MATERI: 05
MASA
DEPAN AGAMA DAN HUMANIORA DALAM MENGHADAPI ERA DIGITAL: ANTARA HARAPAN DAN
TANTANGAN
Hasan Basri
A.
Pendahuluan
Perkembangan
teknologi digital telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia,
termasuk cara memperoleh pengetahuan, membangun relasi sosial, memahami agama,
serta memaknai kemanusiaan. Digitalisasi menghadirkan peluang besar bagi agama
dan humaniora untuk memperluas jangkauan pendidikan, dakwah, penelitian, dialog
antaragama, dan pengembangan nilai-nilai kemanusiaan. Namun, di sisi lain, era
digital juga melahirkan sejumlah tantangan serius berupa disinformasi,
fragmentasi pengetahuan, komersialisasi agama, polarisasi sosial, kecanduan
teknologi, serta kecenderungan reduksi manusia menjadi sekadar data dan
algoritma. Makalah ini membahas masa depan agama dan humaniora dalam konteks
transformasi digital dengan pendekatan konseptual dan reflektif. Agama
dipandang tidak hanya sebagai sistem doktrin, tetapi juga sebagai sumber makna,
etika, spiritualitas, dan orientasi kehidupan. Sementara itu, humaniora
memiliki fungsi penting dalam menjaga dimensi kemanusiaan di tengah
perkembangan teknologi kecerdasan buatan, big data, media sosial, dan
otomatisasi. Masa depan agama dan humaniora tidak semestinya diposisikan
sebagai oposisi terhadap teknologi, melainkan sebagai kekuatan etis dan kritis
yang mengarahkan teknologi agar tetap berpihak kepada manusia. Karena itu,
diperlukan integrasi antara literasi digital, literasi keagamaan, pemikiran
kritis, etika teknologi, dan pendidikan humanistik.
Perubahan
teknologi digital merupakan salah satu fenomena paling menentukan dalam
kehidupan manusia kontemporer. Internet, media sosial, platform digital, big
data, komputasi awan, dan kecerdasan buatan telah mengubah cara manusia
bekerja, belajar, berkomunikasi, memperoleh informasi, bahkan memahami dirinya
sendiri.
Jika pada masa
lalu manusia harus mendatangi perpustakaan untuk memperoleh pengetahuan, saat
ini jutaan informasi dapat diakses hanya melalui perangkat yang berada di
tangan. Jika dahulu dakwah agama berlangsung terutama melalui masjid,
pesantren, madrasah, majelis taklim, buku, dan media cetak, kini pesan
keagamaan dapat disebarkan melalui YouTube, Instagram, TikTok, podcast,
WhatsApp, Facebook, dan berbagai platform digital lainnya. Perubahan tersebut
menghadirkan sebuah pertanyaan penting: bagaimana masa depan agama dan
humaniora ketika kehidupan manusia semakin terdigitalisasi?
Pertanyaan ini
menjadi semakin penting karena teknologi tidak hanya mengubah sarana kehidupan,
tetapi juga memengaruhi cara manusia berpikir dan memahami realitas. Algoritma media
sosial, misalnya, menentukan jenis informasi yang sering muncul di hadapan
seseorang. Mesin pencari dan sistem rekomendasi membentuk pola konsumsi
pengetahuan. Kecerdasan buatan bahkan mulai mampu menghasilkan teks, gambar,
musik, video, dan berbagai bentuk pengetahuan yang sebelumnya dianggap sebagai
wilayah eksklusif kemampuan manusia.
Dalam situasi
tersebut, agama dan humaniora menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Agama
memiliki tanggung jawab untuk memberikan orientasi moral dan spiritual bagi
manusia. Humaniora memiliki tanggung jawab untuk mempertahankan
pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang manusia, seperti: Siapakah manusia? Apa
tujuan hidup? Apa yang disebut kebenaran? Apa arti kebebasan? Apa yang dimaksud
dengan kehidupan yang baik? Apa batas moral penggunaan teknologi?
Pertanyaan-pertanyaan
tersebut tidak dapat diselesaikan hanya dengan algoritma. Teknologi dapat
membantu manusia mengetahui bagaimana sesuatu dilakukan, tetapi tidak selalu
mampu menjawab untuk apa sesuatu dilakukan. Teknologi dapat menghitung,
memprediksi, dan mengoptimalkan, tetapi pertanyaan mengenai makna, nilai,
tanggung jawab, dan tujuan tetap membutuhkan refleksi filosofis, etis, sosial,
dan spiritual. Dalam konteks inilah agama dan humaniora memperoleh
relevansinya.
