Jumat, 27 Maret 2026

CARA MELESTARIKAN AMAL SHALIH

 

CARA MELESTARIKAN AMAL SHALIH

 

1. Meluruskan dan Menjaga Niat (Ikhlas)

 

Amal tidak akan bertahan tanpa niat yang benar.

 

Al-Qur’an:

“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan ikhlas…” (QS. Al-Bayyinah: 5)

 

Hadits:

Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya…” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Intinya:

Perbarui niat secara rutin agar amal tetap hidup dan tidak gugur.

 

2. Istiqamah (Konsisten dalam Amal)

 

Kunci utama melestarikan amal adalah konsistensi.

 

Al-Qur’an:

“Maka tetaplah engkau pada jalan yang benar (istiqamah)…” (QS. Hud: 112)

 

Hadits:

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus walaupun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

 

Intinya:

Lebih baik sedikit tapi rutin daripada banyak tapi terputus.

 

3. Menjaga Amal dari Dosa Perusak

 

Dosa dapat menghapus pahala amal.

 

Al-Qur’an:

“Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya…” (QS. Al-Baqarah: 264)

 

Hadits:

“Sungguh aku mengetahui suatu kaum yang datang dengan pahala sebesar gunung, namun Allah menjadikannya debu…” (HR. Ibnu Majah)

 

Intinya:

Jaga lisan, hati, dan perbuatan agar tidak merusak amal.

 

4. Bergaul dengan Orang Shalih

 

Lingkungan sangat mempengaruhi keberlangsungan amal.

 

Al-Qur’an:

“Dan bersabarlah bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya…” (QS. Al-Kahfi: 28)

 

Hadits:

“Seseorang itu tergantung agama temannya…” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

 

Intinya:

Lingkungan baik akan menjaga semangat ibadah.

 

5. Memperbanyak Doa Memohon Keistiqamahan

 

Hati manusia mudah berubah, perlu pertolongan Allah.

 

Al-Qur’an:

“Ya Tuhan kami, jangan Engkau palingkan hati kami…” (QS. Ali Imran: 8)

 

Hadits:

Rasulullah sering berdoa:

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi)

 

Intinya:

Keistiqamahan adalah karunia, bukan semata usaha.

 

6. Mengingat Kematian dan Akhirat

 

Kesadaran akan kematian menjaga semangat amal.

 

Al-Qur’an:

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati…” (QS. Ali Imran: 185)

 

Hadits:

“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan (kematian).” (HR. Tirmidzi)

 

Intinya:

Orang yang ingat mati akan menjaga amalnya.

 

7. Menjaga Amal Sunnah sebagai Penopang

 

Amal sunnah menjaga dan menyempurnakan amal wajib.

 

Hadits Qudsi:

“Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunnah…” (HR. Bukhari)

 

Intinya:

Amal sunnah membantu menjaga hubungan dengan Allah.

 

8. Muhasabah (Evaluasi Diri) Secara Rutin

 

Evaluasi diri penting untuk menjaga kualitas amal.

 

Al-Qur’an:

“Wahai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk esok hari…” (QS. Al-Hasyr: 18)

 

Intinya:

Dengan muhasabah, kita tahu mana yang harus diperbaiki.

 

 

Penutup

Melestarikan amal shalih bukan hanya tentang banyaknya amal, tetapi bagaimana kita menjaganya hingga akhir hayat. Semoga Allah menjadikan kita hamba yang istiqamah dalam kebaikan.

MASA DEPAN SAINS ISLAM

 

Materi 02: Masa Depan Sains Islam

 

MASA DEPAN SAINS ISLAM DALAM MENJAWAB

TANTANGAN GLOBAL

DR. H. Hasan Basri, MA

 

Masa depan sains Islam dalam menjawab tantangan global terletak pada kemampuannya untuk melakukan integrasi yang mendalam antara ilmu pengetahuan modern dengan nilai-nilai dan etika Islam. Hal ini bukan sekadar menggabungkan dua disiplin, tetapi menciptakan paradigma keilmuan baru yang dapat memberikan solusi berkeadilan dan berkelanjutan bagi krisis global kontemporer.

