Senin, 16 Maret 2026

SHALAT: MI‘RAJ ORANG BERIMAN

 

SHALAT: MI‘RAJ ORANG BERIMAN

DR. H. Hasan Basri, MA

 

Shalat disebut sebagai mi‘raj (perjalanan spiritual) orang beriman karena melalui shalat, seorang hamba berkomunikasi dan mendekatkan diri secara langsung kepada Allah SWT.

 

1. Sarana Kedekatan dengan Allah

Dalam shalat, seorang mukmin berdiri, rukuk, dan sujud dengan penuh khusyuk sebagai bentuk kepasrahan total kepada Allah. Saat sujud, hamba berada pada posisi paling dekat dengan Rabb-nya.

 

2. Perjalanan Spiritual Jiwa

Sebagaimana Nabi Muhammad melakukan Isra’ dan Mi‘raj, shalat menjadi perjalanan ruhani yang mengangkat jiwa dari urusan dunia menuju ketenangan dan kesadaran akan kehadiran Allah.

 

3. Media Dialog dengan Allah

Shalat adalah bentuk dialog antara hamba dan Tuhannya. Bacaan shalat, terutama Al-Fatihah, merupakan komunikasi langsung yang penuh makna dan pengharapan.

 

4. Penjaga Akhlak dan Keimanan

Shalat yang benar dan khusyuk mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar serta memperkuat keimanan dalam kehidupan sehari-hari.

 

5. Sumber Ketenangan dan Kekuatan Hidup

Shalat memberikan ketenangan batin, menguatkan hati dalam menghadapi ujian, dan menjadi penopang spiritual bagi orang beriman.

 

6. Kesimpulan

Shalat bukan sekadar kewajiban ritual, tetapi merupakan mi‘raj orang beriman—sarana untuk naik secara spiritual, mendekat kepada Allah, dan memperbaiki kualitas iman serta amal. HB 🕋🌈

MEMAKNAI SHALAT MALAM

 

MEMAKNAI SHALAT MALAM: JALAN SUNYI MENUJU POSISI TERPUJI

DR. H. Hasan Basri, MA

 

Shalat malam (qiyām al-lail), termasuk di dalamnya tahajud, witir, dan tarawih, merupakan ibadah sunnah yang memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Ia disebut sebagai ibadah orang-orang saleh, karena dikerjakan saat kebanyakan manusia terlelap, dalam suasana sunyi yang menghadirkan keikhlasan dan kedekatan spiritual yang mendalam dengan Allah Swt.

 

1. Shalat Malam sebagai Perintah dan Anjuran Ilahi

Al-Qur’an secara tegas mengisyaratkan keutamaan shalat malam sebagai sarana penguatan ruhani dan moral seorang mukmin. Allah Swt berfirman:

“Dan pada sebagian malam hari, bertahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isrā’ [17]: 79)

Ayat ini menunjukkan bahwa shalat malam bukan sekadar ibadah tambahan, tetapi jalan menuju maqām maḥmūd—kedudukan terpuji di sisi Allah.

 

2. Ciri Orang Beriman dan Hamba Pilihan

Shalat malam juga digambarkan sebagai karakter utama hamba-hamba Allah yang sejati. Dalam Al-Qur’an disebutkan:

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya; mereka berdoa kepada Tuhan mereka dengan rasa takut dan harap.” (QS. As-Sajdah [32]: 16)

Ayat ini menegaskan bahwa shalat malam adalah ekspresi keseimbangan iman: antara rasa takut (khauf) dan harapan (raja’) kepada Allah Swt.

 

3. Teladan Rasulullah dalam Shalat Malam

Rasulullah adalah teladan utama dalam menghidupkan malam dengan shalat. Bahkan, beliau melakukannya secara konsisten hingga kakinya bengkak. Ketika ditanya alasan beliau bersungguh-sungguh dalam shalat malam, Rasulullah bersabda:

 

“Tidakkah aku menjadi hamba yang bersyukur?” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa shalat malam merupakan manifestasi syukur terdalam seorang hamba atas nikmat Allah.

Dalam hadis lain, Rasulullah bersabda:

“Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim)

 

4. Dimensi Spiritual dan Sosial Shalat Malam

Shalat malam bukan hanya berdampak pada ketenangan batin, tetapi juga membentuk kepribadian yang rendah hati, sabar, dan berakhlak mulia. Doa-doa yang dipanjatkan di sepertiga malam terakhir diyakini sebagai waktu paling mustajab, sebagaimana sabda Rasulullah :

“Tuhan kita turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, lalu berfirman: ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku kabulkan…’” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

 

5. Kesimpulan

Memaknai shalat malam berarti memahami bahwa ia adalah ruang dialog paling jujur antara hamba dan Tuhannya. Di saat sunyi, tanpa sorotan manusia, shalat malam melatih keikhlasan, memperkuat iman, dan meneguhkan arah hidup seorang mukmin. Meski hukumnya sunnah, nilai dan dampaknya sangat besar dalam membentuk kedalaman spiritual dan ketangguhan moral seorang Muslim.🕋HB

MARHABAN YA RAMADHAN 1447 H

 

MARHABAN YA RAMADHAN: BULAN MULIA PENUH PENGAMPUNAN

DR. H. Hasan Basri, MA

 

 

1. Makna “MarḥabānYā Ramaḍān”

Ungkapan Marḥabān Yā Ramaḍān berarti “Selamat datang wahai Ramadhan.” Ia bukan sekadar ucapan seremonial, melainkan ekspresi kegembiraan, kesiapan ruhani, dan tekad memperbaiki diri dalam menyambut bulan suci. Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an, bulan puasa, bulan ampunan, dan bulan pembebasan dari api neraka.

Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 183)

Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama Ramadhan adalah pembentukan taqwa—kesadaran ilahiah yang melahirkan kedisiplinan spiritual dan moral.

 

2. Ramadhan: Bulan Diturunkannya Al-Qur’an

Keistimewaan terbesar Ramadhan adalah turunnya Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup.

“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang benar dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah [2]: 185)

Karena itu, menyambut Ramadhan berarti memperbarui komitmen terhadap Al-Qur’an: membacanya, mentadabburinya, dan mengamalkannya.

 

3. Ramadhan: Bulan Rahmat dan Ampunan

Rasulullah memberikan kabar gembira tentang kemuliaan Ramadhan. Dalam hadis sahih riwayat Abu Hurairah, Nabi bersabda:

 

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadis lain dijelaskan:

“Apabila datang bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa Ramadhan adalah momentum ilahiah untuk memperbaiki diri, karena suasana spiritualnya sangat kondusif.

 

4. Keutamaan Lailatul Qadar

Salah satu kemuliaan Ramadhan adalah adanya malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu Lailatul Qadar.

Allah berfirman dalam Surah Al-Qadr:

“Lailatul Qadar lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr [97]: 3)

Malam ini menjadi puncak spiritual Ramadhan, di mana doa dan ibadah dilipatgandakan nilainya.

 

5. Manifestasi “Marḥabā Yā Ramaḍān” dalam Amal Nyata

Menyambut Ramadhan tidak cukup dengan ucapan, tetapi harus diwujudkan dalam:

a. Taubat dan pembersihan hati

“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur [24]: 31)

 

b. Memperbanyak sedekah

Rasulullah adalah orang yang paling dermawan, dan lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan (HR. Bukhari).

 

c. Qiyamul lail (shalat malam)

 

“Barangsiapa yang mendirikan (shalat malam) pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

d. Menjaga lisan dan akhlak

“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari)

 

6. Penutup: Ramadhan sebagai Madrasah Taqwa

Ramadhan adalah madrasah ruhani selama sebulan penuh. Ia melatih kesabaran, empati sosial, kedisiplinan, dan ketundukan kepada Allah. Ucapan Marḥabā Yā Ramaḍān sejatinya adalah deklarasi kesiapan untuk berubah menjadi pribadi yang lebih bertakwa.

Semoga Allah mempertemukan kita dengan Ramadhan, memberi kekuatan untuk mengisinya dengan amal terbaik, dan menerima seluruh ibadah kita.

Allah yang Maha Agung, Ya Allah, mulailah bulan Ramadhan ini dengan penuh keamanan dan keimanan, keselamatan dan kesejahteraan, penuh bimbingan ke jalan yang Engkau cintai dan ridhai, dan Engkaulah Rabb pencipta dan pemelihara seluruh makhluk.🕋🖌️