Al-Qur’an
sendiri memberikan perhatian besar terhadap penggunaan akal dan aktivitas
intelektual. Allah berfirman:
أفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
“Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur’an ataukah hati
mereka terkunci?” (QS. Muhammad [47]: 24).
Ayat tersebut
menunjukkan pentingnya aktivitas reflektif dalam memahami kehidupan. Agama
tidak seharusnya berhenti pada hafalan teks, tetapi mendorong manusia untuk
berpikir, merenung, memahami realitas, dan mengambil hikmah.
Dalam konteks
digital, prinsip tersebut menjadi semakin relevan. Manusia hidup dalam lautan
informasi, tetapi banyak informasi tidak otomatis menghasilkan kebijaksanaan.
Manusia dapat memiliki akses kepada jutaan buku, tetapi belum tentu memiliki
kemampuan membedakan kebenaran dan kebohongan.
Dengan
demikian, tantangan utama era digital bukan semata-mata kekurangan informasi,
tetapi bagaimana manusia mengubah informasi menjadi pengetahuan, pengetahuan
menjadi pemahaman, dan pemahaman menjadi kebijaksanaan.
Adapun tujuan
tulisan ini ialah:
1. Menjelaskan karakteristik transformasi digital.
2. Menganalisis hubungan agama dengan perkembangan teknologi
digital.
3. Menjelaskan relevansi humaniora dalam menghadapi kecerdasan
buatan.
4. Mengidentifikasi peluang dan tantangan agama serta humaniora.
5. Merumuskan perspektif masa depan yang menempatkan teknologi
dalam kerangka nilai kemanusiaan.
B. Era Digital dan Perubahan Paradigma Kehidupan
Era digital
bukan sekadar periode ketika manusia menggunakan komputer atau telepon pintar.
Era digital merupakan perubahan paradigma yang memengaruhi cara manusia
berkomunikasi, bekerja, belajar, beragama, dan membangun identitas.
Dalam
masyarakat digital, informasi bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Batas geografis semakin tidak berarti. Seseorang di Aceh dapat mengikuti kuliah
dari profesor di Amerika Serikat, membaca buku yang diterbitkan di Inggris,
berdiskusi dengan mahasiswa dari Malaysia, dan mengikuti kajian keagamaan dari
Timur Tengah dalam waktu yang hampir bersamaan. Kondisi ini memberikan peluang
besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Namun, terdapat paradoks penting:
1.
Semakin mudah manusia memperoleh
informasi, semakin sulit pula manusia menentukan informasi mana yang layak
dipercaya.
2.
Media digital memungkinkan informasi
yang benar dan informasi yang salah beredar melalui kanal yang sama. Berita
ilmiah, pendapat pribadi, propaganda, teori konspirasi, tafsir keagamaan, dan
informasi palsu dapat tampil dengan bentuk visual yang sama-sama menarik.
3.
Karena itu, masyarakat digital
membutuhkan kemampuan yang lebih tinggi daripada sekadar kemampuan menggunakan
teknologi dan yang dibutuhkan adalah literasi digital.
4.
Literasi digital tidak hanya berarti
kemampuan mengoperasikan perangkat, tetapi mencakup kemampuan memahami sumber
informasi, mengevaluasi kredibilitas, membaca konteks, mengenali manipulasi,
dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
C. Agama dalam Ruang Digital
Digitalisasi
telah mengubah cara manusia beragama. Jika dahulu seseorang memperoleh
pengetahuan agama terutama melalui guru, ulama, ustaz, kitab, pesantren, dan
lembaga keagamaan, kini otoritas keagamaan juga hadir melalui influencer,
content creator, podcaster, dan akun media sosial. Perubahan tersebut
menghasilkan fenomena yang dapat disebut sebagai digitalisasi otoritas
keagamaan. Seorang pendakwah tidak lagi harus memiliki institusi formal yang
besar untuk memiliki pengaruh. Dengan kamera sederhana dan akses internet,
seseorang dapat menyampaikan ceramah kepada ribuan bahkan jutaan orang.
Ø Fenomena
ini memiliki sisi positif.
Pertama, akses terhadap ilmu agama menjadi lebih terbuka.
Kedua, masyarakat yang tinggal jauh dari pusat pendidikan Islam dapat
memperoleh materi keagamaan.