 

A.Tantangan Utama

Beberapa tantangan global yang menuntut peran sains Islam meliputi:

Krisis Ekologis dan Perubahan Iklim: Ilmu murni seringkali terpisah dari refleksi etis, padahal krisis lingkungan menuntut tanggung jawab moral (ekoteologi) yang mendalam terhadap alam sebagai ciptaan Allah.

Revolusi Teknologi (AI dan Disrupsi Digital): Perkembangan pesat Kecerdasan Buatan (AI) dan teknologi mengubah cara berpikir dan belajar. Tantangannya adalah menanamkan nilai etika Islam dalam sains dan teknologi agar perkembangan tersebut tidak melahirkan sekularisme keilmuan yang mengabaikan dimensi ketuhanan dan kemanusiaan.

Kesenjangan Sosial dan Ketidakadilan Global: Isu-isu seperti kemiskinan, ketidakadilan gender, dan konflik memerlukan kontribusi sains Islam dalam mengembangkan solusi yang berlandaskan keadilan sosial dan kesejahteraan universal (maslahah).

Dikotomi Ilmu: Adanya pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum (sains) yang masih menjadi masalah internal di banyak institusi pendidikan Islam.

 

B. Prospek dan Arah Masa Depan Sains Islam

Masa depan sains Islam yang cerah harus fokus pada inisiatif strategis berikut:

1. Integrasi Ilmu dan Etika (Islamization of Knowledge)

Penting untuk menyelesaikan persoalan dikotomi ilmu dengan mengintegrasikan sains modern dengan nilai-nilai Islam. Ini berarti:

Menjadikan agama sebagai landasan dalam pengembangan ilmu pengetahuan, di mana penemuan ilmiah dipandang sebagai cara untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Menciptakan Kepemimpinan Moral dalam Sains: Kampus dan ilmuwan Muslim harus menjadi penggerak yang mampu menanamkan nilai etika dalam riset dan teknologi, alih-alih hanya meniru sistem sekuler Barat.

 

2. Kontribusi Solusi Berkelanjutan

Sains Islam harus secara aktif menawarkan solusi atas masalah-masalah global, terutama dalam:

Ekoteologi dan Fiqh Lingkungan: Mengembangkan pemikiran dan praktik yang berlandaskan pada pandangan Islam tentang alam, menuntut inovasi multidisipliner untuk masa depan yang lebih adil dan berkelanjutan.

Tata Kelola Teknologi Etis: Mengembangkan kerangka kerja etika Islam untuk Kecerdasan Buatan dan teknologi lainnya, memastikan penggunaannya sejalan dengan moralitas dan kemanusiaan.

Kesejahteraan Umat: Mengarahkan penelitian ilmiah untuk mengatasi masalah mendasar seperti rendahnya pendapatan, kesehatan yang tidak memadai, dan pengangguran di dunia Muslim.

 

3. Reformasi Pendidikan dan Riset

Untuk mewujudkan visi ini, perlu dilakukan reformasi kelembagaan:

Memperkuat SDM Unggul: Menyiapkan generasi Muslim yang memiliki daya saing global dalam STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) namun tetap memelihara ciri keislaman.

Kolaborasi Global: Mendorong kerja sama antar akademisi dan peneliti Muslim dunia untuk mencari solusi atas krisis global, sebagaimana dicontohkan dalam konferensi ilmiah internasional.

Mengembangkan Budaya Inovasi: Menciptakan lingkungan di mana inovasi ilmiah dapat diterjemahkan menjadi produk dan layanan nyata yang meningkatkan kualitas hidup dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

 

C.    Kesimpulan

Secara ringkas, masa depan sains Islam bukan terletak pada penolakan terhadap sains modern, melainkan pada kemampuan untuk merekonstruksi ilmu pengetahuan agar berakar pada tradisi dan nilai-nilai Islam, menjadikannya kekuatan untuk kemajuan global yang bermoral dan berkeadilan. HB

 

SILABUS MATA KULIAH KAJIAN SAINS ISLAM

 

SILABUS MATA KULIAH KAJIAN SAINS ISLAM (S1)

 

A. Identitas Mata Kuliah

Nama Mata Kuliah : Kajian Sains Islam

Kode Mata Kuliah : 250UIN009

SKS : 4 SKS

Dosen Pengampu : DR. H. Hasan Basri, MA

 

B. Deskripsi Mata Kuliah

Mata kuliah ini membahas keterkaitan Islam dengan perkembangan sains, baik dalam perspektif historis maupun kontemporer. Mahasiswa akan mempelajari pandangan Islam tentang ilmu, warisan peradaban sains Islam klasik, kontribusi ilmuwan Muslim, serta tantangan integrasi sains dan agama di era modern. Kajian diarahkan agar mahasiswa memahami epistemologi Islam dalam sains, mampu menganalisis isu-isu mutakhir (bioteknologi, AI, lingkungan, kesehatan, dll.) dengan perspektif Islam, serta berkontribusi dalam pengembangan ilmu yang berlandaskan nilai-nilai etika Islam.

 

C. Capaian Pembelajaran (CP)

 

1. Sikap

Menunjukkan sikap ilmiah, kritis, terbuka, dan beretika dalam mengkaji sains dari perspektif Islam.

 

2. Pengetahuan

a. Menguasai dasar epistemologi Islam tentang ilmu pengetahuan.

b. Memahami sejarah perkembangan sains Islam dan tokoh-tokohnya.

c. Mengetahui relevansi nilai-nilai Islam terhadap perkembangan sains modern.

 

3. Keterampilan Umum

a. Mampu mengaitkan isu-isu ilmiah dengan perspektif Islam.

b. Mampu menyusun analisis kritis tentang relasi sains dan Islam.

 

4. Keterampilan Khusus

a. Mampu menjelaskan kontribusi Islam terhadap sains.

b. Mampu mengaplikasikan prinsip etika Islam dalam riset ilmiah.

 

D. Pokok Bahasan per Pertemuan (16 Minggu)

1. Pengantar Kajian Sains Islam: definisi, ruang lingkup, urgensi.

2. Konsep ilmu dalam Al-Qur’an dan Hadis.

3. Epistemologi Islam: sumber, metode, dan klasifikasi ilmu.

4. Sejarah sains dalam peradaban Islam klasik.

5. Tokoh-tokoh ilmuwan Muslim (Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, Al-Farabi, dll.).

6. Transfer ilmu dari Islam ke Barat.

7. Kemunduran sains dalam dunia Islam: faktor dan analisis.

8. UJIAN TENGAH  SEMESTER (UTS)

8. Gerakan kebangkitan ilmu dan sains modern di dunia Islam.

9. Islam dan sains modern: titik temu dan perbedaan.

10. Etika riset dan sains dalam perspektif Islam.

11. Isu bioteknologi dan bioetika dalam Islam.

12. Isu lingkungan dan teknologi ramah lingkungan dalam perspektif Islam.

13. Sains dan teknologi digital (AI, big data, robotik) dalam perspektif Islam.

14. Islam dan kesehatan: fiqh medis dan isu bioetik kontemporer.

15. Integrasi keilmuan: paradigma Islamisasi ilmu pengetahuan vs integrasi interkoneksi.

16. UJIAN AKHIR SEMESTER (UAS)

 

E. Strategi Pembelajaran

Ceramah interaktif

Diskusi kelompok

Studi kasus

Presentasi mahasiswa

Kajian literatur dan riset kecil

 

F. Metode Penilaian

Kehadiran & partisipasi: 10%

Tugas individu & kelompok: 20%

Presentasi: 20%

Ujian Tengah Semester (UTS): 25%

Ujian Akhir Semester (UAS): 25%

 

 

 

G. Daftar Pustaka

 

1.  Al-Qur’an al-Karim.

2. Nasr, Seyyed Hossein. (2001). Science and Civilization in Islam. Harvard University Press.

3. Bakar, Osman. (2008). Classification of Knowledge in Islam. Kuala Lumpur: ISTAC.

4. Hoodbhoy, Pervez. (1991). Islam and Science: Religious Orthodoxy and the Battle for Rationality. London: Zed Books.

5. Sardar, Ziauddin. (2016). Islam, Science, and Cultural Renaissance. Routledge.

6. Sabra, A.I. (1987). Theories of Light: From Descartes to Newton. Cambridge: CUP.

7. Amin Abdullah, M. (2014). Islam as a Science of Integration and Interconnection. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga Press.

SIGNIFIKANSI SILATURRAHMI DI ERA MODERN

 

SIGNIFIKANSI SILATURRAHMI DI ERA MODERN

DR. H. Hasan Basri, MA

 

"Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan peliharalah hubungan kekeluargaan (silaturrahmi) Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu." (QS. An-Nisa' 4: Ayat 1)

Silaturahmi merupakan salah satu ajaran penting dalam Islam yang tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga memiliki dampak sosial yang sangat besar. Dalam kehidupan modern yang serba cepat dan cenderung individualistik, menjaga hubungan kekeluargaan dan persaudaraan menjadi semakin penting. Artikel ini akan membahas urgensi silaturahmi serta landasannya dalam Al-Qur’an dan hadis.

 

A. Makna Silaturahmi

Secara bahasa, silaturahmi berasal dari kata shilah (menyambung) dan rahim (kekerabatan). Artinya, silaturahmi adalah upaya untuk menjaga, mempererat, dan menyambung hubungan kekeluargaan maupun persaudaraan, baik melalui kunjungan, komunikasi, maupun bantuan sosial.

 

B. Urgensi Silaturahmi dalam Kehidupan

 

1. Mempererat Persatuan dan Menghindari Perpecahan

Silaturahmi mampu mengikis konflik, kesalahpahaman, dan permusuhan. Hubungan yang terjaga dengan baik akan menciptakan masyarakat yang harmonis dan saling mendukung.

 

2. Mendatangkan Ketenangan Batin

Berinteraksi dengan keluarga dan kerabat memberikan rasa nyaman dan dukungan emosional. Hal ini sangat penting di tengah tekanan hidup yang semakin kompleks.

 

3. Memperluas Rezeki dan Umur

Silaturahmi tidak hanya berdampak sosial, tetapi juga diyakini membawa keberkahan dalam kehidupan, termasuk dalam hal rezeki dan umur.

 

4. Menguatkan Nilai Kepedulian Sosial

Dengan menjaga hubungan, seseorang akan lebih peka terhadap kondisi orang lain dan terdorong untuk saling membantu.

 

Allah SWT berfirman:

“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan.” (QS. An-Nisa: 1)

Ayat ini menegaskan bahwa menjaga hubungan kekeluargaan (silaturahmi) merupakan perintah langsung dari Allah SWT, sejajar dengan perintah untuk bertakwa kepada-Nya.

Selain itu:

“Maka apakah sekiranya kamu berkuasa, kamu akan membuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?” (QS. Muhammad: 22)

Ayat ini menunjukkan bahwa memutus silaturahmi adalah perbuatan tercela yang dapat merusak tatanan kehidupan.

 

Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini secara jelas menyebutkan manfaat langsung dari silaturahmi, yaitu keberkahan dalam rezeki dan umur.

 

Dalam hadis lain ditegaskan:

 

“Tidak akan masuk surga orang yang memutus silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ini menunjukkan betapa seriusnya larangan memutus hubungan kekeluargaan dalam Islam.

 

C. Tantangan di Era Modern

Di era digital, interaksi langsung sering tergantikan oleh komunikasi virtual. Kesibukan, jarak, dan perbedaan pandangan juga menjadi tantangan dalam menjaga silaturahmi. Namun, teknologi sebenarnya bisa dimanfaatkan sebagai sarana untuk tetap terhubung, seperti melalui pesan, panggilan video, atau media sosial.

 

D. Penutup

Silaturahmi bukan sekadar tradisi, tetapi merupakan perintah agama yang memiliki dampak luas, baik secara spiritual maupun sosial. Dengan menjaga silaturahmi, kita tidak hanya mendekatkan diri kepada Allah SWT, tetapi juga menciptakan kehidupan yang lebih harmonis dan penuh keberkahan. Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk terus berupaya menjaga dan mempererat hubungan dengan keluarga dan sesama.

MANIFESTASI IMAN

 

MANIFESTASI IMAN: MENGHIASI HATI DENGAN AMAL SHALIH

 

Kebanyakan orang memberi perhatian besar terhadap amalan-amalan dzohir. Kita dapati sebagian orang benar-benar berusaha untuk bisa sholat sebagaimana sholatnya Nabi saw., maka seluruh gerakan-gerakan sholat Nabi yang terdapat dalam hadits-hadits yang shahih berusaha untuk diterapkannya. Sungguh ini merupakan kenikmatan dan kebahagian bagi orang yang seperti ini. Bukankah Nabi saw.  pernah bersabda : “Sholatlah kalian sebagaimana aku sholat”. Demikian juga perihalnya dengan haji, kebanyakan orang benar-benar berusaha untuk bisa berhaji sebagaimana haji Nabi saw., sebagai bentuk pengamalan dari sabda Nabi saw.: “Hendaknya kalian mengambil manasik haji kalian dariku”

Akan tetapi…..Ternyata di antara sekian banyak orang-orang yang memberi perhatian besar terhadap amalan-amalan yang dzohir itu ada yang ternyata lalai dari amalan hati… Sebagai bukti betapa banyak orang yang bisa jadi gerakan sholatnya seratus persen sama seperti gerakan sholat Nabi akan tetapi apakah mereka juga memberi perhatian besar terhadap kekhusyu’an dalam sholat mereka ? Bukankah Nabi bersabda:

 

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْصَرفُ؛ وَمَا كُتِبَ إِلا عُشُرُ صلاتِهِ، تُسُعُها، ثُمُنُها، سُبُعُها، سُدُسُها، خُمُسُها، رُبُعُها، ثلُثُها، نِصْفها

 

“Sesungguhnya seseorang selesai dari sholatnya dan tidaklah dicatat baginya dari pahala sholatnya kecuali sepersepuluhnya, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya, setengahnya” (HR bu Dawud no 761 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Al-Munaawi rahimahullah berkata

 

أنَّ ذَلِكَ يَخْتَلِفُ بِاخْتِلاَفِ الأَشْخَاص بِحَسَبِ الْخُشُوْعِ وَالتَّدَبُّرِ وَنَحْوِهِ مِمَّا يَقْتَضِي الْكَمَالَ

“Perbedaan pahala sholat tersebut sesuai dengan perbedaan orang-orang yang sholat berdasarkan kekhusyu’an dan tadabbur (bacaan sholat) dan yang semisalnya dari perkara-perkara yang mendatangkan kesempurnaan sholat” (Faidhul Qodiir 2/422)

 

Bukankah khusyuk merupakan ruhnya sholat ?. Bukankah Allah tidak memuji semua orang yang sholat, akan tetapi hanya memuji orang beriman yang khusyuk dalam sholatnya? Allah berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (١)الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُونَ )

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sholatnya (QS Al-Mukminun : 1-2)

Hal ini dengan jelas menunjukan akan pentingnya amalan hati. Oleh karananya Ibnu Taimiyyah rahimahullah pernah berkata;

 

وَفِي الأَثَرِ أَنَّ الرَّجُلَيْنِ لَيَكُوْنُ مَقَامُهُمَا فِي الصَّفِّ وَاحِدًا وَبَيْنَ صَلاَتَيْهِمَا كَمَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

“Dalam sebuah atsar bahwasanya sungguh dua orang berada di satu saf sholat namun perbedaan antara nilai sholat keduanya sebagaimana antara timur dan barat” (Minhaajus Sunnah 6/137)

Sungguh merupakan perkara yang menyedihkan… banyak di antara kita yang memiliki ilmu yang tinggi, melakukan amalan-amalan dzohir yang luar biasa… akan tetapi dalam masalah amalan hati maka sangatlah lemah. Ada diantara mereka yang sangat mudah marah… sangat tidak sabar… kurang tawakkal…, yang hal ini menunjukkan lemahnya iman terhadap taqdiir. Tatkala datang perkara yang genting maka terlihat dia seperti anak kecil yang tidak sabar dan mudah marah… menunjukan lemahnya amalan hatinya. Meskipun ilmunya tinggi…, meskipun amalannya banyak.. akan tetapi ia adalah orang awam dalam masalah hati. Bahkan bisa jadi banyak orang awam yang jauh lebih baik darinya dalam amalan hati.

Renungkanlah hadits berikut ini sebagaimana dituturkan oleh Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu:

“Kami sedang duduk bersama Rasulullah saw., maka beliapun berkata : “Akan muncul kepada kalian sekarang seorang penduduk surga”. Maka muncullah seseorang dari kaum Anshor, jenggotnya masih basah terkena air wudhu, sambil menggantungkan kedua sendalnya di tangan kirinya. Tatkala keesokan hari Nabi saw.  mengucapkan perkataan yang sama, dan muncullah orang itu lagi dengan kondisi yang sama seperti kemarin. Tatkala keesokan harinya lagi (hari yang ketiga) Nabi saw.  juga mengucapkan perkataan yang sama dan muncul juga orang tersebut dengan kondisi yang sama pula.

Tatkala Nabi berdiri (pergi) maka Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Aash mengikuti orang tersebut lalu berkata kepadanya : “Aku bermasalah dengan ayahku dan aku bersumpah untuk tidak masuk ke rumahnya selama tiga hari. Jika menurutmu aku boleh menginap di rumahmu selama tiga hari?. Maka orang tersebut berkata, “Silahkan”.

“Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Aaash bercerita bahwasanya ia pun menginap bersama orang tersebut selama tiga malam. Namun ia sama sekali tidak melihat orang tersebut mengerjakan sholat malam, hanya saja jika ia terjaga di malam hari dan berbolak-balik di tempat tidur maka ia pun berdzikir kepada Allah dan bertakbir, hingga akhirnya ia bangun untuk sholat subuh.”

Abdullah bertutur : “Hanya saja aku tidak pernah mendengarnya berucap kecuali kebaikan. Dan tatkala berlalu tiga hari –dan hampir saja aku meremehkan amalannya- maka akupun berkata kepadanya : Wahai hamba Allah (fulan), sesungguhnya tidak ada permasalahan antara aku dan ayahku, apalagi boikot. Akan tetapi aku mendengar Rasulullah saw. berkata sebanyak tiga kali  : Akan muncul sekarang kepada kalian seorang penduduk surga”, lantas engkaulah yang muncul, maka akupun ingin menginap bersamamu untuk melihat apa sih amalanmu untuk aku contohi, namun aku tidak melihatmu banyak beramal. Maka apakah yang telah menyampaikan engkau sebagaimana sabda Nabi saw.?”. Orang itu berkata : “Tidak ada kecuali amalanku yang kau lihat”.

Abdullah bertutur : “Tatkala aku berpaling pergi maka ia pun memanggilku dan berkata : Amalanku hanyalah yang engkau lihat, hanya saja aku tidak menemukan perasaan dengki (jengkel) dalam hatiku kepada seorang muslim pun dan aku tidak pernah hasad  kepada seorang pun atas kebaikan yang Allah berikan kepadanya”. Abdullah berkata, “Inilah amalan yang mengantarkan engkau (menjadi penduduk surga), dan inilah yang tidak kami mampui” (HR Ahmad 20/124 no 12697, dengan sanad yang shahih)

Perhatikanlah hadits yang sangat agung ini, betapa tinggi nilai amalan hati di sisi Allah. Sahabat tersebut sampai dinyatakan sebagai penduduk surga oleh Nabi saw. sebanyak tiga kali selama tiga hari berturut-turut. Padahal amalan hati yang ia lakukan –yaitu tidak dengki dan hasad- bukanlah amalan hati yang paling mulia, karena masih banyak amalan hati yang lebih mulia lagi seperti ikhlas, tawakkal, sabar, berhusnudzon kepada Allah, dan lain-lain. Namun demikian telah menjadikan sahabat ini menjadi penduduk surga. Padahal amalan dzohirnya sedikit, sahabat ini tidak rajin berpuasa sunnah dan tidak rajin sholat malam, akan tetapi yang menjadikannya mulia… adalah amalan hatinya.

Hadits ini juga menunjukan bahwa amalan hati jauh lebih berat daripada amalan dzohir. Semua orang bisa saja puasa, semua orang bisa saja bangun sholat malam, semua orang bisa saja sholat sesuai sunnah Nabi, semua orang bisa saja berpakaian sebagaimana yang disunnahkan oleh Nabi… akan tetapi ..:

 

Betapa banyak di antara kita yang tahu akan bahayanya riyaa namun masih saja terlena dengan kenikmatan semu riyaa’, bangga tatkala dipuji hingga kepala membesar hampir sebesar gunung…

Betapa banyak di antara kita yang tahu akan bahaya ‘ujub, akan tetapi tetap saja bangga dengan amalan dan karya sendiri… Betapa banyak di antara kita sudah menghapalkan sabda Nabi “Janganlah marah…”, akan tetapi hati ini susah untuk bersabar dan menerima taqdir Allah yang memilukan…

Betapa banyak di antara kita yang sudah mengilmui bahwasanya semua taqdir dan keputusan Allah adalah yang terbaik akan tetapi tetap saja bersuudzon kepada Allah…

Betapa banyak di antara kita yang sudah mengilmui dengan ilmu yang tinggi bahwasanya Allah-lah yang mengatur dan memutuskan segala sesuatu, akan tetapi tetap saja tawakkalnya kurang kepada Allah..

Ya Allah. Janganlah Engkau jadikan dalam hati kita ada perasaan dengki terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Tuhan kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.🕋HB

Senin, 16 Maret 2026

SHALAT: MI‘RAJ ORANG BERIMAN

 

SHALAT: MI‘RAJ ORANG BERIMAN

DR. H. Hasan Basri, MA

 

Shalat disebut sebagai mi‘raj (perjalanan spiritual) orang beriman karena melalui shalat, seorang hamba berkomunikasi dan mendekatkan diri secara langsung kepada Allah SWT.

 

1. Sarana Kedekatan dengan Allah

Dalam shalat, seorang mukmin berdiri, rukuk, dan sujud dengan penuh khusyuk sebagai bentuk kepasrahan total kepada Allah. Saat sujud, hamba berada pada posisi paling dekat dengan Rabb-nya.

 

2. Perjalanan Spiritual Jiwa

Sebagaimana Nabi Muhammad melakukan Isra’ dan Mi‘raj, shalat menjadi perjalanan ruhani yang mengangkat jiwa dari urusan dunia menuju ketenangan dan kesadaran akan kehadiran Allah.

 

3. Media Dialog dengan Allah

Shalat adalah bentuk dialog antara hamba dan Tuhannya. Bacaan shalat, terutama Al-Fatihah, merupakan komunikasi langsung yang penuh makna dan pengharapan.

 

4. Penjaga Akhlak dan Keimanan

Shalat yang benar dan khusyuk mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar serta memperkuat keimanan dalam kehidupan sehari-hari.

 

5. Sumber Ketenangan dan Kekuatan Hidup

Shalat memberikan ketenangan batin, menguatkan hati dalam menghadapi ujian, dan menjadi penopang spiritual bagi orang beriman.

 

6. Kesimpulan

Shalat bukan sekadar kewajiban ritual, tetapi merupakan mi‘raj orang beriman—sarana untuk naik secara spiritual, mendekat kepada Allah, dan memperbaiki kualitas iman serta amal. HB 🕋🌈