Jumat, 02 Oktober 2026

MASA DEPAN AGAMA DAN HUMANIORA DALAM MENGHADAPI ERA DIGITAL: ANTARA HARAPAN DAN TANTANGAN

 

MATERI: 05

 

MASA DEPAN AGAMA DAN HUMANIORA DALAM MENGHADAPI ERA DIGITAL: ANTARA HARAPAN DAN TANTANGAN

Hasan Basri

 

A.     Pendahuluan

Perkembangan teknologi digital telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk cara memperoleh pengetahuan, membangun relasi sosial, memahami agama, serta memaknai kemanusiaan. Digitalisasi menghadirkan peluang besar bagi agama dan humaniora untuk memperluas jangkauan pendidikan, dakwah, penelitian, dialog antaragama, dan pengembangan nilai-nilai kemanusiaan. Namun, di sisi lain, era digital juga melahirkan sejumlah tantangan serius berupa disinformasi, fragmentasi pengetahuan, komersialisasi agama, polarisasi sosial, kecanduan teknologi, serta kecenderungan reduksi manusia menjadi sekadar data dan algoritma. Makalah ini membahas masa depan agama dan humaniora dalam konteks transformasi digital dengan pendekatan konseptual dan reflektif. Agama dipandang tidak hanya sebagai sistem doktrin, tetapi juga sebagai sumber makna, etika, spiritualitas, dan orientasi kehidupan. Sementara itu, humaniora memiliki fungsi penting dalam menjaga dimensi kemanusiaan di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan, big data, media sosial, dan otomatisasi. Masa depan agama dan humaniora tidak semestinya diposisikan sebagai oposisi terhadap teknologi, melainkan sebagai kekuatan etis dan kritis yang mengarahkan teknologi agar tetap berpihak kepada manusia. Karena itu, diperlukan integrasi antara literasi digital, literasi keagamaan, pemikiran kritis, etika teknologi, dan pendidikan humanistik.

Perubahan teknologi digital merupakan salah satu fenomena paling menentukan dalam kehidupan manusia kontemporer. Internet, media sosial, platform digital, big data, komputasi awan, dan kecerdasan buatan telah mengubah cara manusia bekerja, belajar, berkomunikasi, memperoleh informasi, bahkan memahami dirinya sendiri.

Jika pada masa lalu manusia harus mendatangi perpustakaan untuk memperoleh pengetahuan, saat ini jutaan informasi dapat diakses hanya melalui perangkat yang berada di tangan. Jika dahulu dakwah agama berlangsung terutama melalui masjid, pesantren, madrasah, majelis taklim, buku, dan media cetak, kini pesan keagamaan dapat disebarkan melalui YouTube, Instagram, TikTok, podcast, WhatsApp, Facebook, dan berbagai platform digital lainnya. Perubahan tersebut menghadirkan sebuah pertanyaan penting: bagaimana masa depan agama dan humaniora ketika kehidupan manusia semakin terdigitalisasi?

Pertanyaan ini menjadi semakin penting karena teknologi tidak hanya mengubah sarana kehidupan, tetapi juga memengaruhi cara manusia berpikir dan memahami realitas. Algoritma media sosial, misalnya, menentukan jenis informasi yang sering muncul di hadapan seseorang. Mesin pencari dan sistem rekomendasi membentuk pola konsumsi pengetahuan. Kecerdasan buatan bahkan mulai mampu menghasilkan teks, gambar, musik, video, dan berbagai bentuk pengetahuan yang sebelumnya dianggap sebagai wilayah eksklusif kemampuan manusia.

Dalam situasi tersebut, agama dan humaniora menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Agama memiliki tanggung jawab untuk memberikan orientasi moral dan spiritual bagi manusia. Humaniora memiliki tanggung jawab untuk mempertahankan pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang manusia, seperti: Siapakah manusia? Apa tujuan hidup? Apa yang disebut kebenaran? Apa arti kebebasan? Apa yang dimaksud dengan kehidupan yang baik? Apa batas moral penggunaan teknologi?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya dengan algoritma. Teknologi dapat membantu manusia mengetahui bagaimana sesuatu dilakukan, tetapi tidak selalu mampu menjawab untuk apa sesuatu dilakukan. Teknologi dapat menghitung, memprediksi, dan mengoptimalkan, tetapi pertanyaan mengenai makna, nilai, tanggung jawab, dan tujuan tetap membutuhkan refleksi filosofis, etis, sosial, dan spiritual. Dalam konteks inilah agama dan humaniora memperoleh relevansinya.

Al-Qur’an sendiri memberikan perhatian besar terhadap penggunaan akal dan aktivitas intelektual. Allah berfirman:

أفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

“Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad [47]: 24).

Ayat tersebut menunjukkan pentingnya aktivitas reflektif dalam memahami kehidupan. Agama tidak seharusnya berhenti pada hafalan teks, tetapi mendorong manusia untuk berpikir, merenung, memahami realitas, dan mengambil hikmah.

Dalam konteks digital, prinsip tersebut menjadi semakin relevan. Manusia hidup dalam lautan informasi, tetapi banyak informasi tidak otomatis menghasilkan kebijaksanaan. Manusia dapat memiliki akses kepada jutaan buku, tetapi belum tentu memiliki kemampuan membedakan kebenaran dan kebohongan.

Dengan demikian, tantangan utama era digital bukan semata-mata kekurangan informasi, tetapi bagaimana manusia mengubah informasi menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi pemahaman, dan pemahaman menjadi kebijaksanaan.

            Adapun tujuan tulisan ini ialah:

1. Menjelaskan karakteristik transformasi digital.

2. Menganalisis hubungan agama dengan perkembangan teknologi digital.

3. Menjelaskan relevansi humaniora dalam menghadapi kecerdasan buatan.

4. Mengidentifikasi peluang dan tantangan agama serta humaniora.

5. Merumuskan perspektif masa depan yang menempatkan teknologi dalam kerangka nilai kemanusiaan.

 

B. Era Digital dan Perubahan Paradigma Kehidupan

Era digital bukan sekadar periode ketika manusia menggunakan komputer atau telepon pintar. Era digital merupakan perubahan paradigma yang memengaruhi cara manusia berkomunikasi, bekerja, belajar, beragama, dan membangun identitas.

Dalam masyarakat digital, informasi bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi. Batas geografis semakin tidak berarti. Seseorang di Aceh dapat mengikuti kuliah dari profesor di Amerika Serikat, membaca buku yang diterbitkan di Inggris, berdiskusi dengan mahasiswa dari Malaysia, dan mengikuti kajian keagamaan dari Timur Tengah dalam waktu yang hampir bersamaan. Kondisi ini memberikan peluang besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Namun, terdapat paradoks penting:

1.     Semakin mudah manusia memperoleh informasi, semakin sulit pula manusia menentukan informasi mana yang layak dipercaya.

2.     Media digital memungkinkan informasi yang benar dan informasi yang salah beredar melalui kanal yang sama. Berita ilmiah, pendapat pribadi, propaganda, teori konspirasi, tafsir keagamaan, dan informasi palsu dapat tampil dengan bentuk visual yang sama-sama menarik.

3.     Karena itu, masyarakat digital membutuhkan kemampuan yang lebih tinggi daripada sekadar kemampuan menggunakan teknologi dan yang dibutuhkan adalah literasi digital.

4.     Literasi digital tidak hanya berarti kemampuan mengoperasikan perangkat, tetapi mencakup kemampuan memahami sumber informasi, mengevaluasi kredibilitas, membaca konteks, mengenali manipulasi, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

 

C. Agama dalam Ruang Digital

Digitalisasi telah mengubah cara manusia beragama. Jika dahulu seseorang memperoleh pengetahuan agama terutama melalui guru, ulama, ustaz, kitab, pesantren, dan lembaga keagamaan, kini otoritas keagamaan juga hadir melalui influencer, content creator, podcaster, dan akun media sosial. Perubahan tersebut menghasilkan fenomena yang dapat disebut sebagai digitalisasi otoritas keagamaan. Seorang pendakwah tidak lagi harus memiliki institusi formal yang besar untuk memiliki pengaruh. Dengan kamera sederhana dan akses internet, seseorang dapat menyampaikan ceramah kepada ribuan bahkan jutaan orang.

Ø  Fenomena ini memiliki sisi positif.

Pertama, akses terhadap ilmu agama menjadi lebih terbuka.

Kedua, masyarakat yang tinggal jauh dari pusat pendidikan Islam dapat memperoleh materi keagamaan.

Ketiga, dialog keagamaan menjadi lebih luas.

Keempat, lembaga keagamaan dapat menggunakan teknologi untuk pendidikan, dakwah, pelayanan sosial, dan penguatan moderasi beragama. Namun terdapat pula persoalan serius.

 

1. Komersialisasi Agama

Konten agama dapat berubah menjadi komoditas digital. Popularitas, jumlah pengikut, jumlah tayangan, dan monetisasi dapat memengaruhi cara pesan keagamaan diproduksi. Dalam situasi tertentu, materi yang kontroversial lebih mudah mendapatkan perhatian daripada penjelasan yang mendalam. Akibatnya, agama berpotensi direduksi menjadi konten yang mengejar engagement (keterlibatan atau interaksi dengan netizen).

 

2. Fragmentasi Otoritas

Fragmentasi otoritas adalah keadaan ketika kewenangan atau sumber yang dianggap memiliki hak untuk menentukan kebenaran, memberikan arahan, atau memengaruhi masyarakat tidak lagi berada pada satu pusat, tetapi tersebar ke banyak pihak.

Dalam konteks agama, dahulu, seseorang yang ingin memperoleh penjelasan agama biasanya merujuk kepada ulama, ustaz, kitab, pesantren, atau lembaga keagamaan. Otoritas keagamaan relatif lebih terpusat.

Namun, di era digital, sumber pengetahuan agama menjadi jauh lebih beragam:

Ulama → lembaga agama → dosen → ustaz YouTube → influencer → TikTok → podcast → Google → AI → komunitas online

Masyarakat dapat memperoleh pendapat agama dari berbagai sumber yang belum tentu memiliki kapasitas keilmuan yang sama. Hal ini menyebabkan umat menghadapi situasi baru: banyaknya suara keagamaan tetapi tidak selalu diikuti kemampuan melakukan verifikasi.

Al-Qur’an memberikan prinsip penting:

ياَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِنْ جَآءَكُمْ فَا سِقٌ   بِۢنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْۤا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا بِۢجَهَا لَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu." (QS. Al-Hujurat 49: Ayat 6)

Prinsip tabayyun ini menjadi semakin penting di era digital. Fungsi Tabayyun dalam konteks Era Digital sangat signifikan. Dalam konteks ini, tabayyun berarti melakukan klarifikasi, pemeriksaan, dan verifikasi terhadap suatu informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Prinsip ini sangat relevan di era digital karena informasi dapat menyebar dalam hitungan detik melalui WhatsApp, TikTok, Instagram, Facebook, YouTube, dan berbagai platform lainnya.

 

1) Mencegah penyebaran hoaks

Fungsi pertama tabayyun adalah menyaring informasi sebelum membagikannya. Tidak semua informasi yang viral adalah informasi yang benar. Popularitas sebuah konten tidak otomatis menjadi bukti kebenarannya. Prinsipnya: “Viral bukan berarti benar.”

 

2) Menghindari misinformation dan disinformation

Di era digital, informasi keliru dapat muncul karena:

a.     Orang Tidak Memahami Informasi Secara Utuh;

b.     Judul Dibuat Secara Provokatif;

c.     Foto Atau Video Ditempatkan di Luar Konteks;

d.     Informasi Lama Disebarkan Kembali Sebagai Informasi Baru;

e.     Informasi Sengaja Dibuat untuk Menyesatkan.

Tabayyun mengajarkan kita untuk “menerima informasi dari sumber informasi yang benar dan terpercaya.”

 

3) Menjaga kehormatan dan nama baik seseorang

Satu unggahan yang belum diverifikasi dapat merusak reputasi seseorang. Karena itu, tabayyun merupakan bentuk perlindungan terhadap kehormatan manusia. Dalam konteks digital, seseorang seharusnya tidak langsung menuduh hanya berdasarkan:

a.     Potongan Video;

b.     Screenshot;

c.     Komentar;

d.     Judul Berita;

e.     Unggahan Anonim.

 

4) Mengurangi konflik dan polarisasi

Media sosial dapat menciptakan kelompok yang saling berhadapan. Informasi yang tidak diverifikasi dapat memperbesar prasangka dan permusuhan. Karena itu, tabayyun berfungsi sebagai mekanisme etika untuk meredam konflik digital.

 

5) Membentuk literasi digital yang kritis

Tabayyun bukan berarti tidak percaya kepada siapa pun, tetapi belajar bertanya:

a.     Siapa yang menyampaikan?

b.     Apa sumbernya?

c.     Kapan informasi itu dibuat?

d.     Apakah ada bukti?

e.     Apakah sumber lain mengonfirmasinya?

f.      Apakah informasi tersebut dipotong dari konteksnya?

Dengan demikian, tabayyun dapat dipandang sebagai literasi digital berbasis nilai Islam.

 

6. Menumbuhkan tanggung jawab sebelum share

Dalam budaya digital, tombol “share” sebenarnya mengandung tanggung jawab moral. Ketika seseorang menyebarkan informasi, ia ikut menjadi bagian dari rantai distribusi informasi tersebut. Karena itu, prinsip sederhananya:

Think before you share — tabayyun before you spread.

 

7) Menjaga etika komunikasi Islam

Tabayyun berhubungan erat dengan prinsip lain dalam komunikasi Islam, seperti qaulan sadidan (perkataan yang benar), menghindari ghibah, fitnah, namimah, dan prasangka buruk. Dengan demikian, tabayyun tidak hanya berbicara tentang kebenaran informasi, tetapi juga tentang akhlak orang yang menggunakan informasi.

Tabayyun di era digital adalah sikap kritis, hati-hati, dan bertanggung jawab dalam menerima, memeriksa, menilai, dan menyebarkan informasi agar teknologi digital menjadi sarana kemaslahatan, bukan sumber fitnah, konflik, dan kerusakan sosial.

Dalam konteks ini, tabayyun dapat ditempatkan sebagai etika verifikasi informasi Islam di ruang digital: terima → periksa → konfirmasi → pahami konteks → baru sebarkan.

 

3. Polarisasi Keagamaan

Algoritma dapat menciptakan ruang informasi yang mempertemukan seseorang terutama dengan konten yang sesuai dengan preferensinya. Dalam konteks agama, hal ini berpotensi memperkuat kelompok-kelompok yang hanya mendengar pandangan internalnya sendiri. Karena itu, agama di era digital harus berperan sebagai kekuatan yang membangun dialog, bukan sekadar memperkuat sekat.

 

D. Humaniora di Tengah Revolusi Kecerdasan Buatan

Humaniora mencakup berbagai bidang seperti filsafat, sejarah, sastra, bahasa, antropologi, kajian budaya, etika, dan studi agama. Dalam beberapa dekade terakhir, humaniora sering menghadapi pertanyaan tentang relevansinya di tengah dominasi ilmu pengetahuan dan teknologi.

Namun munculnya kecerdasan buatan justru menghadirkan pertanyaan baru:

1.     Jika mesin semakin mampu berpikir secara fungsional, apa yang membuat manusia tetap manusia?

2.     Kecerdasan buatan dapat menghasilkan tulisan, tetapi apakah tulisan tersebut memiliki pengalaman manusiawi?

3.     AI dapat menghasilkan puisi, tetapi apakah mesin mengalami kesedihan?

4.     AI dapat memberikan rekomendasi moral, tetapi apakah mesin memiliki tanggung jawab moral?

5.     AI dapat menjelaskan konsep cinta, tetapi apakah mesin mengalami cinta?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak menghapus humaniora. Sebaliknya, kemajuan teknologi membuat humaniora semakin diperlukan.

 

E. Dari Information Age Menuju Wisdom Age

Salah satu persoalan terbesar masyarakat digital adalah kecenderungan menyamakan informasi dengan pengetahuan. Padahal keduanya berbeda. Secara sederhana dapat digambarkan:

Data → Informasi → Pengetahuan → Pemahaman → Kebijaksanaan

§  Data adalah fakta mentah.

§  Informasi merupakan data yang telah disusun.

§  Pengetahuan muncul ketika informasi dipahami dalam konteks tertentu.

§  Pemahaman muncul ketika manusia mampu melihat hubungan, sebab-akibat, dan makna.

§  Sedangkan kebijaksanaan berkaitan dengan kemampuan menggunakan pengetahuan secara tepat dan bertanggung jawab.

§  Teknologi sangat kuat dalam mengolah data dan informasi.

§  Namun kebijaksanaan tidak dapat direduksi menjadi jumlah data.

Di sinilah agama dan humaniora memiliki fungsi strategis. Agama memberikan orientasi nilai dan makna. Filsafat mempertanyakan asumsi. Sejarah memberikan kesadaran tentang pengalaman manusia. Sastra mengembangkan empati. Antropologi membantu memahami keberagaman budaya. Etika memberikan pertimbangan mengenai baik dan buruk.

Dengan demikian, masa depan pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan manusia yang digital literate, tetapi harus menghasilkan manusia yang wise, ethical, reflective, and humane.

 

F. Harapan Masa Depan Agama di Era Digital

Era digital menawarkan beberapa peluang besar bagi agama.

 

1. Demokratisasi akses keagamaan

Pengetahuan agama dapat diakses oleh masyarakat luas tanpa dibatasi jarak geografis.

 

2. Dakwah lintas batas

Dakwah tidak lagi terbatas pada ruang fisik. Pesan keagamaan dapat menjangkau masyarakat global.

 

3. Pendidikan agama yang lebih kreatif

Materi agama dapat dikemas dalam bentuk:

1)    Video;

2)    Podcast;

3)    Infografik;

4)    Animasi;

5)    E-Book;

6)    Aplikasi;

7)    Virtual Classroom;

8)    Berbagai Platform Interaktif.

 

 

 

4. Dialog antaragama

Teknologi memungkinkan pemeluk berbagai agama bertemu dalam ruang virtual. Jika digunakan secara positif, media digital dapat menjadi ruang untuk membangun toleransi dan saling memahami.

 

5. Digitalisasi manuskrip keislaman

Naskah-naskah klasik dapat didigitalisasi sehingga lebih mudah dipelajari oleh generasi baru.

Ini sangat penting bagi pengembangan studi Islam, khususnya dalam kajian manuskrip, tafsir, hadis, fikih, sejarah Islam, dan pemikiran Islam.

 

G. Tantangan Masa Depan Agama

Di samping harapan, terdapat beberapa tantangan. Di antara tantangan yang  bakal dihadapi Agama dan Humaniora di masa depan ialah sebagai berikut:

 

1. Krisis Otoritas

Siapa yang menjadi rujukan agama ketika semua orang dapat berbicara tentang agama?

 

2. Krisis Verifikasi

Bagaimana membedakan hadis sahih dengan hadis palsu?

Bagaimana membedakan tafsir akademik dengan opini pribadi?

Bagaimana membedakan fatwa dengan komentar media sosial?

 

3. Reduksi Agama Menjadi Konten

Agama berisiko diperlakukan seperti produk digital yang diukur berdasarkan jumlah klik dan penonton.

 

4. Radikalisasi Digital

Kelompok tertentu dapat menggunakan teknologi untuk menyebarkan ideologi eksklusif dan membangun jaringan.

 

 

5. Superfisialisasi pemahaman agama

Video berdurasi satu menit tidak selalu mampu menggantikan kajian keagamaan yang membutuhkan konteks dan kedalaman.

 

H. Harapan Masa Depan Humaniora

Humaniora mempunyai peluang besar untuk melakukan humanisasi teknologi. Sekurangnya ada lima fungsi penting:

Pertama, humaniora sebagai penjaga makna

Teknologi bertanya: How?

Humaniora bertanya: Why?

Keduanya harus berjalan bersama.

Kedua, humaniora sebagai penjaga etika

Kemampuan membuat teknologi tidak otomatis berarti manusia mengetahui bagaimana teknologi tersebut seharusnya digunakan.

Ketiga, humaniora sebagai penjaga identitas

Globalisasi digital dapat membuat budaya lokal semakin terpinggirkan. Humaniora dapat membantu menjaga bahasa, sejarah, tradisi, dan identitas masyarakat.

Keempat, humaniora sebagai pengembang empati

Sastra, sejarah, antropologi, dan agama membantu manusia memahami pengalaman orang lain.

Kelima, humaniora sebagai kritik terhadap teknologi

Humaniora dapat mempertanyakan:

1.     Siapa yang mengendalikan teknologi?

2.     Siapa yang memperoleh keuntungan?

3.     Siapa yang dirugikan?

4.     Apakah teknologi memperluas kebebasan manusia?

5.     Apakah teknologi memperkuat atau justru mengurangi martabat manusia?

 

 

I. Tantangan Humaniora di Era Digital

Humaniora sendiri menghadapi sejumlah persoalan:

Pertama, semakin kuatnya orientasi pendidikan terhadap keterampilan teknis.

Kedua, anggapan bahwa bidang humaniora kurang memiliki nilai ekonomi langsung.

Ketiga, perubahan pola membaca dari teks panjang menuju konten pendek.

Keempat, menurunnya kemampuan konsentrasi akibat konsumsi informasi yang sangat cepat.

Kelima, tantangan AI terhadap pekerjaan yang selama ini dilakukan manusia, termasuk penerjemahan, penulisan, analisis teks, dan produksi konten.

Namun kondisi tersebut tidak berarti humaniora kehilangan masa depan. Justru sebaliknya, semakin canggih teknologi, semakin penting pertanyaan tentang manusia.

 

J. Integrasi Agama, Humaniora, dan Teknologi

Masa depan tidak seharusnya dibangun dengan mempertentangkan agama, humaniora, dan teknologi. Ketiganya dapat diposisikan dalam hubungan komplementer:

1.     Teknologi menyediakan kemampuan.

2.     Humaniora menyediakan refleksi.

3.     Agama menyediakan orientasi nilai dan makna.

Jika ketiganya terintegrasi, teknologi dapat menjadi instrumen untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Sebaliknya, jika teknologi berkembang tanpa etika, manusia berpotensi menjadi korban dari teknologi yang diciptakannya sendiri.

Al-Qur’an mengingatkan:

ولَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ

“Dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia, dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.” (QS. Al-Qashash [28]: 77).

Ayat ini dapat dibaca sebagai prinsip keseimbangan: manusia tidak boleh menolak dunia dan kemajuan, tetapi kemajuan harus diarahkan kepada kebaikan.

 

K. Pendidikan Agama dan Humaniora di Era Digital

Pendidikan merupakan medan paling penting untuk membangun masa depan tersebut.

Kurikulum pendidikan agama dan humaniora perlu bergerak dari model transfer of knowledge menuju formation of wisdom.

Mahasiswa tidak cukup hanya mengetahui ayat, hadis, teori filsafat, atau sejarah. Mereka perlu memiliki kemampuan:

1. Membaca Secara Kritis;

2. Memverifikasi Informasi;

3. Memahami Konteks;

4. Berdialog Dengan Perbedaan;

5. Menggunakan AI Secara Etis;

6. Memahami Budaya Digital;

7. Membangun Empati;

8. Mengambil Keputusan Berdasarkan Nilai.

Dalam konteks Pendidikan Agama Islam, misalnya, mahasiswa dapat diajarkan bukan hanya mengenai ayat tentang tabayyun, tetapi juga bagaimana melakukan tabayyun terhadap berita digital. Bukan hanya mempelajari akhlak secara teoritis, tetapi mempraktikkan akhlak digital.

Akhlak digital meliputi:

1.     Tidak Menyebarkan Hoaks;

2.     Tidak Melakukan Cyberbullying;

3.     Menghormati Privasi;

4.     Tidak Memfitnah;

5.     Tidak Memanipulasi Informasi;

6.     Mencantumkan Sumber;

7.     Menggunakan Ai Secara Bertanggung Jawab;

8.     Menghargai Perbedaan Pendapat.

 

L. Konsep “Digital Humanism”

Salah satu gagasan yang penting dikembangkan ke depan adalah digital humanism atau humanisme digital. Humanisme digital dapat dipahami sebagai pendekatan yang menempatkan manusia, martabat manusia, kebebasan, tanggung jawab, keadilan, dan kesejahteraan sebagai orientasi utama perkembangan teknologi. Dalam perspektif Islam, konsep tersebut dapat diperluas menjadi humanisme digital yang berlandaskan nilai-nilai spiritual dan etika.

Manusia tidak boleh dipandang semata-mata sebagai:

Data → pengguna → konsumen → target algoritma.

Manusia adalah makhluk yang memiliki:

Akal → hati → kehendak → tanggung jawab → spiritualitas.

Dengan demikian, teknologi seharusnya menjadi alat bagi manusia, bukan menjadikan manusia sekadar alat bagi sistem teknologi.

 

1. Antara Harapan dan Tantangan

Masa depan agama dan humaniora tidak dapat dibaca secara hitam-putih. Era digital bukan hanya ancaman. Ia juga bukan hanya harapan. Ia adalah ruang baru yang membawa peluang sekaligus risiko. Jika digunakan secara bijaksana, teknologi dapat:

1)    Memperluas Pendidikan;

2)    Meningkatkan Akses Ilmu;

3)    Memperkuat Dakwah;

4)    Mendokumentasikan Kebudayaan;

5)    Memperluas Dialog;

6)    Mendukung Penelitian;

7)    Dan Memperkuat Kerja Kemanusiaan.

8)    Namun Jika Digunakan Tanpa Etika, Teknologi Dapat:

9)    Mempercepat Penyebaran Kebohongan;

10) Memperkuat Polarisasi;

11) Mengeksploitasi Perhatian Manusia;

12) Mengurangi Privasi;

13) Memperkuat Diskriminasi Algoritmik;

14) Membuat Manusia Semakin Terasing Dari Dirinya Sendiri.

Karena itu, pertanyaan terpenting bukan:

“Apakah agama dan humaniora akan bertahan menghadapi teknologi?”

Pertanyaan yang lebih tepat adalah:

“Manusia seperti apa yang ingin kita bentuk melalui teknologi?”

Pertanyaan kedua membawa kita kembali kepada wilayah agama dan humaniora.

 

2. Masa Depan Bukan Persaingan antara Manusia dan Mesin

Perdebatan tentang masa depan sering kali dibingkai sebagai persaingan:

Manusia versus mesin. Padahal kemungkinan yang lebih produktif adalah: Manusia bersama mesin. AI dapat membantu manusia melakukan pekerjaan tertentu dengan lebih cepat. Namun manusia tetap membutuhkan kemampuan untuk menentukan tujuan, nilai, konteks, dan konsekuensi. Dalam pendidikan, misalnya, AI dapat membantu mahasiswa menemukan informasi, membuat ringkasan, menerjemahkan teks, atau mengembangkan ide.

Namun dosen tetap memiliki peran penting dalam:

1)    Membimbing;

2)    Memberikan Konteks;

3)    Mengembangkan Karakter;

4)    Menilai Integritas;

5)    Membangun Dialog;

6)    Menanamkan Nilai.

Dengan demikian, masa depan pendidikan bukan AI menggantikan dosen, melainkan bagaimana dosen dan AI bekerja dalam hubungan yang tetap menempatkan manusia sebagai pusat pendidikan.

 

3. Agama sebagai Kompas Moral

Perkembangan teknologi membutuhkan kompas moral. Dalam perspektif Islam, ilmu tidak dipisahkan dari tanggung jawab.

Allah berfirman:

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Dan katakanlah: Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu.” (QS. Taha [20]: 114).

Ayat tersebut memperlihatkan kemuliaan ilmu. Tetapi ilmu dalam Islam tidak berhenti pada penguasaan informasi. Ilmu idealnya melahirkan kesadaran terhadap Allah dan tanggung jawab moral. Karena itu, masa depan digital membutuhkan manusia yang bukan hanya knowledgeable, tetapi juga responsible.

 

4.   Strategi Membangun Masa Depan

Beberapa strategi yang dapat dikembangkan adalah sebagai berikut.

 

1) Memperkuat literasi digital

Masyarakat harus mampu:

§  Memeriksa Sumber;

§  Melakukan Verifikasi;

§  Mengenali Manipulasi Digital;

§  Memahami Algoritma;

§  Menjaga Keamanan Data.

 

2) Memperkuat literasi keagamaan

Literasi agama harus mengajarkan:

§  Pemahaman Teks;

§  Konteks;

§  Metodologi;

§  Sejarah Pemikiran;

§  Perbedaan Pendapat;

§  Etika Dialog.

 

3. Mengembangkan etika AI

Perguruan tinggi dan lembaga pendidikan perlu membangun pedoman penggunaan AI yang bertanggung jawab.

 

4. Mengintegrasikan humaniora dalam pendidikan teknologi

Mahasiswa teknik, informatika, data science, dan AI perlu memperoleh pendidikan:

§  Filsafat;

§  Etika;

§  Sejarah;

§  Agama;

§  Antropologi;

§  Dan Kajian Sosial.

 

5. Digitalisasi warisan intelektual

Kitab, manuskrip, arsip, dan karya intelektual klasik perlu didigitalisasi dan dikembangkan dalam bentuk yang dapat diakses generasi muda.

 

 

6. Membangun ruang dialog digital

Media sosial tidak boleh hanya menjadi ruang mempertahankan identitas kelompok. Ia perlu menjadi ruang dialog.

 

7. Mengembangkan AI yang berorientasi kemanusiaan

AI perlu dikembangkan dengan memperhatikan:

§  Keadilan;

§  Transparansi;

§  Privasi;

§  Akuntabilitas;

§  Inklusivitas;

§  Martabat Manusia.

 

M. Penutup

Era digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia. Perubahan tersebut tidak hanya menyentuh aspek ekonomi dan teknologi, tetapi juga menyentuh cara manusia memperoleh pengetahuan, membangun identitas, berkomunikasi, dan menjalankan kehidupan beragama.

Agama menghadapi tantangan berupa perubahan otoritas keagamaan, komersialisasi konten, disinformasi, polarisasi, dan superfisialitas pemahaman. Namun pada saat yang sama, teknologi membuka peluang besar bagi perluasan dakwah, pendidikan agama, dialog antaragama, digitalisasi manuskrip, dan penyebaran nilai-nilai kemanusiaan.

Humaniora juga menghadapi tantangan dari dominasi paradigma teknokratis dan perkembangan kecerdasan buatan. Namun justru perkembangan AI semakin memperlihatkan pentingnya humaniora. Ketika mesin semakin mampu mengolah informasi, manusia semakin membutuhkan kemampuan untuk memahami makna, nilai, etika, empati, dan tujuan kehidupan.

Karena itu, masa depan agama dan humaniora tidak seharusnya ditempatkan sebagai lawan dari teknologi. Teknologi membutuhkan humaniora agar memiliki arah. Teknologi membutuhkan agama agar memiliki dimensi moral dan spiritual. Humaniora membutuhkan teknologi agar mampu menjangkau masyarakat yang lebih luas. Agama membutuhkan teknologi untuk menyampaikan pesan kebaikan kepada generasi baru.

Dengan demikian, masa depan yang ideal bukanlah masa depan yang memilih antara agama, humaniora, atau teknologi, tetapi masa depan yang mampu mengintegrasikan ketiganya dalam kerangka kemaslahatan manusia.

Pada akhirnya, pertanyaan paling mendasar bukanlah seberapa pintar teknologi yang berhasil diciptakan manusia, tetapi seberapa manusiawi manusia ketika menggunakan teknologi tersebut.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Bostrom, Nick. Superintelligence: Paths, Dangers, Strategies. Oxford: Oxford University Press, 2014.

Floridi, Luciano. The Ethics of Information. Oxford: Oxford University Press, 2013.

Floridi, Luciano. The Logic of Information: A Theory of Philosophy as Conceptual Design. Oxford: Oxford University Press, 2019.

Floridi, Luciano, ed. The Onlife Manifesto: Being Human in a Hyperconnected Era. Cham: Springer, 2015.

Freire, Paulo. Pedagogy of the Oppressed. New York: Continuum, 2000.

Harari, Yuval Noah. Homo Deus: A Brief History of Tomorrow. New York: Harper, 2016.

Hassan, Robert. The Age of Digital Reproduction: Culture, Technology and Social Change. London: Routledge, 2012.

Kellner, Douglas. Media Culture: Cultural Studies, Identity and Politics between the Modern and the Postmodern. London: Routledge, 1995.

Lanier, Jaron. Ten Arguments for Deleting Your Social Media Accounts Right Now. New York: Henry Holt, 2018.

Noble, Safiya Umoja. Algorithms of Oppression: How Search Engines Reinforce Racism. New York: New York University Press, 2018.

O'Neil, Cathy. Weapons of Math Destruction: How Big Data Increases Inequality and Threatens Democracy. New York: Crown, 2016.

Postman, Neil. Technopoly: The Surrender of Culture to Technology. New York: Vintage Books, 1993.

Rheingold, Howard. The Virtual Community. Cambridge, MA: MIT Press, 2000.

Turkle, Sherry. Alone Together: Why We Expect More from Technology and Less from Each Other. New York: Basic Books, 2011.

UNESCO. Recommendation on the Ethics of Artificial Intelligence. Paris: UNESCO, 2021.

Zuboff, Shoshana. The Age of Surveillance Capitalism. New York: PublicAffairs, 2019.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar