Jumat, 02 Oktober 2026

ILMU HUMANIORA: KARAKTERISTIK, DIMENSI FILOSOFIS DAN PERKEMBANGAN IPTEK

 

MATERI: 03

ILMU HUMANIORA: KARAKTERISTIK, DIMENSI FILOSOFIS DAN PERKEMBANGAN IPTEK

 Hasan Basri

 

A.     Pendahuluan

Pada prinsipnya, secara singkat, ilmu humaniora merupakan ilmu untuk memanusiakan manusia. Penelusuran atas pengertian humaniora dalam sejarah peradaban umat manusia menjadi salah satu titik tolak yang sangat penting. Woodhouse (2002:1) dalam artikelnya yang berjudul The Nature of Humanities: Historical Perspective menegaskan bahwa istilah humaniora yang berasal dari program pendidikan yang dikembangkan Cicero, yang disebutnya humanitas sebagai faktor penting pendidikan untuk menjadi orator yang ideal. Penggunaan istilah humanitas oleh Cicero mengarah pada pertanyaan tentang makna dalam cara lain bahwasanya pengertian umum humanitas berarti kualitas, perasaan, dan peningkatan martabat kemanusiaan dan lebih berfungsi normatif daripada deskriptif

Gellius (filosof) mengidentikkan humanitas dengan konsep Yunani paideia, yaitu pendidikan (humaniora) yang ditujukan untuk mempersiapkan orang untuk menjadi manusia dan warga negara yang bebas. Pada zaman Romawi gagasan tersebut dikembangkan menjadi program pendidikan dasariah. Beralih pada zaman Pertengahan pendidikan humaniora berusaha menyatukan konsep paideia dengan kekristenan. Ketika memasuki zaman Renaissance, para humanis Italia menghidupkan kembali istilah humanitas, sebagaimana dipakai oleh Cicero, dan menjadi studi humanitas, yang mencakup gramatika, retorika, puisi, sejarah, dan filasfat. Ketika itu dibedakan antara apa yang dianggap Kekristenan dan apa yang dianggap secara otentik merupakan esensi kemanusiaan. Oleh karena itu kemudian berkembang perbedaan antara studi divinitas (ketuhanan) dan studi humanitas (kemanusiaan).

Pada zaman modern, pengertian humanitas kemudian berkembang ke dalam makna khusus, yaitu: mengacu pada perasaan kemanusiaan dan tingkah laku yang mengarah pada hal-hal seperti: kelemahlembutan, penuh pertimbangan, kebaikan, kejujuran, dan keadilan. Humanitas juga mengacu pada pengembangan intelektual dan pelatihan intelektual atau proses dan tujuan utama pendidikan liberal (konsep pendidikan merdeka, kurikulum merdeka atau merdeka belajar). Selanjutnya dalam sistem pendidikan di Barat dikenal istilah artes liberales (liberal arts) dan di lingkungan Anglo-Saxon disebut “humanities”. Pendidikan humaniora dianggap mempunyai fungsi pengembangan “humanitas” dalam diri manusia (Woodhouse, 2002:2). Meskipun pada zaman Aufklarung (masa pencerahan) humaniora banyak dikritik, tetapi program itu tetap menjadi dasar pendidikan pada abad ke-18 dan 19. Pada awal abad ke-19, ditekankan perbedaan antara ilmu-ilmu kemanusiaan dan ilmu-ilmu alam. Dilthey membagi ilmu menjadi dua kelompok yakni Natuurwissenschaft dan Geisteswissenschaft. Setelah itu humaniora tidak lagi dipandang sebagai dasar dari program pendidikan, tetapi lebih dilihat sebagai dimensi fundamental dari dunia pengetahuan manusia.