Ketiga, dialog keagamaan menjadi lebih luas.
Keempat, lembaga keagamaan dapat menggunakan teknologi untuk pendidikan,
dakwah, pelayanan sosial, dan penguatan moderasi beragama. Namun terdapat pula
persoalan serius.
1. Komersialisasi Agama
Konten agama
dapat berubah menjadi komoditas digital. Popularitas, jumlah pengikut, jumlah
tayangan, dan monetisasi dapat memengaruhi cara pesan keagamaan diproduksi. Dalam
situasi tertentu, materi yang kontroversial lebih mudah mendapatkan perhatian
daripada penjelasan yang mendalam. Akibatnya, agama berpotensi direduksi
menjadi konten yang mengejar engagement (keterlibatan atau interaksi
dengan netizen).
2. Fragmentasi Otoritas
Fragmentasi
otoritas adalah keadaan ketika kewenangan atau sumber yang dianggap memiliki
hak untuk menentukan kebenaran, memberikan arahan, atau memengaruhi masyarakat
tidak lagi berada pada satu pusat, tetapi tersebar ke banyak pihak.
Dalam konteks
agama, dahulu, seseorang yang ingin memperoleh penjelasan agama biasanya
merujuk kepada ulama, ustaz, kitab, pesantren, atau lembaga keagamaan. Otoritas
keagamaan relatif lebih terpusat.
Namun, di era
digital, sumber pengetahuan agama menjadi jauh lebih beragam:
Ulama → lembaga agama → dosen → ustaz YouTube → influencer → TikTok
→ podcast → Google → AI → komunitas online
Masyarakat
dapat memperoleh pendapat agama dari berbagai sumber yang belum tentu memiliki
kapasitas keilmuan yang sama. Hal ini menyebabkan umat menghadapi situasi baru:
banyaknya suara keagamaan tetapi tidak selalu diikuti kemampuan melakukan
verifikasi.
Al-Qur’an memberikan prinsip penting:
ياَ يُّهَا
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِنْ جَآءَكُمْ فَا سِقٌ بِۢنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْۤا اَنْ تُصِيْبُوْا
قَوْمًا بِۢجَهَا لَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik
datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu
tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya
kamu menyesali perbuatanmu itu." (QS. Al-Hujurat 49: Ayat 6)
Prinsip tabayyun ini menjadi semakin penting di era digital.
Fungsi Tabayyun dalam konteks Era Digital sangat signifikan. Dalam
konteks ini, tabayyun berarti melakukan klarifikasi, pemeriksaan, dan
verifikasi terhadap suatu informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya.
Prinsip ini sangat relevan di era digital karena informasi dapat menyebar dalam
hitungan detik melalui WhatsApp, TikTok, Instagram, Facebook, YouTube, dan
berbagai platform lainnya.
1)
Mencegah penyebaran hoaks
Fungsi pertama tabayyun adalah menyaring informasi sebelum
membagikannya. Tidak semua informasi yang viral adalah informasi yang benar.
Popularitas sebuah konten tidak otomatis menjadi bukti kebenarannya. Prinsipnya:
“Viral bukan berarti benar.”
2) Menghindari misinformation dan disinformation
Di era digital, informasi keliru dapat muncul karena:
a.
Orang Tidak Memahami Informasi
Secara Utuh;
b.
Judul Dibuat Secara Provokatif;
c.
Foto Atau Video Ditempatkan di Luar
Konteks;
d.
Informasi Lama Disebarkan Kembali
Sebagai Informasi Baru;
e.
Informasi Sengaja Dibuat untuk
Menyesatkan.
Tabayyun mengajarkan kita untuk “menerima informasi dari sumber informasi yang
benar dan terpercaya.”
3) Menjaga kehormatan dan nama baik seseorang
Satu unggahan yang belum diverifikasi dapat merusak reputasi
seseorang. Karena itu, tabayyun merupakan bentuk perlindungan terhadap
kehormatan manusia. Dalam konteks digital, seseorang seharusnya tidak langsung
menuduh hanya berdasarkan:
a.
Potongan Video;
b.
Screenshot;
c.
Komentar;
d.
Judul Berita;
e.
Unggahan Anonim.
4) Mengurangi konflik dan polarisasi
Media sosial dapat menciptakan kelompok yang saling berhadapan.
Informasi yang tidak diverifikasi dapat memperbesar prasangka dan permusuhan. Karena
itu, tabayyun berfungsi sebagai mekanisme etika untuk meredam konflik
digital.
