MATERI: 03
ILMU
HUMANIORA: KARAKTERISTIK, DIMENSI FILOSOFIS DAN PERKEMBANGAN IPTEK
Hasan Basri
A. Pendahuluan
Pada prinsipnya, secara singkat, ilmu humaniora merupakan ilmu untuk
memanusiakan manusia. Penelusuran atas pengertian humaniora dalam sejarah
peradaban umat manusia menjadi salah satu titik tolak yang sangat penting.
Woodhouse (2002:1) dalam artikelnya yang berjudul The Nature of Humanities:
Historical Perspective menegaskan bahwa istilah humaniora yang
berasal dari program pendidikan yang dikembangkan Cicero, yang disebutnya
humanitas sebagai faktor penting pendidikan untuk menjadi orator yang ideal.
Penggunaan istilah humanitas oleh Cicero mengarah pada pertanyaan tentang makna
dalam cara lain bahwasanya pengertian umum humanitas berarti kualitas,
perasaan, dan peningkatan martabat kemanusiaan dan lebih berfungsi normatif
daripada deskriptif
Gellius (filosof) mengidentikkan humanitas dengan konsep Yunani paideia,
yaitu pendidikan (humaniora) yang ditujukan untuk mempersiapkan orang untuk
menjadi manusia dan warga negara yang bebas. Pada zaman Romawi gagasan tersebut
dikembangkan menjadi program pendidikan dasariah. Beralih pada zaman
Pertengahan pendidikan humaniora berusaha menyatukan konsep paideia dengan
kekristenan. Ketika memasuki zaman Renaissance, para humanis Italia
menghidupkan kembali istilah humanitas, sebagaimana dipakai oleh Cicero, dan
menjadi studi humanitas, yang mencakup gramatika, retorika, puisi, sejarah, dan
filasfat. Ketika itu dibedakan antara apa yang dianggap Kekristenan dan apa
yang dianggap secara otentik merupakan esensi kemanusiaan. Oleh karena itu
kemudian berkembang perbedaan antara studi divinitas (ketuhanan) dan
studi humanitas (kemanusiaan).
Pada zaman modern, pengertian humanitas kemudian berkembang ke dalam makna
khusus, yaitu: mengacu pada perasaan kemanusiaan dan tingkah laku yang mengarah
pada hal-hal seperti: kelemahlembutan, penuh pertimbangan, kebaikan, kejujuran,
dan keadilan. Humanitas juga mengacu pada pengembangan intelektual dan
pelatihan intelektual atau proses dan tujuan utama pendidikan liberal (konsep
pendidikan merdeka, kurikulum merdeka atau merdeka belajar). Selanjutnya dalam
sistem pendidikan di Barat dikenal istilah artes liberales (liberal arts)
dan di lingkungan Anglo-Saxon disebut “humanities”. Pendidikan
humaniora dianggap mempunyai fungsi pengembangan “humanitas” dalam diri manusia
(Woodhouse, 2002:2). Meskipun pada zaman Aufklarung (masa pencerahan) humaniora
banyak dikritik, tetapi program itu tetap menjadi dasar pendidikan pada abad
ke-18 dan 19. Pada awal abad ke-19, ditekankan perbedaan antara ilmu-ilmu
kemanusiaan dan ilmu-ilmu alam. Dilthey membagi ilmu menjadi dua kelompok yakni
Natuurwissenschaft dan Geisteswissenschaft. Setelah itu humaniora
tidak lagi dipandang sebagai dasar dari program pendidikan, tetapi lebih
dilihat sebagai dimensi fundamental dari dunia pengetahuan manusia.
Dewasa ini pengertian humanities merupakan sekelompok disiplin
pendidikan yang isi dan metodenya dibedakan dari ilmu-ilmu fisika dan biologi,
dan juga paling tidak dibedakan dengan ilmu-ilmu sosial. Kelompok studi humanities
meliputi bahasa, sastra, seni, filasfat, dan sejarah. Di sini inti humanitas
kadangkala ditentukan sebagai sekolah atau bagian dari sebuah universitas
modern. Keadaan yang mirip berlaku pula di Indonesia. Dalam sebuah artikel Indonesia’s
International Conference on Cultural Studies (2002:1) dikemukakan bahwa
bidang humaniora sebagaimana halnya ilmu sosial telah berperan dan menjadi
saksi nyata perkembangan fenomenal dari suatu paradigma baru dari ilmu-ilmu
budaya.
Paradigma baru tersebut mencoba memahami secara kritis bagaimana gerak
budaya, dan dasar kekuatannya terletak pada karya di balik praktik-praktik kultural.
Di Indonesia meskipun unsur-unsur studi budaya telah membuka atau meratakan
jalan masuk ke dalam kurikulum beberapa program studi di bidang ilmu
kemanusiaan dan ilmu sosial, juga aktivitas berbagai kelompok peneliti
independen, namun sebagian besar masih dipahami sebagai sisi luar dari body
of knowledge. Kendatipun demikian dengan kehadiran globalisasi yang
disertai dampak-dampak yang ditimbulkannya atas dunia, ada tuntutan kuat agar
ilmu-ilmu budaya di Indonesia dikembangkan lebih serius. Dengan demikian ilmu
budaya dapat memberdayakan (empowerment) ilmu-ilmu kemanusiaan dan ilmu
sosial dalam lingkup yang lebih luas. Selanjutnya, humaniora pada abad XX
mengalami perubahan yang mendalam dalam sistem pendidikan di Barat dikarenakan
beberapa faktor seperti: proliferasi ilmu-ilmu pengetahuan alam pada abad XX;
perkembangan ilmu pengetahuan menuntut adanya spesialisasi dalam berbagai bidang
ilmu pengetahuan; perkembangan ilmu-ilmu perilaku (behavioral sciences)
dan ilmu-ilmu sosial yang berbeda dari humaniora atau ilmu-ilmu kemanusiaan;
universitas semakin menjadi institusi yang berorientasi profesionalitas.
Mahasiswa belajar di Universitas untuk menjadi seorang profesional yang akan
memperoleh pekerjaan. Universitas cenderung menjadi pragmatis dan lebih cenderung
memenuhi kebutuhan pasar (market oriented).
Hal yang sama juga dirasakan kecenderungannya di Indonesia, terlebih lagi
dengan dicanangkannya otonomisasi melalui Badan Layanan Umum (BLU) kampus
terasa kuatnya orientasi pasar, sehingga sebuah fakultas akan dihargai kualitas
akademiknya manakala alumninya berhasil memasuki dunia kerja dengan masa tunggu
yang relatif singkat. Di sini sudah tidak dipersoalkan lagi seberapa besar
peran bidang humaniora di dalam membentuk kualitas akademik seorang lulusan,
yang ditonjolkan justru profil lulusan dari suatu fakultas dan program studi
dengan memiliki keahlian (skill) yang dapat diandalkan.
B. Ciri-Ciri Ilmu Humaniora
Humaniora merupakan studi yang memusatkan perhatiannya pada kehidupan
manusia, menekankan unsur kreativitas, kebaharuan, orisinalitas, dan keunikan.
Humaniora berusaha mencari makna dan nilai, sehingga bersifat normatif.
Dalam bidang humaniora, rasionalitas tidak hanya dipahami sebagai pemikiran
tentang suatu objek atas dasar dalil-dalil akal (logika), tetapi juga hal-hal
yang bersifat imajinatif, sebagai contoh: Leonardo da Vinci mampu menggambar
sebuah lukisan yang mirip dengan bentuk helikopter jauh sebelum ditemukannya
helikopter. Humanities sebagai kelompok ilmu pengetahuan mencakup bahasa
baik bahasa modern maupun klasik, linguistik, kesusastraan, sejarah, religiusitas,
teori dan praktik seni, dan semua aspek ilmu-ilmu sosial yang memiliki isi humanities
dan menggunakan metode humanities. Bidang humaniora yang menjadikan
manusia (humanus) lebih manusiawi (humanior) itu, pada mulanya
adalah Trivium yang terdiri atas gramatika, logika, dan retorika.
Gramatika (tata bahasa) bermaksud membentuk manusia terdidik yang
menguasai sarana komunikasi secara baik. Logika bertujuan untuk
membentuk manusia terdidik agar dapat menyampaikan sesuatu sedemikian rupa
sehingga dapat dimengerti dan masuk akal (rasional). Retorika bertujuan
untuk membentuk manusia terdidik agar mampu merasakan perasaan dan kebutuhan
pendengar, dan mampu menyesuaikan diri dan uraian dengan perasaan dan komunikatif.
Retorika mengacu kepada seni penyampaian kata-kata dalam bentuk pidato atau
ceramah dengan irama dan gaya bicara yang komunikiatif, menarik dan memukau
pendengar.
Kemudian dari Trivium berkembang ke Quadrivium yaitu geometri,
aritmatika, musik (teori akustik), dan astronomi. Seorang mahasiswa,
misalnya, harus memiliki kematangan baik intelektual maupun emosional, agar
dapat menempuh studi akademis. Ciri kematangan itu adalah kemampuan bernalar
dan bertutur yang telah terbentuk. Mahasiswa yang siap megikuti pembelajaran di
Perguruan Tinggi adalah yang dapat mengendalikan nalar dan bersifat kritis.
Seorang yang kritis adalah seorang yang antara lain mampu membedakan
macam-macam pengertian dan konsep, sanggup menilai kesimpulan-kesimpulan tanpa
terbawa perasaan dan mampu mengembangkan pemikiran secara lebih luas dan
mendalam.
Ada 5 (lima) ciri ilmu humaniora yang diletakkan dalam kategori hitoris-hermeneutis
sebagai berikut:
- Jalan untuk mendekati kenyataan
melalui pemahaman makna.
- Penilaian terhadap salah benarnya
pemahaman tersebut dilakukan melalui interpretasi. Interpretasi yang benar
akan meningkatkan intersubjektivitas, sedang interpretasi yang salah akan
mendatangkan sanksi (misal: senyum basa-basi yang diinterpretasikan jatuh
cinta).
- Pemahaman hermeneutis selalu merupakan
pemahaman berdasarkan prapengertian atau interpretasi. Pemahaman situasi terhadap
seseorang mungkin tercapai melalui pemahaman atas situasi diri sendiri
terlebih dahulu. Pemahaman terjadi apabila tercipta komunikasi antara
kedua situasi tersebut.
- Komunikasi tersebut akan menjadi
intensif apabila situasi yang hendak dipahami oleh pihak yang memahaminya
diaplikasikan kepada dirinya sendiri.
- Kepentingan yang ada disini adalah
kepentingan untuk mempertahankan dan memperluas intersubjektivitas dalam
komunikasi yang dijamin dan diawasi oleh pengakuan umum tentang kewajiban
yang harus ditaati.
Dengan demikian, ilmu humaniora akan menghasilkan
interpretasi-interpretasi yang menungkinkan adanya suatu orientasi bagi
tindakan manusia dalam kehidupan bersama. Jika dikaitkan dengan perspektif
agama, maka ilmu humaniora lebih menekankan pada sikap dan perilaku seseorang
dalam memandang dan memperlakukan orang lain. Sikap ramah, sopan, dan saling
menghormati melahirkan tindakan yang penuh persahabatan dan persaudaraan.
Dengan cara ini seseorang dapat merasakan diperlakukan secara manusiawi.
C. Relevansi Humaniora dengan Perkembangan IPTEK
Seorang pakar teknologi Indonesia, M. T. Zen (2000, 97) dalam sebuah
artikelnya Teknologi Nano dan Revolusi Industri Abad Ke-21 mengatakan
bahwa pada awal abad ke-21 ini dunia dikuasai 3 (tiga) bidang teknologi, yaitu
teknologi informasi, bio-teknologi, dan teknologi nano. Teknologi informasi
terkait dengan kemajuan di bidang pertelevisian, internet, handphone
yang memudahkan penyampaian dan penerimaan informasi dalam akselerasi yang luar
biasa. Bioteknologi terkait dengan pemanfaatan di bidang peternakan, pertanian,
kedokteran dan teknologi kloning yang memanipulasi atau rekayasa genetika.
Teknologi Nano ialah memanipulasi struktur molekul dengan memanipulasi
atom-atom menjadi molekul-molekul. Teknologi nano menjadikan ilmuwan mampu
mengatur kedudukan atom-atom yang membentuk molekul-molekul. Dalam perkembangan
yang mutakhir masih ada satu bidang yang sedang diupayakan oleh negara-negara maju
(terutama Amerika), yakni Teknologi Terraformasi, yakni penjajagan
manusia untuk membuat struktur kehidupan baru di ruang angkasa (misalnya di
Planet Mars). Adakah kemungkinan manusia hijrah ke planet tersebut?
Di manakah relevansi bidang humaniora terhadap perkembangan
teknologi-teknologi tersebut? Dalam teknologi informasi, peran bahasa sebagai
sarana komunikasi merupakan hal yang tak dapat diragukan. Sebab sulit
dibayangkan sebuah informasi yang disampaikan tanpa melalui bahasa. Dalam
Bio-teknologi analisis kritis melalui logika dan etika sangat diperlukan
sebagai bahan pertimbangan: seberapa pentingkah pengembangan bio-teknologi itu
bagi nilai-nilai kemanusiaan? Cukup masuk akalkah melakukan klonasi (melalui
rekayasa cloning) terhadap makhluk manusia melalui proses aseksual yang
pada gilirannya akan melahirkan bentuk penyeragaman manusia? Apa gerangan
dampak yang ditimbulkan oleh penyeragaman tersebut bagi eksistensi manusia?
Dalam teknologi Nano, M.T. Zen sendiri tidak mampu menjawab pertanyaan yang
muncul yakni ke mana teknologi nano akan membawa manusia. Apakah manusia akan
sampai ke titik kehidupan buatan (artificial life)? Dalam teknologi terraformasi,
seandainya unsur-unsur kehidupan dapat dibentuk di planet Mars dalam jutaan
tahun yang akan datang, sudah siapkah manusia untuk menghuni wilayah baru itu
dengan meninggalkan planet bumi sebagai wilayah usang yang menyebalkan?
Melalaikan dimensi kemanusiaan (humanior) dalam setiap derap langkah
kemajuan IPTEK hanya akan menimbulkan “rasa sesal kemudian tiada guna.”
D. Dimensi Filosofis Dalam Humaniora
Ada empat pilar filsafat yang dapat dijadikan pertimbangan dalam humaniora, yaitu
metafisika, epistemologi, logika, dan etika. Metafisika merupakan cabang
filsafat yang berupaya memformulasi kategori-kategori yang paling umum dan luas
tentang realitas. Metafisika umum sering disebut ontologi, metafisika khusus
meliputi filsafat manusia (antropologi), filsafat kealaman (kosmologi), dan
filsafat ketuhanan (theologi). Filsafat manusia berperan penting dalam humaniora untuk
mengembangkan dimensi kemanusiaan dalam konteks sejauh mana relasi antara jiwa (mind)
dan raga (body) dalam membentuk kepribadian manusia yang utuh.
Spiritualitas dan materialitas merupakan dua komponen yang menyatu dalam diri
manusia, sehingga memisahkan salah satu dari keduanya hanya akan menghilangkan
kepribadian manusia yang sejati.
Bidang epistemologi merupakan cabang filsafat yang membicarakan tentang
terbentuknya struktur pengetahuan dalam diri manusia. Pengetahuan manusia dapat
dikelompokkan ke dalam empat kategori, yaitu 1) pengetahuan biasa, 2) pengetahuan
ilmiah, 3) pengetahuan filosofis, dan 4) pengetahuan agama. Keempatnya memiliki
karakteristik tersendiri dan memainkan peranan penting bagi pembentukan dimensi
kemanusiaan. Pengetahuan biasa akan membentuk akal sehat (common sense)
manusia sebatas pengalaman sehari-hari yang ia hadapi dan jalani. Pengetahuan
ilmiah akan membentuk rasionalitas yang memenuhi kaidah-kaidah standar
(metodologis) dalam suatu komunitas ilmiah. Pengetahuan filosofis akan
membentuk sikap reflektif terhadap diri dan situasi yang mengitari diri
manusia. Sedangkan pengetahuan agama akan membentuk kepribadian yang memiliki
visi dunia dan akhirat secara seimbang (equilibrium).
Bidang logika merupakan studi penyimpulan (inference) yang
mengajarkan manusia tentang cara menalar (reasoning) yang baik. Logika
adalah tools of thinking, sarana untuk berfikir secara jernih sehingga
diperoleh kesimpulan yang valid. Dalam logika ditekankan bahwa sah atau
tidaknya; benar atau salah suatu argumen sangat tergantung dari bentuknya
(formal) bukan isinya (material). Logika dapat mendukung bahasa sebagai sarana
penyampaian ide-ide manusia agar dapat dipahami dan dikomunikasikan secara
lebih baik.
Bidang etika merupakan studi tentang tingkah laku manusia yang dapat
dikategorikan baik atau buruk. Dalam etika persoalan yang paling mendasar
terkait dengan dilema etis. Manusia selalu dihadapkan pada pilihan antara yang
baik dengan yang lebih baik, yang buruk dengan yang kurang buruk. Segala
putusan tindakan manusia harus dipertimbangkan secara sungguh-sungguh agar
tidak bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan.
Bertens (1992: 42) dalam artikelnya Mengajar Filsafat: Apa Gunanya? mnyebutkan
5 (lima) alasan pentingnya mempelajari filsafat.
- Membantu dan memperluas pandangan
calon sarjana untuk melihat di luar tembok ilmu pengetahuan yang
ditekuninya;
- Membantu mahasiswa agar berfikir kritis
dan menganalisis masalah dengan tajam dan mendalam;
- Mempermudah calon sarjana untuk
mengungkapkan pemikirannya dengan jelas dan tepat;
- Mengerti lebih mendalam dunia di mana dia
hidup sehingga mampu beradaptasi;
- Menanamkan kesadaran etis dalam jiwa
calon sarjana melalui studi etika.
E. Kecenderungan Humaniora Masa Kini
Perkembangan ilmu-ilmu
humaniora dalam tiga dasawarsa terakhir di Indonesia belum menampakkan hasil
yang optimal. Hal ini terlihat dari beberapa aspek sebagai berikut.
- Masih kuatnya pengaruh positivistik
dalam dunia akademis, sehingga ukuran ilmiah selalu diperlakukan seragam
(uniformitas), yakni eksak, terukur, dan signifikan. Ilmu-ilmu sosial dan
humaniora harus mau mengalah terhadap kriteria ilmiah kalau tidak ingin
dianggap sebagai aktivitas nir-ilmiah atau pseudo-ilmiah. Aktivitas jiwa
seperti: emosi, perasaan, pikiran, kesadaran harus dapat diukur
(kuantitatif) agar memenuhi persyaratan ilmiah sebagaimana yang
dicanangkan kaum positivist. Dalam dunia filsafat, munculnya
positivisme logis yang dipandang sebagai tumbuhnya kesadaran baru tentang
pentingnya dimensi metodologis. A.J. Ayer (1952: 4) dalam karyanya Laguage,
Truth, and Logic menegaskan bahwa pernyataan filosofis baru dapat
dikatakan ilmiah manakala memenuhi kriteria proposisi empirik dan
proposisi analitik. Prinsip verifikasi merupakan ukuran yang dapat
membuktikan apakah sebuah pernyataan (statement) atau temuan (finding)
itu bermakna (meaningfull) ataukah nir-makna (meaningless);
- Penomorduaan terhadap ilmu-ilmu
humaniora dalam berbagai aktivitas ilmiah bahkan dalam bentuk pengakuan
ataupun opini masyarakat. Orang tua lebih bangga anaknya kuliah di
fakultas-fakultas eksakta daripada fakultas-fakultas humaniora. Dalam
kenyataannya lulusan fakultas-fakultas eksakta lebih mudah mencari
pekerjaan karena kualifikasi yang diinginkan oleh pasar mengarah pada
kriteria terukur seperti itu;
- Gagap teknologi (gaptek) dipandang
lebih memalukan daripada gagap budaya (gaya) dan gagap kemanusiaan
(gamas). Individu yang tidak mengikuti perkembangan teknologi
mutakhir dipandang ketinggalan zaman. Teknologi telah melahirkan
peradaban yang maju dalam ukuran lahiriah. Para Filosuf Eksistensialis
umumnya membedakan istilah dengan civilization. Culture lebih
mengacu pada aspek lahiriah. Gagap budaya (gaya) terlihat dalam kesulitan
untuk menyesuaikan diri dengan alam pemikiran atau gagasan yang berkembang
dalam kehidupan modern. Gagap kemanusiaan (gamas) terlihat pada sikap
meremehkan dan tidak peduli dengan nasib manusia lainnya. Khusus yang
terakhir ini yang sedang melanda Indonesia dalam bentuk munculnya
berbagai kerusuhan dan tawuran yang banyak menelan korban manusia, masalah
pengungsi dan lain sebagainya. Namun kurangnya penanganan yang menyeluruh
terhadap problem kemanusiaan sehingga menjadikan gagap kemanusiaan (gamas)
pada sebagian besar masyarakat Indonesia. Sedangkan civilization
lebih bersifat batiniah yang merefleksikan pemikiran, wawasan dan cara
pandang (world view) terhadap perkembangan dan kemajuan.
- Adanya rasa rendah diri yang
menghinggapi kalangan ilmuan di bidang humaniora itu sendiri, sehingga
lemahnya semangat kompetitif dalam pengembangan ilmu. Kemajuan pesat di
bidang teknologi direspons lamban oleh ilmu-ilmu humaniora, sehingga
dampak negatif teknologi sudah merambah kemana-mana tanpa dapat dicegah,
sehingga pada akhirnya merugikan umat manusia. Sikap kritis ilmu humaniora
belum mampu memprediksi secara lebih dini kemungkinan yang akan terjadi
akibat kemajuan IPTEK.
F. Faktor-Faktor Kelemahan Pengembangan Ilmu Humaniora
Kelemahan pengembangan
ilmu humaniora di Indonesia cenderung disebabkan oleh faktor-faktor sebagai
berikut.
- Sumber daya manusia yang menggeluti
bidang humaniora kurang serius dan menjadikan bidang humaniora sebagai
aktivitas sambilan yang tidak dihayati dan direfleksikan secara total;
- Rendahnya dukungan pemerintah terhadap
riset atau penelitian ilmu humaniora berupa alokasi dana yang tidak
seimbang dibanding dengan ilmu eksakta, terlebih bidang teknologi;
- Lemahnya aspek metodologi yang
dikuasai pada pakar ilmu humaniora sehingga menjadikan hasil penelitian
kurang mengena pada sasaran. Alhasil para pakar humaniora kurang mampu
melakukan prediksi terhadap fenomena yang berkembang di masyarakat serta
kosekuensinya;
- Tidak ditempatkannya ilmu humaniora
sebagai mitra dialog ataupun mitra riset dengan disiplin ilmu eksakta atau
teknologi, sehingga pemahaman atau kasus yang menyangkut manusia cenderung
bersifat parsialistik dan miskonsepsi.
Itulah sekilas deskripsi pasang-surut perkembangan ilmu humaniora dalam
dunia pendidikan di Indonesia. Ada hal yang penting dicatat bahwa ketika
manusia sudah meraih kemajuan teknologi maka aspek kemanusiaan akan terlupakan;
bahkan ketika sarana komunikasi semakin maju, maka keakraban antar sesama
manusia semakin tereduksi; bahkan kandas. Begitulah dampak negatif (tanpa
menafikan dimensi positif) dari kemajuan IPTEK yang tidak terkendali. Dalam
kaitan ini, agama (khususnya Islam) dengan seperangkat ajaran-ajarannya, tampil
untuk mengingatkan dan menyelamatkan manusia dari kehancuran nilai-nilai kemanusiaan.
Sebab itulah, IPTEK harus dibarengi dengan IMTAQ (Iman dan Taqwa) sehingga
kehidupan menjadi seimbang dan harmonis.