Dewasa ini pengertian humanities merupakan sekelompok disiplin pendidikan yang isi dan metodenya dibedakan dari ilmu-ilmu fisika dan biologi, dan juga paling tidak dibedakan dengan ilmu-ilmu sosial. Kelompok studi humanities meliputi bahasa, sastra, seni, filasfat, dan sejarah. Di sini inti humanitas kadangkala ditentukan sebagai sekolah atau bagian dari sebuah universitas modern. Keadaan yang mirip berlaku pula di Indonesia. Dalam sebuah artikel Indonesia’s International Conference on Cultural Studies (2002:1) dikemukakan bahwa bidang humaniora sebagaimana halnya ilmu sosial telah berperan dan menjadi saksi nyata perkembangan fenomenal dari suatu paradigma baru dari ilmu-ilmu budaya.

Paradigma baru tersebut mencoba memahami secara kritis bagaimana gerak budaya, dan dasar kekuatannya terletak pada karya di balik praktik-praktik kultural. Di Indonesia meskipun unsur-unsur studi budaya telah membuka atau meratakan jalan masuk ke dalam kurikulum beberapa program studi di bidang ilmu kemanusiaan dan ilmu sosial, juga aktivitas berbagai kelompok peneliti independen, namun sebagian besar masih dipahami sebagai sisi luar dari body of knowledge. Kendatipun demikian dengan kehadiran globalisasi yang disertai dampak-dampak yang ditimbulkannya atas dunia, ada tuntutan kuat agar ilmu-ilmu budaya di Indonesia dikembangkan lebih serius. Dengan demikian ilmu budaya dapat memberdayakan (empowerment) ilmu-ilmu kemanusiaan dan ilmu sosial dalam lingkup yang lebih luas. Selanjutnya, humaniora pada abad XX mengalami perubahan yang mendalam dalam sistem pendidikan di Barat dikarenakan beberapa faktor seperti: proliferasi ilmu-ilmu pengetahuan alam pada abad XX; perkembangan ilmu pengetahuan menuntut adanya spesialisasi dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan; perkembangan ilmu-ilmu perilaku (behavioral sciences) dan ilmu-ilmu sosial yang berbeda dari humaniora atau ilmu-ilmu kemanusiaan; universitas semakin menjadi institusi yang berorientasi profesionalitas. Mahasiswa belajar di Universitas untuk menjadi seorang profesional yang akan memperoleh pekerjaan. Universitas cenderung menjadi pragmatis dan lebih cenderung memenuhi kebutuhan pasar (market oriented).

Hal yang sama juga dirasakan kecenderungannya di Indonesia, terlebih lagi dengan dicanangkannya otonomisasi melalui Badan Layanan Umum (BLU) kampus terasa kuatnya orientasi pasar, sehingga sebuah fakultas akan dihargai kualitas akademiknya manakala alumninya berhasil memasuki dunia kerja dengan masa tunggu yang relatif singkat. Di sini sudah tidak dipersoalkan lagi seberapa besar peran bidang humaniora di dalam membentuk kualitas akademik seorang lulusan, yang ditonjolkan justru profil lulusan dari suatu fakultas dan program studi dengan memiliki keahlian (skill) yang dapat diandalkan.

 

B.     Ciri-Ciri Ilmu Humaniora

Humaniora merupakan studi yang memusatkan perhatiannya pada kehidupan manusia, menekankan unsur kreativitas, kebaharuan, orisinalitas, dan keunikan. Humaniora berusaha mencari makna dan nilai, sehingga bersifat normatif.  Dalam bidang humaniora, rasionalitas tidak hanya dipahami sebagai pemikiran tentang suatu objek atas dasar dalil-dalil akal (logika), tetapi juga hal-hal yang bersifat imajinatif, sebagai contoh: Leonardo da Vinci mampu menggambar sebuah lukisan yang mirip dengan bentuk helikopter jauh sebelum ditemukannya helikopter. Humanities sebagai kelompok ilmu pengetahuan mencakup bahasa baik bahasa modern maupun klasik, linguistik, kesusastraan, sejarah, religiusitas, teori dan praktik seni, dan semua aspek ilmu-ilmu sosial yang memiliki isi humanities dan menggunakan metode humanities. Bidang humaniora yang menjadikan manusia (humanus) lebih manusiawi (humanior) itu, pada mulanya adalah Trivium yang terdiri atas gramatika, logika, dan retorika. Gramatika (tata bahasa) bermaksud membentuk manusia terdidik yang menguasai sarana komunikasi secara baik. Logika bertujuan untuk membentuk manusia terdidik agar dapat menyampaikan sesuatu sedemikian rupa sehingga dapat dimengerti dan masuk akal (rasional). Retorika bertujuan untuk membentuk manusia terdidik agar mampu merasakan perasaan dan kebutuhan pendengar, dan mampu menyesuaikan diri dan uraian dengan perasaan dan komunikatif. Retorika mengacu kepada seni penyampaian kata-kata dalam bentuk pidato atau ceramah dengan irama dan gaya bicara yang komunikiatif, menarik dan memukau pendengar.