5)
Membentuk literasi digital yang kritis
Tabayyun bukan berarti tidak percaya kepada siapa pun, tetapi belajar
bertanya:
a.
Siapa yang menyampaikan?
b.
Apa sumbernya?
c.
Kapan informasi itu dibuat?
d.
Apakah ada bukti?
e.
Apakah sumber lain mengonfirmasinya?
f.
Apakah informasi tersebut dipotong
dari konteksnya?
Dengan
demikian, tabayyun dapat dipandang sebagai literasi digital berbasis
nilai Islam.
6. Menumbuhkan tanggung jawab sebelum share
Dalam budaya digital, tombol “share” sebenarnya mengandung tanggung
jawab moral. Ketika seseorang menyebarkan informasi, ia ikut menjadi bagian
dari rantai distribusi informasi tersebut. Karena itu, prinsip sederhananya:
Think before you share — tabayyun before you spread.
7) Menjaga etika komunikasi Islam
Tabayyun berhubungan erat dengan prinsip lain dalam komunikasi Islam,
seperti qaulan sadidan (perkataan yang benar), menghindari ghibah, fitnah,
namimah, dan prasangka buruk. Dengan demikian, tabayyun tidak hanya
berbicara tentang kebenaran informasi, tetapi juga tentang akhlak orang yang
menggunakan informasi.
Tabayyun di era digital adalah sikap kritis, hati-hati, dan bertanggung
jawab dalam menerima, memeriksa, menilai, dan menyebarkan informasi agar
teknologi digital menjadi sarana kemaslahatan, bukan sumber fitnah, konflik,
dan kerusakan sosial.
Dalam konteks ini, tabayyun dapat ditempatkan sebagai etika
verifikasi informasi Islam di ruang digital: terima → periksa → konfirmasi →
pahami konteks → baru sebarkan.
3. Polarisasi Keagamaan
Algoritma dapat
menciptakan ruang informasi yang mempertemukan seseorang terutama dengan konten
yang sesuai dengan preferensinya. Dalam konteks agama, hal ini berpotensi
memperkuat kelompok-kelompok yang hanya mendengar pandangan internalnya
sendiri. Karena itu, agama di era digital harus berperan sebagai kekuatan yang
membangun dialog, bukan sekadar memperkuat sekat.
D. Humaniora di Tengah Revolusi Kecerdasan Buatan
Humaniora
mencakup berbagai bidang seperti filsafat, sejarah, sastra, bahasa,
antropologi, kajian budaya, etika, dan studi agama. Dalam beberapa dekade
terakhir, humaniora sering menghadapi pertanyaan tentang relevansinya di tengah
dominasi ilmu pengetahuan dan teknologi.
Namun munculnya kecerdasan buatan justru menghadirkan pertanyaan
baru:
1.
Jika mesin semakin mampu berpikir
secara fungsional, apa yang membuat manusia tetap manusia?
2.
Kecerdasan buatan dapat menghasilkan
tulisan, tetapi apakah tulisan tersebut memiliki pengalaman manusiawi?
3.
AI dapat menghasilkan puisi, tetapi
apakah mesin mengalami kesedihan?
4.
AI dapat memberikan rekomendasi
moral, tetapi apakah mesin memiliki tanggung jawab moral?
5.
AI dapat menjelaskan konsep cinta,
tetapi apakah mesin mengalami cinta?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa kemajuan teknologi
tidak menghapus humaniora. Sebaliknya, kemajuan teknologi membuat humaniora
semakin diperlukan.
E. Dari Information Age Menuju Wisdom Age
Salah satu persoalan terbesar masyarakat digital adalah
kecenderungan menyamakan informasi dengan pengetahuan. Padahal keduanya
berbeda. Secara sederhana dapat digambarkan:
Data → Informasi → Pengetahuan → Pemahaman → Kebijaksanaan
§ Data
adalah fakta mentah.
§ Informasi
merupakan data yang telah disusun.
§ Pengetahuan
muncul ketika informasi dipahami dalam konteks tertentu.
§ Pemahaman
muncul ketika manusia mampu melihat hubungan, sebab-akibat, dan makna.
§ Sedangkan
kebijaksanaan berkaitan dengan kemampuan menggunakan pengetahuan secara tepat
dan bertanggung jawab.
§ Teknologi
sangat kuat dalam mengolah data dan informasi.
§ Namun
kebijaksanaan tidak dapat direduksi menjadi jumlah data.
Di sinilah
agama dan humaniora memiliki fungsi strategis. Agama memberikan orientasi nilai
dan makna. Filsafat mempertanyakan asumsi. Sejarah memberikan kesadaran tentang
pengalaman manusia. Sastra mengembangkan empati. Antropologi membantu memahami
keberagaman budaya. Etika memberikan pertimbangan mengenai baik dan buruk.
Dengan
demikian, masa depan pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan manusia yang digital
literate, tetapi harus menghasilkan manusia yang wise, ethical,
reflective, and humane.
F. Harapan Masa Depan Agama di Era Digital
Era digital menawarkan beberapa peluang besar bagi agama.
1. Demokratisasi akses keagamaan
Pengetahuan agama dapat diakses oleh masyarakat luas tanpa dibatasi
jarak geografis.
2. Dakwah lintas batas
Dakwah tidak lagi terbatas pada ruang fisik. Pesan keagamaan dapat
menjangkau masyarakat global.
3. Pendidikan agama yang lebih
kreatif
Materi agama dapat dikemas dalam bentuk:
1)
Video;
2)
Podcast;
3)
Infografik;
4)
Animasi;
5)
E-Book;
6)
Aplikasi;
7)
Virtual Classroom;
8)
Berbagai Platform Interaktif.
4. Dialog antaragama
Teknologi memungkinkan pemeluk berbagai agama bertemu dalam ruang
virtual. Jika digunakan secara positif, media digital dapat menjadi ruang untuk
membangun toleransi dan saling memahami.
5. Digitalisasi manuskrip keislaman
Naskah-naskah klasik dapat didigitalisasi sehingga lebih mudah
dipelajari oleh generasi baru.
Ini sangat penting bagi pengembangan studi Islam, khususnya dalam
kajian manuskrip, tafsir, hadis, fikih, sejarah Islam, dan pemikiran Islam.
G. Tantangan Masa Depan Agama
Di samping harapan, terdapat beberapa tantangan. Di antara
tantangan yang bakal dihadapi Agama dan
Humaniora di masa depan ialah sebagai berikut:
1. Krisis Otoritas
Siapa yang menjadi rujukan agama ketika semua orang dapat berbicara
tentang agama?
2. Krisis Verifikasi
Bagaimana membedakan hadis sahih dengan hadis palsu?
Bagaimana membedakan tafsir akademik dengan opini pribadi?
Bagaimana membedakan fatwa dengan komentar media sosial?
3. Reduksi Agama Menjadi Konten
Agama berisiko diperlakukan seperti produk digital yang diukur
berdasarkan jumlah klik dan penonton.
4. Radikalisasi Digital
Kelompok tertentu dapat menggunakan teknologi untuk menyebarkan
ideologi eksklusif dan membangun jaringan.
5. Superfisialisasi pemahaman agama
Video berdurasi satu menit tidak selalu mampu menggantikan kajian
keagamaan yang membutuhkan konteks dan kedalaman.
H. Harapan Masa Depan Humaniora
Humaniora mempunyai peluang besar untuk melakukan humanisasi
teknologi. Sekurangnya ada lima fungsi penting:
Pertama, humaniora sebagai penjaga makna
Teknologi bertanya: How?
Humaniora bertanya: Why?
Keduanya harus berjalan bersama.
Kedua, humaniora sebagai penjaga etika
Kemampuan membuat teknologi tidak otomatis berarti manusia
mengetahui bagaimana teknologi tersebut seharusnya digunakan.
Ketiga, humaniora sebagai penjaga identitas
Globalisasi digital dapat membuat budaya lokal semakin
terpinggirkan. Humaniora dapat membantu menjaga bahasa, sejarah, tradisi, dan
identitas masyarakat.
Keempat, humaniora sebagai pengembang empati
Sastra, sejarah, antropologi, dan agama membantu manusia memahami
pengalaman orang lain.
Kelima, humaniora sebagai kritik terhadap teknologi
Humaniora dapat mempertanyakan:
1.
Siapa yang mengendalikan teknologi?
2.
Siapa yang memperoleh keuntungan?
3.
Siapa yang dirugikan?
4.
Apakah teknologi memperluas
kebebasan manusia?
5.
Apakah teknologi memperkuat atau
justru mengurangi martabat manusia?
I. Tantangan Humaniora di Era Digital
Humaniora sendiri menghadapi sejumlah persoalan:
Pertama, semakin kuatnya orientasi pendidikan terhadap keterampilan
teknis.
Kedua, anggapan bahwa bidang humaniora kurang memiliki nilai ekonomi
langsung.
Ketiga, perubahan pola membaca dari teks panjang menuju konten pendek.
Keempat, menurunnya kemampuan konsentrasi akibat konsumsi informasi yang
sangat cepat.
Kelima, tantangan AI terhadap pekerjaan yang selama ini dilakukan
manusia, termasuk penerjemahan, penulisan, analisis teks, dan produksi konten.
Namun kondisi tersebut tidak berarti humaniora kehilangan masa
depan. Justru sebaliknya, semakin canggih teknologi, semakin penting pertanyaan
tentang manusia.
J. Integrasi Agama, Humaniora, dan Teknologi
Masa depan
tidak seharusnya dibangun dengan mempertentangkan agama, humaniora, dan
teknologi. Ketiganya dapat diposisikan dalam hubungan komplementer:
1.
Teknologi menyediakan kemampuan.
2.
Humaniora menyediakan refleksi.
3.
Agama menyediakan orientasi nilai
dan makna.
Jika ketiganya
terintegrasi, teknologi dapat menjadi instrumen untuk meningkatkan kualitas
kehidupan manusia. Sebaliknya, jika teknologi berkembang tanpa etika, manusia
berpotensi menjadi korban dari teknologi yang diciptakannya sendiri.
Al-Qur’an
mengingatkan:
ولَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ
اللَّهُ إِلَيْكَ
“Dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia, dan berbuat
baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.” (QS. Al-Qashash [28]:
77).
Ayat ini dapat
dibaca sebagai prinsip keseimbangan: manusia tidak boleh menolak dunia dan
kemajuan, tetapi kemajuan harus diarahkan kepada kebaikan.
K. Pendidikan Agama dan Humaniora di Era Digital
Pendidikan merupakan medan paling penting untuk membangun masa
depan tersebut.
Kurikulum pendidikan agama dan humaniora perlu bergerak dari model transfer
of knowledge menuju formation of wisdom.
Mahasiswa tidak cukup hanya mengetahui ayat, hadis, teori filsafat,
atau sejarah. Mereka perlu memiliki kemampuan:
1. Membaca Secara Kritis;
2. Memverifikasi Informasi;
3. Memahami Konteks;
4. Berdialog Dengan Perbedaan;
5. Menggunakan AI Secara Etis;
6. Memahami Budaya Digital;
7. Membangun Empati;
8. Mengambil Keputusan Berdasarkan Nilai.
Dalam konteks
Pendidikan Agama Islam, misalnya, mahasiswa dapat diajarkan bukan hanya
mengenai ayat tentang tabayyun, tetapi juga bagaimana melakukan tabayyun
terhadap berita digital. Bukan hanya mempelajari akhlak secara teoritis, tetapi
mempraktikkan akhlak digital.
Akhlak digital
meliputi:
1.
Tidak Menyebarkan Hoaks;
2.
Tidak Melakukan Cyberbullying;
3.
Menghormati Privasi;
4.
Tidak Memfitnah;
5.
Tidak Memanipulasi Informasi;
6.
Mencantumkan Sumber;
7.
Menggunakan Ai Secara Bertanggung
Jawab;
8.
Menghargai Perbedaan Pendapat.
L. Konsep “Digital Humanism”
Salah satu
gagasan yang penting dikembangkan ke depan adalah digital humanism atau
humanisme digital. Humanisme digital dapat dipahami sebagai pendekatan yang
menempatkan manusia, martabat manusia, kebebasan, tanggung jawab, keadilan, dan
kesejahteraan sebagai orientasi utama perkembangan teknologi. Dalam perspektif
Islam, konsep tersebut dapat diperluas menjadi humanisme digital yang
berlandaskan nilai-nilai spiritual dan etika.
Manusia tidak
boleh dipandang semata-mata sebagai:
Data → pengguna → konsumen → target algoritma.
Manusia adalah
makhluk yang memiliki:
Akal → hati → kehendak → tanggung jawab → spiritualitas.
Dengan
demikian, teknologi seharusnya menjadi alat bagi manusia, bukan menjadikan
manusia sekadar alat bagi sistem teknologi.
1. Antara Harapan dan Tantangan
Masa depan agama dan humaniora tidak dapat dibaca secara
hitam-putih. Era digital bukan hanya ancaman. Ia juga bukan hanya harapan. Ia
adalah ruang baru yang membawa peluang sekaligus risiko. Jika digunakan secara
bijaksana, teknologi dapat:
1)
Memperluas Pendidikan;
2)
Meningkatkan Akses Ilmu;
3)
Memperkuat Dakwah;
4)
Mendokumentasikan Kebudayaan;
5)
Memperluas Dialog;
6)
Mendukung Penelitian;
7)
Dan Memperkuat Kerja Kemanusiaan.
8)
Namun Jika Digunakan Tanpa Etika,
Teknologi Dapat:
9)
Mempercepat Penyebaran Kebohongan;
10)
Memperkuat Polarisasi;
11)
Mengeksploitasi Perhatian Manusia;
12)
Mengurangi Privasi;
13)
Memperkuat Diskriminasi Algoritmik;
14)
Membuat Manusia Semakin Terasing
Dari Dirinya Sendiri.
Karena itu, pertanyaan terpenting bukan:
“Apakah agama dan humaniora akan bertahan menghadapi teknologi?”
Pertanyaan yang lebih tepat adalah:
“Manusia seperti apa yang ingin kita bentuk melalui teknologi?”
Pertanyaan kedua membawa kita kembali kepada wilayah agama dan
humaniora.
2. Masa Depan Bukan Persaingan
antara Manusia dan Mesin
Perdebatan tentang masa depan sering kali dibingkai sebagai
persaingan:
Manusia versus mesin. Padahal kemungkinan yang lebih produktif
adalah: Manusia bersama mesin. AI dapat membantu manusia melakukan pekerjaan
tertentu dengan lebih cepat. Namun manusia tetap membutuhkan kemampuan untuk
menentukan tujuan, nilai, konteks, dan konsekuensi. Dalam pendidikan, misalnya,
AI dapat membantu mahasiswa menemukan informasi, membuat ringkasan,
menerjemahkan teks, atau mengembangkan ide.
Namun dosen tetap memiliki peran penting dalam:
1)
Membimbing;
2)
Memberikan Konteks;
3)
Mengembangkan Karakter;
4)
Menilai Integritas;
5)
Membangun Dialog;
6)
Menanamkan Nilai.
Dengan demikian, masa depan pendidikan bukan AI menggantikan dosen,
melainkan bagaimana dosen dan AI bekerja dalam hubungan yang tetap menempatkan
manusia sebagai pusat pendidikan.
3. Agama sebagai Kompas Moral
Perkembangan teknologi membutuhkan kompas moral. Dalam perspektif
Islam, ilmu tidak dipisahkan dari tanggung jawab.
Allah berfirman:
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Dan katakanlah: Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu.” (QS. Taha
[20]: 114).
Ayat tersebut memperlihatkan kemuliaan ilmu. Tetapi ilmu dalam
Islam tidak berhenti pada penguasaan informasi. Ilmu idealnya melahirkan
kesadaran terhadap Allah dan tanggung jawab moral. Karena itu, masa depan
digital membutuhkan manusia yang bukan hanya knowledgeable, tetapi juga
responsible.
4.
Strategi
Membangun Masa Depan
Beberapa strategi yang dapat dikembangkan adalah sebagai berikut.
1) Memperkuat literasi digital
Masyarakat harus mampu:
§ Memeriksa
Sumber;
§ Melakukan
Verifikasi;
§ Mengenali
Manipulasi Digital;
§ Memahami
Algoritma;
§ Menjaga
Keamanan Data.
2) Memperkuat literasi keagamaan
Literasi agama harus mengajarkan:
§ Pemahaman
Teks;
§ Konteks;
§ Metodologi;
§ Sejarah
Pemikiran;
§ Perbedaan
Pendapat;
§ Etika
Dialog.
3. Mengembangkan etika AI
Perguruan tinggi dan lembaga pendidikan perlu membangun pedoman
penggunaan AI yang bertanggung jawab.
4. Mengintegrasikan humaniora dalam pendidikan teknologi
Mahasiswa teknik, informatika, data science, dan AI perlu
memperoleh pendidikan:
§ Filsafat;
§ Etika;
§ Sejarah;
§ Agama;
§ Antropologi;
§ Dan
Kajian Sosial.
5. Digitalisasi warisan intelektual
Kitab, manuskrip, arsip, dan karya intelektual klasik perlu
didigitalisasi dan dikembangkan dalam bentuk yang dapat diakses generasi muda.
6. Membangun ruang dialog digital
Media sosial tidak boleh hanya menjadi ruang mempertahankan
identitas kelompok. Ia perlu menjadi ruang dialog.
7. Mengembangkan AI yang berorientasi kemanusiaan
AI perlu dikembangkan dengan memperhatikan:
§ Keadilan;
§ Transparansi;
§ Privasi;
§ Akuntabilitas;
§ Inklusivitas;
§ Martabat
Manusia.
M. Penutup
Era digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia.
Perubahan tersebut tidak hanya menyentuh aspek ekonomi dan teknologi, tetapi
juga menyentuh cara manusia memperoleh pengetahuan, membangun identitas,
berkomunikasi, dan menjalankan kehidupan beragama.
Agama menghadapi tantangan berupa perubahan otoritas keagamaan,
komersialisasi konten, disinformasi, polarisasi, dan superfisialitas pemahaman.
Namun pada saat yang sama, teknologi membuka peluang besar bagi perluasan
dakwah, pendidikan agama, dialog antaragama, digitalisasi manuskrip, dan
penyebaran nilai-nilai kemanusiaan.
Humaniora juga menghadapi tantangan dari dominasi paradigma
teknokratis dan perkembangan kecerdasan buatan. Namun justru perkembangan AI
semakin memperlihatkan pentingnya humaniora. Ketika mesin semakin mampu
mengolah informasi, manusia semakin membutuhkan kemampuan untuk memahami makna,
nilai, etika, empati, dan tujuan kehidupan.
Karena itu, masa depan agama dan humaniora tidak seharusnya
ditempatkan sebagai lawan dari teknologi. Teknologi membutuhkan humaniora agar
memiliki arah. Teknologi membutuhkan agama agar memiliki dimensi moral dan
spiritual. Humaniora membutuhkan teknologi agar mampu menjangkau masyarakat
yang lebih luas. Agama membutuhkan teknologi untuk menyampaikan pesan kebaikan
kepada generasi baru.
Dengan demikian, masa depan yang ideal bukanlah masa depan yang
memilih antara agama, humaniora, atau teknologi, tetapi masa depan yang mampu
mengintegrasikan ketiganya dalam kerangka kemaslahatan manusia.
Pada akhirnya, pertanyaan paling mendasar bukanlah seberapa pintar
teknologi yang berhasil diciptakan manusia, tetapi seberapa manusiawi manusia
ketika menggunakan teknologi tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Bostrom, Nick. Superintelligence: Paths, Dangers, Strategies.
Oxford: Oxford University Press, 2014.
Floridi, Luciano. The Ethics of Information. Oxford: Oxford
University Press, 2013.
Floridi, Luciano. The Logic of Information: A Theory of Philosophy
as Conceptual Design. Oxford: Oxford University Press, 2019.
Floridi, Luciano, ed. The Onlife Manifesto: Being Human in a
Hyperconnected Era. Cham: Springer, 2015.
Freire, Paulo. Pedagogy of the Oppressed. New York: Continuum,
2000.
Harari, Yuval Noah. Homo Deus: A Brief History of Tomorrow. New
York: Harper, 2016.
Hassan, Robert. The Age of Digital Reproduction: Culture,
Technology and Social Change. London: Routledge, 2012.
Kellner, Douglas. Media Culture: Cultural Studies, Identity and
Politics between the Modern and the Postmodern. London: Routledge, 1995.
Lanier, Jaron. Ten Arguments for Deleting Your Social Media
Accounts Right Now. New York: Henry Holt, 2018.
Noble, Safiya Umoja. Algorithms of Oppression: How Search Engines
Reinforce Racism. New York: New York University Press, 2018.
O'Neil, Cathy. Weapons of Math Destruction: How Big Data Increases
Inequality and Threatens Democracy. New York: Crown, 2016.
Postman, Neil. Technopoly: The Surrender of Culture to Technology.
New York: Vintage Books, 1993.
Rheingold, Howard. The Virtual Community. Cambridge, MA: MIT Press,
2000.
Turkle, Sherry. Alone Together: Why We Expect More from Technology
and Less from Each Other. New York: Basic Books, 2011.
UNESCO. Recommendation on the Ethics of Artificial Intelligence.
Paris: UNESCO, 2021.
Zuboff, Shoshana. The Age of Surveillance Capitalism. New York:
PublicAffairs, 2019.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar