berfungsi sebagai pedoman dalam menentukan arah kehidupan manusia. Allah berfirman dalam Surah Al-Isra:

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada jalan yang paling lurus.” (QS. Al-Isra’: 9)

Bagi orang yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, Allah menjanjikan keberkahan yang besar. Hal ini disebutkan dalam Surah Al-An'am:

“Dan ini adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkahi, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-An’am: 155)

Bahkan Al-Qur’an memiliki fungsi sebagai penyembuh bagi penyakit hati manusia. Allah menegaskan dalam Surah Yunus:

“Wahai manusia, sungguh telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit dalam dada, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang beriman.” (QS. Yunus: 57)

 

Penutup

Berinteraksi dengan Al-Qur’an adalah proses spiritual yang menyeluruh: membaca, memahami, merenungkan, dan mengamalkan. Semakin intens hubungan seseorang dengan Al-Qur’an, semakin kuat pula nilai-nilai kebaikan yang tertanam dalam dirinya.

Al-Qur’an bukan hanya kitab yang dibaca pada momen-momen tertentu, tetapi pedoman hidup yang selalu relevan sepanjang zaman. Dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat dalam kehidupan, seorang Muslim akan menemukan cahaya yang membimbing langkahnya menuju kehidupan yang lebih bermakna.🕋

AL QURAN DAN LAILATUL QADAR

 

AL QURAN DAN LAILATUL QADAR

 

Bulan suci Ramadhan sangat erat kaitannya dengan kitab suci Alquran. Bulan suci Ramadhan menjadi sinyal kuat bahwa Ramadhan benar-benar waktu istimewa, sehingga ia pantas menjadi waktu tadarus Alquran.

Orang-orang terdahulu memiliki perhatian luar biasa kepada bulan Ramadhan ini. Perhatian mereka ditunjukkan jauh-jauh hari sebelum Ramadhan tiba. Disebutkan bahwa para shahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in selama enam bulan pertama memanjatkan doa kepada Allah agar mereka disampaikan di bulan Ramadhan. Kemudian di enam bulan setelahnya mereka berdoa agar mereka dipertemukan dengan bulan mulia ini.

Perang Badar juga terjadi pada 13 Maret 624 M (17 Ramadhan H). Terjadi pada tahun hijriah kedua dan tahun pertama umat Islam diwajibkan berpuasa Ramadhan. Peristiwa tersebut juga menjadi sebuah kemenangan kaum muslimin di bulan Ramadhan. Dan diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa malam Qadar itu adalah malam yang siangnya terjadi Perang Badar, berdasarkan firman Allah SWT :

نْ كُنْتُم آمَنْتُمْ باِللهِ وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَى عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِi

“Jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan.” (QS. Al-Anfal : 41).

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ

“Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Alquran.” (QS. Al-Baqarah : 185)

Alquran adalah kalamullah (perkataan Allah ‘Azza wa Jalla) yang hanya diturunkan kepada Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Kitab suci ini merupakan penyempurna ajaran kitab-kitab sebelumnya. Kandungan Alquran secara garis besar meliputi akidah, ilmu tauhid, syariat, ibadah, muamalah, akhlak, hukum, kisah para nabi, kisah umat terdahulu, nasihat, dan isyarat pengetahuan dan teknologi.

Selaku umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita wajib mengimani dan meyakini bahwa isi kandungan Alquran adalah kebenaran. Dan itulah yang akan mengantarkan kita kepada marifatullah/kedekatan kita dengan Allah SWT. Bukan hanya membaca, tapi juga mengamalkan isi Alquran.

‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan, bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa dan Alquran akan datang pada hari kiamat untuk mensyafaati hamba. Puasa berkata, ‘Wahai Rabb-ku, aku telah mencegahnya dari makanan dan minuman di siang hari, oleh karena itu izinkanlah aku memberinya syafaat.’ Alquran berkata, ‘Wahai Rabb-ku, aku telah mencegahnya tidur malam, oleh sebab itu berilah aku izin untuk memberinya syafaat.’ Maka keduanya pun memberi syafaat” (HR Ahmad, Ibnu Abid Dun-ya, Ath-Thabrani, dan Al-Hakim).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di 10 hari terakhir bulan Ramadhan dan beliau bersabda, yang artinya: “Carilah malam Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan” (HR. Bukhari Muslim). Rasulullah SAW pernah ditanya tentang Lailatul Qadar, lalu beliau menjawab, “Lailatul Qadar ada pada setiap bulan Ramadhan” (HR. Bukhari).

Keterangan Ibnu Katsir menyebutkan, Alquran diturunkan secara spontan di Baitul ‘Izzah yang berada di langit bumi. Hal itu terjadi pada bulan Ramadhan di lailatul qadar, berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Kami telah menurunkannya di lailatul qadar,” juga pernyataan-Nya, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya di malam yang penuh keberkahan.” Kemudian setelah itu turun berangsur-angsur berdasarkan peristiwa-peristiwa yang dialami Rasulullah SAW.”

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ مباركة

Artinya: “Sesungguhnya Kami turunkan Alquran pada malam yang diberkahi.” (QS. Ad-Dukhan : 3)

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Artinya: “Sesungguhnya Kami turunkan Alquran pada malam Qadar.” (QS. Al-Qadr : 1)

Ada 2 tahapan turunnya Alquran. Pertama, Alquran diturunkan dari Lauh Mahfuz ke Baitul Izzah dalam bentuk kitab utuh, tahap ini diturunkan pada malam Lailatul Qadar dan hanya Allah Azza Wa Jalla yang mengetahui kapan tepatnya. Kedua, Alquran diturunkan secara bertahap dari Baitul Izzah ke dunia kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril yakni dengan Surat Al-Alaq ayat 1-5 saat Rasulullah sedang menyendiri di Gua Hira.

Turunnya Alquran periode pertama memang benar terjadinya di bulan Ramadhan, namun tanpa data kapan tanggal dan tahunnya. Hanya Allah SWT saja yang tahu tanggal dan tahunnya. Yang jelas terjadinya bukan di masa Rasulullah SAW, tetapi jauh sebelum itu. Malam inilah yang selama ini kita maksud dengan Lailatul-Qadar, di mana tanggalnya tidak pernah dijelaskan oleh Rasulullah SAW secara pasti.

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آَيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS. Shaad: 29).

وَ نُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَ رَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ لَا يَزِيْدُ الظَّالِمِيْنَ إِلَّا خَسَارًا

“Dan Kami turunkan Alquran (Sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, sedangkan bagi orang-orang yang zhalim hanya akan menambah kerugian.” (QS Al-Isra’ : 82)

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau menuturkan, Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah (Alquran), maka baginya satu kebaikan. Satu kebaikan dilipatkan menjadi sepuluh. Aku tidak mengatakan alif lam mim satu huruf. Namun alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (HR At-Tirmidzi).

Semoga shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salla-, keluarga, sahabat, dan semua orang yang senantiasa menghidupkan ajaran beliau hingga hari akhir. HB@

 

MUHAMMADIYAH: SEJARAH BERIDIRNYA

SEJARAH BERDIRI MUHAMMADIYAH

Berdasarkan situs resmi Muhammadiyah, Muhammadiyah didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan di Kampung Kauman Yogyakarta pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H/18 November 1912.

Persyarikatan Muhammadiyah didirikan untuk mendukung usaha KH Ahmad Dahlan untuk memurnikan ajaran Islam yang dianggap banyak dipengaruhi hal-hal mistik. Kegiatan ini pada awalnya juga memiliki basis dakwah untuk wanita dan kaum muda berupa pengajian Sidratul Muntaha.

Selain itu peran dalam pendidikan diwujudkan dalam pendirian sekolah dasar dan sekolah lanjutan, yang dikenal sebagai Hooge School Muhammadiyah dan selanjutnya berganti nama menjadi Kweek School Muhammadiyah (sekarang dikenal dengan Madrasah Mu’allimin _khusus laki-laki, yang bertempat di Patangpuluhan kecamatan Wirobrajan dan Mu’allimaat Muhammadiyah_khusus Perempuan, di Suronatan Yogyakarta).

Pada masa kepemimpinan Ahmad Dahlan (1912-1923), pengaruh Muhammadiyah terbatas di karesidenan-karesidenan seperti: Yogyakarta, Surakarta, Pekalongan, dan Pekajangan, daerah Pekalongan sekarang. Selain Yogya, cabang-cabang Muhammadiyah berdiri di kota-kota tersebut pada tahun 1922. Pada tahun 1925, Abdul Karim Amrullah membawa Muhammadiyah ke Sumatera Barat dengan membuka cabang di Sungai Batang, Agam.

Dalam tempo yang relatif singkat, arus gelombang Muhammadiyah telah menyebar ke seluruh Sumatera Barat, dan dari daerah inilah kemudian Muhammadiyah bergerak ke seluruh Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan. Pada tahun 1938, Muhammadiyah telah tersebar keseluruh Indonesia.

Terdapat pula organisasi khusus wanita bernama Aisyiyah.

QISHASH: DIYAT DAN KAFARAT

QISHASH: PEMBAYARAN DIYAT DAN KAFARAH


”… Diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema’afan dari saudaranya [Ahli waris], hendaklah yang mema’afkan mengikuti dengan cara yang baik dan yang diberi ma’af membayar diyat kepada yang memberi ma’af dengan cara yang baik pula. Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat…” (QS Al Baqarah : 178)
Allah swt yang Maha Adil lagi Maha Bijaksana, telah melarang hamba-hamba-Nya untuk melakukan perbuatan buruk (Fasiq) dan telah menetapkan balasan bagi pelakunya baik di dunia maupun di akhirat kelak. Salah satu bentuk balasan atas perbuatan buruk, dalam hal ini Jinayat, adalah Qishash.

Menurut pengertian syara’ qishash ialah balasan (pemberian hukuman) yang diberikan kepada pelaku Jinâyât sesuai dengan perbuatan atau pelanggaran yang telah dilakukan. Jinâyât yaitu penyerangan terhadap manusia. Jinâyât dibagi dua yaitu penyerangan terhadap jiwa (pembunuhan); dan penyerangan terhadap organ tubuh. Pembunuhan sendiri diklasifikasi menjadi empat jenis di antaranya:

1. Pembunuhan sengaja;
2. Pembunuhan seperti disengaja;
3. Pembunuhan tidak sengaja;
4. Pembunuhan karena ketidaksengajaan.

Kasus jinâyât terhadap jiwa (pembunuhan), sanksinya ada tiga macam: qishash, diyat, atau kafarah.

Pada kasus pembunuhan sengaja, pihak wali korban boleh memilih antara qishash atau memaafkan dengan mengambil diyat, atau menyedekahkan diyatnya. Jika pelaku pembunuhan mendapatkan pemaafan, ia wajib membayar diyat sebanyak 100 ekor onta dan 40 ekor di antaranya telah bunting.

Sanksi pembunuhan mirip sengaja (syibh al-’amad) adalah diyat 100 ekor unta, dan 40 ekor di antaranya bunting.

Adapun pembunuhan tidak sengaja (khatha’) diklasifikasi menjadi dua macam: (1) Seseorang melakukan suatu perbuatan yang tidak ditujukan untuk membunuh seseorang, namun tanpa sengaja ternyata mengakibatkan terbunuhnya seseorang. Misalnya, ada orang memanah burung, namun terkena manusia hingga mati. (2) Seseorang yang membunuh orang yang dikiranya kafir harbi di dâr al-kufr, tetapi ternyata orang yang dibunuhnya itu telah masuk Islam. Pada jenis pembunuhan pertama, sanksinya adalah membayar diyat 100 ekor unta dan membayar kafarah dengan cara membebaskan budak. Jika tidak memiliki budak, pelaku harus berpuasa selama 2 bulan berturut-turut. Dalam kasus kedua, sanksinya adalah membayar kafarah saja, dan tidak wajib diyat.

Sanksi untuk pembunuhan karena ketidaksengajaan adalah diyat 100 ekor onta dan membebaskan budak. Jika tidak ada budak, wajib berpuasa selama 2 bulan berturut-turut.

Adapun jinâyat terhadap organ tubuh, baik terhadap organ tubuh maupun tulang, sanksinya adalah diyat. Tidak ada qishash untuk penyerangan terhadap organ tubuh maupun tulang secara mutlak, kecuali pada kasus penyerangan terhadap gigi, dan kasus jarh (pelukaan di badan). Hanya saja, kasus penyerangan gigi atau jarh bisa saja dikenai diyat. Lalu kapan pada kasus penyerangan terhadap gigi dikenai qishash dan kapan dikenai diyat saja? Menurut fukaha, jika penyerangannya secara sengaja, dikenai hukuman qishash; sedangkan jika tidak sengaja, dikenai diyat yang besarnya telah ditetapkan di dalam as-Sunnah. Jika orang yang dilukai tidak meminta qishash, pelaku penyerangan hanya wajib membayar diyat. Dalam kasus penyerangan pada kepala (asy-syijaj), sanksinya hanyalah diyat, dan tidak ada qishash.
Kadar diyat atas penyerangan badan dan kepala ada yang telah ditetapkan di dalam as-Sunnah, ada pula yang belum ditetapkan. Jika telah ditetapkan dalam as-Sunnah, diyatnya sesuai dengan apa yang disebut; misalnya pada kasus jaifah dan pelukaan terhadap kelamin anak perempuan yang masih kecil. Adapun kasus penyerangan terhadap badan yang kadar diyat-nya tidak disebutkan oleh as-Sunnah, maka sanksinya adalah hukumah yang adil.
Larangan Qishash di dalam Masjid
Sesungguh Rasulullah SAW telah melarang untuk melaksanakan Qishash di dalam mesjid sebagaimana hadits beliau sebagai berikut:
Diriwayatkan dari Hakim bin Hizam r.a, ia berkata, “Rasulullah saw. melarang melaksanakan qishash di dalam masjid, melantunkan sya’ir dan melaksanakan hukum hudud di dalamnya.“
Diriwayatkan pula dari ‘Abdullah bin ‘Abbas r.a, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, “Seorang anak tidak boleh menuntut qishash terhadap ayahnya dan dilarang melaksanakan hukum hudud di dalam masjid,” (HR At Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Kesimpulan
Bagi tiap-tiap perbuatan Allah telah menetapkan balasan yang setimpal terhadapnya baik di dunia maupun di akhirat dan Allah Maha Pengampun atas segala perbuatan dosa yang dilakukan hamba-hamba-Nya, kecuali perbuatan syirik atau menyekutukanNya dengan dzat selain Dia. Dengan demikian manusia sebaiknya lebih membekali akhiratnya dengan perbuatan baik dan saling memaafkan atas kesalahan saudara-saudaranya, karena sikap memaafkan akan lebih mulia pada pandangan Allah swt. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang menjaga lidah dan perbuatan, dan orang-orang yang memaafkan. Amiin…
Sumber : hizbut-tahrir.or.id
Posted on 8 November 2008 by Faisal Abdi|