Kemudian dari Trivium berkembang ke Quadrivium yaitu geometri, aritmatika, musik (teori akustik), dan astronomi. Seorang mahasiswa, misalnya, harus memiliki kematangan baik intelektual maupun emosional, agar dapat menempuh studi akademis. Ciri kematangan itu adalah kemampuan bernalar dan bertutur yang telah terbentuk. Mahasiswa yang siap megikuti pembelajaran di Perguruan Tinggi adalah yang dapat mengendalikan nalar dan bersifat kritis. Seorang yang kritis adalah seorang yang antara lain mampu membedakan macam-macam pengertian dan konsep, sanggup menilai kesimpulan-kesimpulan tanpa terbawa perasaan dan mampu mengembangkan pemikiran secara lebih luas dan mendalam.

Ada 5 (lima) ciri ilmu humaniora yang diletakkan dalam kategori hitoris-hermeneutis sebagai berikut:

  1. Jalan untuk mendekati kenyataan melalui pemahaman makna.
  2. Penilaian terhadap salah benarnya pemahaman tersebut dilakukan melalui interpretasi. Interpretasi yang benar akan meningkatkan intersubjektivitas, sedang interpretasi yang salah akan mendatangkan sanksi (misal: senyum basa-basi yang diinterpretasikan jatuh cinta).
  3. Pemahaman hermeneutis selalu merupakan pemahaman berdasarkan prapengertian atau interpretasi. Pemahaman situasi terhadap seseorang mungkin tercapai melalui pemahaman atas situasi diri sendiri terlebih dahulu. Pemahaman terjadi apabila tercipta komunikasi antara kedua situasi tersebut.
  4. Komunikasi tersebut akan menjadi intensif apabila situasi yang hendak dipahami oleh pihak yang memahaminya diaplikasikan kepada dirinya sendiri.
  5. Kepentingan yang ada disini adalah kepentingan untuk mempertahankan dan memperluas intersubjektivitas dalam komunikasi yang dijamin dan diawasi oleh pengakuan umum tentang kewajiban yang harus ditaati.

Dengan demikian, ilmu humaniora akan menghasilkan  interpretasi-interpretasi yang menungkinkan adanya suatu orientasi bagi tindakan manusia dalam kehidupan bersama. Jika dikaitkan dengan perspektif agama, maka ilmu humaniora lebih menekankan pada sikap dan perilaku seseorang dalam memandang dan memperlakukan orang lain. Sikap ramah, sopan, dan saling menghormati melahirkan tindakan yang penuh persahabatan dan persaudaraan. Dengan cara ini seseorang dapat merasakan diperlakukan secara manusiawi. 

 

C.     Relevansi Humaniora dengan Perkembangan IPTEK

Seorang pakar teknologi Indonesia, M. T. Zen (2000, 97) dalam sebuah artikelnya Teknologi Nano dan Revolusi Industri Abad Ke-21 mengatakan bahwa pada awal abad ke-21 ini dunia dikuasai 3 (tiga) bidang teknologi, yaitu teknologi informasi, bio-teknologi, dan teknologi nano. Teknologi informasi terkait dengan kemajuan di bidang pertelevisian, internet, handphone yang memudahkan penyampaian dan penerimaan informasi dalam akselerasi yang luar biasa. Bioteknologi terkait dengan pemanfaatan di bidang peternakan, pertanian, kedokteran dan teknologi kloning yang memanipulasi atau rekayasa genetika. Teknologi Nano ialah memanipulasi struktur molekul dengan memanipulasi atom-atom menjadi molekul-molekul. Teknologi nano menjadikan ilmuwan mampu mengatur kedudukan atom-atom yang membentuk molekul-molekul. Dalam perkembangan yang mutakhir masih ada satu bidang yang sedang diupayakan oleh negara-negara maju (terutama Amerika), yakni Teknologi Terraformasi, yakni penjajagan manusia untuk membuat struktur kehidupan baru di ruang angkasa (misalnya di Planet Mars). Adakah kemungkinan manusia hijrah ke planet tersebut?

Di manakah relevansi bidang humaniora terhadap perkembangan teknologi-teknologi tersebut? Dalam teknologi informasi, peran bahasa sebagai sarana komunikasi merupakan hal yang tak dapat diragukan. Sebab sulit dibayangkan sebuah informasi yang disampaikan tanpa melalui bahasa. Dalam Bio-teknologi analisis kritis melalui logika dan etika sangat diperlukan sebagai bahan pertimbangan: seberapa pentingkah pengembangan bio-teknologi itu bagi nilai-nilai kemanusiaan? Cukup masuk akalkah melakukan klonasi (melalui rekayasa cloning) terhadap makhluk manusia melalui proses aseksual yang pada gilirannya akan melahirkan bentuk penyeragaman manusia? Apa gerangan dampak yang ditimbulkan oleh penyeragaman tersebut bagi eksistensi manusia? Dalam teknologi Nano, M.T. Zen sendiri tidak mampu menjawab pertanyaan yang muncul yakni ke mana teknologi nano akan membawa manusia. Apakah manusia akan sampai ke titik kehidupan buatan (artificial life)? Dalam teknologi terraformasi, seandainya unsur-unsur kehidupan dapat dibentuk di planet Mars dalam jutaan tahun yang akan datang, sudah siapkah manusia untuk menghuni wilayah baru itu dengan meninggalkan planet bumi sebagai wilayah usang yang menyebalkan? Melalaikan dimensi kemanusiaan (humanior) dalam setiap derap langkah kemajuan IPTEK hanya akan menimbulkan “rasa sesal kemudian tiada guna.”

 

D.     Dimensi Filosofis Dalam Humaniora

Ada empat pilar filsafat yang dapat dijadikan pertimbangan dalam humaniora, yaitu metafisika, epistemologi, logika, dan etika. Metafisika merupakan cabang filsafat yang berupaya memformulasi kategori-kategori yang paling umum dan luas tentang realitas. Metafisika umum sering disebut ontologi, metafisika khusus meliputi filsafat manusia (antropologi), filsafat kealaman (kosmologi), dan filsafat ketuhanan (theologi). Filsafat manusia berperan penting dalam humaniora untuk mengembangkan dimensi kemanusiaan dalam konteks sejauh mana relasi antara jiwa (mind) dan raga (body) dalam membentuk kepribadian manusia yang utuh. Spiritualitas dan materialitas merupakan dua komponen yang menyatu dalam diri manusia, sehingga memisahkan salah satu dari keduanya hanya akan menghilangkan kepribadian manusia yang sejati.

Bidang epistemologi merupakan cabang filsafat yang membicarakan tentang terbentuknya struktur pengetahuan dalam diri manusia. Pengetahuan manusia dapat dikelompokkan ke dalam empat kategori, yaitu 1) pengetahuan biasa, 2) pengetahuan ilmiah, 3) pengetahuan filosofis, dan 4) pengetahuan agama. Keempatnya memiliki karakteristik tersendiri dan memainkan peranan penting bagi pembentukan dimensi kemanusiaan. Pengetahuan biasa akan membentuk akal sehat (common sense) manusia sebatas pengalaman sehari-hari yang ia hadapi dan jalani. Pengetahuan ilmiah akan membentuk rasionalitas yang memenuhi kaidah-kaidah standar (metodologis) dalam suatu komunitas ilmiah. Pengetahuan filosofis akan membentuk sikap reflektif terhadap diri dan situasi yang mengitari diri manusia. Sedangkan pengetahuan agama akan membentuk kepribadian yang memiliki visi dunia dan akhirat secara seimbang (equilibrium).

Bidang logika merupakan studi penyimpulan (inference) yang mengajarkan manusia tentang cara menalar (reasoning) yang baik. Logika adalah tools of thinking, sarana untuk berfikir secara jernih sehingga diperoleh kesimpulan yang valid. Dalam logika ditekankan bahwa sah atau tidaknya; benar atau salah suatu argumen sangat tergantung dari bentuknya (formal) bukan isinya (material). Logika dapat mendukung bahasa sebagai sarana penyampaian ide-ide manusia agar dapat dipahami dan dikomunikasikan secara lebih baik.

Bidang etika merupakan studi tentang tingkah laku manusia yang dapat dikategorikan baik atau buruk. Dalam etika persoalan yang paling mendasar terkait dengan dilema etis. Manusia selalu dihadapkan pada pilihan antara yang baik dengan yang lebih baik, yang buruk dengan yang kurang buruk. Segala putusan tindakan manusia harus dipertimbangkan secara sungguh-sungguh agar tidak bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Bertens (1992: 42) dalam artikelnya Mengajar Filsafat: Apa Gunanya? mnyebutkan 5 (lima) alasan pentingnya mempelajari filsafat.

  1. Membantu dan memperluas pandangan calon sarjana untuk melihat di luar tembok ilmu pengetahuan yang ditekuninya;
  2. Membantu mahasiswa agar berfikir kritis dan menganalisis masalah dengan tajam dan mendalam;
  3. Mempermudah calon sarjana untuk mengungkapkan pemikirannya dengan jelas dan tepat;
  4. Mengerti lebih mendalam dunia di mana dia hidup sehingga mampu beradaptasi;
  5. Menanamkan kesadaran etis dalam jiwa calon sarjana melalui studi etika.

 

E.     Kecenderungan Humaniora Masa Kini

Perkembangan ilmu-ilmu humaniora dalam tiga dasawarsa terakhir di Indonesia belum menampakkan hasil yang optimal. Hal ini terlihat dari beberapa aspek sebagai berikut.

  1. Masih kuatnya pengaruh positivistik dalam dunia akademis, sehingga ukuran ilmiah selalu diperlakukan seragam (uniformitas), yakni eksak, terukur, dan signifikan. Ilmu-ilmu sosial dan humaniora harus mau mengalah terhadap kriteria ilmiah kalau tidak ingin dianggap sebagai aktivitas nir-ilmiah atau pseudo-ilmiah. Aktivitas jiwa seperti: emosi, perasaan, pikiran, kesadaran harus dapat diukur (kuantitatif) agar memenuhi persyaratan ilmiah sebagaimana yang dicanangkan kaum positivist. Dalam dunia filsafat, munculnya positivisme logis yang dipandang sebagai tumbuhnya kesadaran baru tentang pentingnya dimensi metodologis. A.J. Ayer (1952: 4) dalam karyanya Laguage, Truth, and Logic menegaskan bahwa pernyataan filosofis baru dapat dikatakan ilmiah manakala memenuhi kriteria proposisi empirik dan proposisi analitik. Prinsip verifikasi merupakan ukuran yang dapat membuktikan apakah sebuah pernyataan (statement) atau temuan (finding) itu bermakna (meaningfull) ataukah nir-makna (meaningless);
  2. Penomorduaan terhadap ilmu-ilmu humaniora dalam berbagai aktivitas ilmiah bahkan dalam bentuk pengakuan ataupun opini masyarakat. Orang tua lebih bangga anaknya kuliah di fakultas-fakultas eksakta daripada fakultas-fakultas humaniora. Dalam kenyataannya lulusan fakultas-fakultas eksakta lebih mudah mencari pekerjaan karena kualifikasi yang diinginkan oleh pasar mengarah pada kriteria terukur seperti itu;
  3. Gagap teknologi (gaptek) dipandang lebih memalukan daripada gagap budaya (gaya) dan gagap kemanusiaan (gamas). Individu yang tidak mengikuti perkembangan teknologi mutakhir  dipandang ketinggalan zaman. Teknologi telah melahirkan peradaban yang maju dalam ukuran lahiriah. Para Filosuf Eksistensialis umumnya membedakan istilah dengan civilization. Culture lebih mengacu pada aspek lahiriah. Gagap budaya (gaya) terlihat dalam kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan alam pemikiran atau gagasan yang berkembang dalam kehidupan modern. Gagap kemanusiaan (gamas) terlihat pada sikap meremehkan dan tidak peduli dengan nasib manusia lainnya. Khusus yang terakhir ini yang sedang melanda Indonesia  dalam bentuk munculnya berbagai kerusuhan dan tawuran yang banyak menelan korban manusia, masalah pengungsi dan lain sebagainya. Namun kurangnya penanganan yang menyeluruh terhadap problem kemanusiaan sehingga menjadikan gagap kemanusiaan (gamas) pada sebagian besar masyarakat Indonesia. Sedangkan civilization lebih bersifat batiniah yang merefleksikan pemikiran, wawasan dan cara pandang (world view) terhadap perkembangan dan kemajuan.
  4. Adanya rasa rendah diri yang menghinggapi kalangan ilmuan di bidang humaniora itu sendiri, sehingga lemahnya semangat kompetitif dalam pengembangan ilmu. Kemajuan pesat di bidang teknologi direspons lamban oleh ilmu-ilmu humaniora, sehingga dampak negatif teknologi sudah merambah kemana-mana tanpa dapat dicegah, sehingga pada akhirnya merugikan umat manusia. Sikap kritis ilmu humaniora belum mampu memprediksi secara lebih dini kemungkinan yang akan terjadi akibat kemajuan IPTEK.

 

F.      Faktor-Faktor Kelemahan Pengembangan Ilmu Humaniora

Kelemahan pengembangan ilmu humaniora di Indonesia cenderung disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut.

  1. Sumber daya manusia yang menggeluti bidang humaniora kurang serius dan menjadikan bidang humaniora sebagai aktivitas sambilan yang tidak dihayati dan direfleksikan secara total;
  2. Rendahnya dukungan pemerintah terhadap riset atau penelitian ilmu humaniora berupa alokasi dana yang tidak seimbang dibanding dengan ilmu eksakta, terlebih bidang teknologi;
  3. Lemahnya aspek metodologi yang dikuasai pada pakar ilmu humaniora sehingga menjadikan hasil penelitian kurang mengena pada sasaran. Alhasil para pakar humaniora kurang mampu melakukan prediksi terhadap fenomena yang berkembang di masyarakat serta kosekuensinya;
  4. Tidak ditempatkannya ilmu humaniora sebagai mitra dialog ataupun mitra riset dengan disiplin ilmu eksakta atau teknologi, sehingga pemahaman atau kasus yang menyangkut manusia cenderung bersifat parsialistik dan miskonsepsi.

Itulah sekilas deskripsi pasang-surut perkembangan ilmu humaniora dalam dunia pendidikan di Indonesia. Ada hal yang penting dicatat bahwa ketika manusia sudah meraih kemajuan teknologi maka aspek kemanusiaan akan terlupakan; bahkan ketika sarana komunikasi semakin maju, maka keakraban antar sesama manusia semakin tereduksi; bahkan kandas. Begitulah dampak negatif (tanpa menafikan dimensi positif) dari kemajuan IPTEK yang tidak terkendali. Dalam kaitan ini, agama (khususnya Islam) dengan seperangkat ajaran-ajarannya, tampil untuk mengingatkan dan menyelamatkan manusia dari kehancuran nilai-nilai kemanusiaan. Sebab itulah, IPTEK harus dibarengi dengan IMTAQ (Iman dan Taqwa) sehingga kehidupan menjadi seimbang dan harmonis.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar